<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065</id><updated>2011-07-28T08:44:10.415-07:00</updated><title type='text'>diminished7</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116703490819196250</id><published>2006-12-25T00:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T22:23:22.626-08:00</updated><title type='text'>encore #3</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v258/deviucing/encore3_small.jpg" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" height="360" width="256" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116703490819196250?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116703490819196250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116703490819196250' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116703490819196250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116703490819196250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/encore-3.html' title='encore #3'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116555484471226457</id><published>2006-12-18T21:11:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T22:44:33.866-08:00</updated><title type='text'>encore#2 is out now</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v258/deviucing/COVERENCORE2.jpg" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" height="320" width="225" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;ENCORE #2 IS OUT NOW&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116555484471226457?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116555484471226457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116555484471226457' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116555484471226457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116555484471226457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/encore2-is-out-now.html' title='encore#2 is out now'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643167575079265</id><published>2006-12-18T00:40:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:47:55.920-08:00</updated><title type='text'>White Shoes and The Couples Company Goes To Bangkok!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;White Shoes and The Couples Company Goes To Bangkok!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui 3,5 jam perjalanan melalui Thai Airlines, akhirnya kami tiba di Bangkok. Tepatnya di Bandara Internasional Svarnabhumi (Land of Gold), seketika juga rasa lelah selama perjalanan hilang karena melihat kemegahan salah satu airport terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami disambut dengan ramah dan hangat oleh panitia dari Melody of Life dan menurut gue ini sambutan yang sangat eksklusif bagi White Shoes and The Couples Company (WSATCC), karena kita dijemput menggunakan 2 buah mini bus mercy yang sangat wahh! Norak banget kita deh pokoknya, soalnya jarang-jarang banget nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan dari airport menuju ke hotel kami selalu melihat pemandangan di mana semua orang mengenakan baju kuning. Ternyata menurut LO kita, Palm, ternyata Senin adalah hari kelahiran sang raja thailand, Bumibol Abdulyadez. Untuk menyatakan rasa cinta kepada sang raja maka mereka selalu mengenakan baju berwarna kuning dengan emblem kerajaan dan dengan slogan "LONG LIVE THE KING".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melihat-lihat keadaan di kota Bangkok waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, tak terasa kami sudah tiba di Florida Hotel yang terletak di jalan Phaya&lt;br /&gt;Thai Road. Sebuah hotel yang sangat vintage di kawasan distrik modern, kunci kamar hotelnya pun seperti kunci biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata itu memang hotel tua yang dibangun di tahun 70-an, dan tidak berubah sampai sekarang. Yang lucu adalah di kartu nama hotel pun tertulis "FLORIDA HOTEL, A MODERN HOTEL IN BANGKOK". Well, hotel ini mungkin memang modern di tahun 70-an, tapi tidak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berisitirahat sebentar, kami pun langsung menuju ke Spoon Restaurant yang terletak di jalan Saladaeng untuk perjamuan makan malam oleh pihak Spicy Disc (panitia yang mengundang WSATCC) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di sini juga tersedia sebuah space dari Spicy Disc untuk menjual berbagai macam cd dan merchandise dengan harga yang sangat murah, hehehe belanja bokk!&lt;br /&gt;Setelah itu, kami mendapatkan undangan dari DJ Nor untuk melihat atau menyaksikan dia ber-DJ di sebuah klub di kawasan Rama IX road yang merupakan kawasan dugem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini acara bebas. Maka gua memanfaatkan waktu kosong ini untuk berjalan-jalan bersama istriku and John menuju ke kedutaan besar Indonesia guna menanyakan sebuah map. Terus baru kita ke Pratunam Market. Tempat ini adalah sebuah traditional market yang menjual segala pernak-pernik dari mulai t-shirt sampai peralatan berat dengan harga yang sangat murah dikarenakan tidak adanya turis yang datang ke sini. Menurut instruksi dari Tuan Ameng, kami harus kumpul di hotel tepat pukul lima sore. Tapi ada kejadian yang sedikit menjengkelkan. Gara-gara ulah sok tau John, kami tersesat. &lt;br /&gt;Alhasil waktu kita untuk kembali ke hotel menjadi tersendat, sedikit hopeless akhirnya saya bertanya pada sopir tuk-tuk (bajaj tradisional) untuk mengantarkan kami ke hotel Florida dengan dikenakan biaya 60 baht. Akhirnya kami sampai! Dan malamnya kami pergi menuju ke Khaosan Road. Ini adalah surga bagi para backpackers karena hampir semua backpackers berkumpul di sini. Khaosan Road juga tempat penjualan dan bar and restoran. Mungkin kamu kalau masih ingat, tempat ini ada pada film The Beach..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana, kami menuju ke restoran, di sini disajikan belalang goreng, dan Lili dan John memakannya. Setelah selesai makan malam, kami belanja lagi! Yang menarik dengan Bangkok adalah selain barangnya murah dan bagus-bagus, penjualnya pun "bagus-bagus". Itu yang membuat hati saya senang untuk menawar barang selama-lamanya. Akhirnya setelah kumpul, kami pun kembali ke hotel dengan menggunakan tuk-tuk sambil menikmati indahnya malam di Bangkok tanpa kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya sih masih ngantuk, tapi Tuan Indra Ameng mengharuskan kita untuk sarapan di hotel sambil merencanakan apa yang akan kita lakukan nanti. Ini adalah hari yang sangat gua nantikan karena hari ini WSATCC akan melakukan sebuah perform dengan set yang berbeda yaitu akustik session di Spoon Restaurant dan kami akan bermain bersama local indie band called Bear Garden dan untuk pertama kalinya dapat melihat audience kota Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum kami semua mulai perform di sana, kami bersama berunding untuk pergi mengunjungi night market Patpong. Kami semua tetap berangkat ke sana melalui BTS (sky train), melalui stasiun Phaya Thai menuju ke stasiun Ploenchiet, dan akhirnya kita pun sampai di Patpong. Seperti dugaan saya keadaannya sepi dan hanya beberapa toko yang buka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam enam sore kami pun tiba di Spoon untuk melakukan sound check, dan ternyata enak banget. Karena kali ini WSATCC dibantu oleh seorang musisi senior, front man dari sebuah band jazz bernama Simak Dialog. Yah, dia adalah seorang Riza Arshad di divisi sound engineer. Tampak sekali tidak ada masalah yang berarti&lt;br /&gt;dalam sound check kami. Dan kami juga dibantu oleh seorang additional musician bernama Donny Hermawan, pada klarinet dan saxs. Bagi saya dia adalah salah satu pemain klarinet terbaik di Indonesia. I love you, Donny! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 9.30 acara dimulai. Acara yang bertitel Bear in White Shoes Live, dimulai oleh Bear Garden yang membawakan enam atau tujuh lagu yang dua diantaranya saya pernah mendengarkan di myspace, which called "La La is Love" dan "Hot",&lt;br /&gt;keduanya menjadi favorit saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas melihat performa dari Bear Garden tiba giliran WSATCC naik ke atas panggung. Pada performa kali ini, WSATCC akan memainkan tujuh repertoar yang dimulai dengan "Nothing To Fear" versi baru, dan pada performance kali ini. WSATCC membawakan cover version dari lagu "Coklat" (Pure Saturday), "I Found Love" (The Free Design), dan "Aksi Kucing" (Oe Yok Siang), dan beberapa lagu sendiri, diantaranya "Tentang Cita", "Kapiten dan Gadis Desa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba pada lagu terakhir yaitu "Aksi Kucing" yang akan menutup performa pada malam itu, tetapi tentunya sebuah encore terdengar. Kami terkejut ketika para&lt;br /&gt;audience Bangkok meneriakkan judul lagu "Windu Defrina" dan "Runaway Song".&lt;br /&gt;Jadi akhirnya kami memainkan lagu "Windu Defrina" lalu mereka masih meneriakkan "Topstar..Topstar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahat sepertinya kalau tidak memberikan satu lagu untuk mereka. Jadilah "Topstar" sebagai penutup. Maka selesailah performance WSATCC pada malam itu, yang menurut kita terhitung sedikit memuaskan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan DJ-Djan mengingatkan kita pada masa-masa kejayaan Parc. Djnya Rio, Sari, Ale dan dari Thailand Dj Nor, (Universal Sound). Lalu kita kembali ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sarapan di Restoran Tampa, kami kembali ke kamar masing-masing. Karena kamar gua dan kamar Sari bersebelahan dan mempunyai connecting door di dalamnya, maka setiap sehabis sarapan atau bepergian gua selalu membuka connecting door dan ternyata terjadi sebuah hal yang tidak mengenakkan karena ternyata dompet Sari telah hilang disaat kami semua sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dompet itu berisi sebuah tiket pesawat dan kartu keimigrasian yang pasti akan sangat susah ngurusnya. Alhasil kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya batal karena sebagian dari kami harus mengurus ke kantor polisi dengan dibantu oleh LO kita, Saudara Palm. Setelah semua selesai, kita langsung menuju ke Fat Radio yang terletak Royal City Avenue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula gua berpikiran bahwa kita akan bermain akustik set seperti kebanyakan radio lainnya di Jakarta. Tapi ternyata itu semua berubah, kita bermain layaknya berada di studio rekaman 24 track lengkap dengan peralatan sound yang canggih dan keren. WSATCC merekam empat lagu untuk Fat Radio di antaranya "Windu Defrina", "Sunday Memory Lane", "Senandung Maaf", dan satu buah lagu cover version berjudul "Mesin Waktu" dari Naif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam enam sore, kami langsung bergegas pulang ke hotel untuk membawa pakaian untuk live interview dan akustik session di&lt;br /&gt;MTV Thailand pada malam harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk live interview dan accustic session MTV Thai WSATCC membawakan dua buah lagu yaitu "Sunday Memory Lane" dan "Windu Defrina". Di tengah-tengah wawancara, VJ-nya memberitahu kami, bahwa video klip WSATCC akan diputar. Ternyata, sebelumnya, video klip WSATCC memang lumayan sering diputar di MTV Thai. Hehehe.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selesai dari MTV, kami melanjutkan perjalanan kami ke Patpong Night Market untuk belanja beberapa kaus t-shirt film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak panitia merencanakan untuk pindah hotel, karena ketakutan akan kehilangan-kehilangan yang tidak diinginkan akhirnya kami pun menuruti saran dari panitia untuk pindah hotel .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 1 siang kita di jemput oleh panitia untuk pindah ke sebuah hotel yang bernama Chateu de Bangkok di bilangan jalan Ruam Rudi 1 Ploencit Lumpini.&lt;br /&gt;Sebuah hotel yang sangat mewah dengan interior khas eropa heehuheekkkk. Tetapi sebelumnya kami melakukan beberapa photo session di hotel Florida. Sesampainya di hotel yang baru kita semua langsung beristirahat di kamar masing-masing karena pada malam harinya kami semua harus mengikuti sebuah acara seremonial untuk pembukaan dari Melody of Life yang bertempat di Central World Plaza .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kita sarapan di Paparazi. Lumayan, karena kita sudah bosen dengan menu sosis lagi, sosis lagi. Yang spesial di pagi ini adalah karena kita sarapan bersama Orwel sebuah band indie pop yang berasal dari Perancis, dan ternyata orang-orangnya sangat ramah-ramah sekali .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan kita harus melakukan sound check yang dijadwalkan pada pukul 12 siang. Yah hari yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga, gak sabar mau cepet-cepet sampe ke venue untuk melakukan sound check .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sound check WSATCC kali ini dibantu oleh Tn.Riza Arshad, Jarot serta Miss Lily dan semua berjalan sempurna. Kami semua terkagum-kagum oleh kesigapan dari stage manager beserta para crewnya. Apapun yang kita keluhkan langsung disigapi secara profesional dan masing-masing dari personel mendapat jatah crew 1 orang untuk membantu kami di stage .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sound check, gue, Mela dan Ale melakukan sedikit sesi pelemasan badan menikmati Jacuzzi selama beberapa jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 8 malam akhirnya kami pun bergegas ke lobi hotel karena pihak panitia menunggu. Sesampainya di venue kami langsung menuju ke backstage di mana band yang main pada saat itu adalah "Aparterment Khunpha".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah gaya berpakaian vokalis nya mengingatkan gue pada seorang Jimi Upstairs. Celana merah merecet plus sepatu All Star.  Lagi asyik ngeliat performance dari "Aparterment Khunpha" tiba-tiba terdengar suara orang berteriak "WSATCC mau foto dong!" Kita semua kaget. Akhirnya kita ketemu sama orang Indonesia hehehehhehehuehueekk Wah senangnya tak terkira akhirnya UHUYY!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya kita harus naek ke stage. dengan perasaan sedikit gugup kami menaiki stage yang megah. Yak lanjut langsung aja "Intro" disambung dengan "Sabda Alam", "Kapiten dan Gadis desa", "Sunday Memory Lane". Total WSATCC memainkan sekitar 12 lagu dan kami bermain sangat rileks sekali mungkin aura yang di keluarkan oleh kami sedang pada puncaknya pada malam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah mudah-mudahan kami meninggalkan kesan yang mendalam pada audiens di Bangkok. Akhirnya tugas sudah selesai di laksanakan setidaknya kami puas akan pertunjukan malam ini. Dan itu semua tak lepas dari bantuan dari Tn. Indra Ameng as our Manager , Tn.Riza Arshad, Mas Jarot, Miss Lily, our additional musician Dony dan tentunya kepada Palm dan Dj Nor .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai maen kami semua di haruskan mengikuti sebuah party di spoon restorant bersama para musisi dan band pengisi dari festival Melody of Life. Ini adalah party yang sangat gokil sekali semua berbaur menjadi satu hingga pukul 5 pagi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketujuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang paling kami nanti-nantikan, karena kami akan pergi untuk berbelanja ke sebuah pasar yang sangat legendaris. Hehheheee ya itu adalah CATUCAK Weekend&lt;br /&gt;Market, ya pasar ini cuma buka pada ari Sabtu dan Minggu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua berangkat dari hotel pada pukul 12  siang menuju Catucak dengan menaiki skytrain dari stasiun Ploenchiet menuju ke stasiun trakhir ke arah utara&lt;br /&gt;Bangkok. Dan ternyata pasar Catucak itu gede banget akhirnya kami semua berpencar karena udah gak tahan mau belanja huheueekkk dan tidak lupa untuk berkumpul lagi di Clock Tower pada pukul 5 sore . Puas belanja-belanja akhirnya kita semua pulang ke hotel dengan rasa senang plus sedih karena besok pagi-pagi sekali kita haru s menuju ke Airport..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ok sekian yaaaa "Selamat tinggal di laen kesempatan" ehuheuheekkkk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ricky Surya Virgana)&lt;br /&gt;Penulis adalah bassis dari White Shoes and The Couples Company&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643167575079265?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643167575079265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643167575079265' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643167575079265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643167575079265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/white-shoes-and-couples-company-goes.html' title='White Shoes and The Couples Company Goes To Bangkok!'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643119499082464</id><published>2006-12-18T00:37:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:39:55.043-08:00</updated><title type='text'>Polipanic Room</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Making of Polipanic Room&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artist  : Polyester Embassy&lt;br /&gt;Song  : Polipanic Room&lt;br /&gt;Director : Henry Foundation&lt;br /&gt;Time  : Monday, Sept 4th 2006&lt;br /&gt;Location : Marin's residence (FFWD)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batman Returns!&lt;br /&gt;Yeah, sutradara peraih Anugerah Video Musik Indosiar 2006 untuk kategori Best Indie Video ini, sekarang tidak sedang menjadi vokalis. Betmen menjalani profesi awalnya sebagai clip maker. Selepas dari The Jadugar, dia membangun Henry Foundation Video Factory (HFVF). Polyester Embassy pun memilih Henry aka Betmen untuk menggarap video klip perdana mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan syuting dilakukan sejak pukul 07.00. Take pertama pun mulai pukul 09.00. Konsep video kali ini ialah band profile, mengingat Polipanic Room menjadi single perdana di album pertama Polyester Embassy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu personel mendapat giliran beraksi. Pertama, sang drummer, Givarie, menggebuk drumnya sambil menundukkan kepala (bukan mengheningkan cipta loh hehe..). Suasana muram menghiasi wajah personel Polyester Embassy. Betmen menghitung ketukan drum pada musik dengan jemarinya. Mengingatkan saya bahwa dia mantan drummer Clubeighties hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik perhatian saya ketika di sekeliling kaki Elang (vokal) dipasang lampu kelap-kelip oleh Oomleo yang menjadi kru saat itu. Kamera pun bergerak tilt up dari kaki ke atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, duo Goodnight Electric rupanya!" ujar Marin. "Bagaimana, cukup vintage gak rumahnya?" Tanya Marin pada sang sutradara. Memang, interior dalam rumah itu cukup antik, Hanya ada sedikit yang mengganggu saya. Lampu neon yang dipasang di chandelier membuat nuansa retro-nya sedikit hilang hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesannya mereka ada di sebuah ruangan Polyester Embassy," tutur Betmen ketika menjelaskan konsep video klip ini. Tentunya, stillife sekitar mereka pun tak luput jadi fokus utama. Detail shot pada barang-barang, seperti buku-buku dan kamera antik menjadi sasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, walau konsep band profile, Polyester Embassy tidak bermain bersama dalam satu scene. Adegan diambil perorang atau maksimal hanya dua orang. Saat berdua pun, Ekky dan Givarie tidak sedang memainkan alat musik. Mereka hanya duduk saja. Awalnya, saya ke sana untuk mengambil foto Polyester Embassy. Saya memanfaatkan jeda syuting saat pindah lokasi untuk melakukan pemotretan. Betmen pun ikut mengabadikan mereka dengan kamera Polaroid yang menjadi properti syuting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat syuting berakhir waktu menunjukkan pukul 17.00. Yup, it's a wrap! Hei, kalian di luar sana, tunggu klip ini wira-wiri di televisi! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(aline)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643119499082464?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643119499082464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643119499082464' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643119499082464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643119499082464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/polipanic-room.html' title='Polipanic Room'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643100728064160</id><published>2006-12-18T00:30:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:38:19.456-08:00</updated><title type='text'>Sar*</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sar*: "I'm loud, rude, vulgar, violent, I just don't give a fuck!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit mendung menggantung di Jakarta, disertai hawa panas dan lembab. Hmm, sungguh tidak nyaman sekali. Alih-alih keluar rumah, mungkin kebanyakan orang lebih memilih untuk berleha-leha di rumah. Tapi tidak demikian dengan saya. Ada janji penting dengan seorang perempuan belia yang tidak bisa dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (31/10), sekira pukul dua siang, kami bertemu di ak'sara bookstore and cafe, Kemang. Perempuan kurus berkulit putih pucat itu datang bersama teman-temannya, rambutnya yang coklat panjang dan ber-highlight pink dihiasi jepit Hello Kitty mengintip dari sela-sela capuchon birunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hello Kitty? Ya, kamu tidak salah baca. Perempuan yang dikenal sebagai vokalis band hardcore Jakarta ini, memang penggemar berat segala pernik bernuansa Hello Kitty. Hei, selalu ada sisi lembut di dalam jiwa yang gahar bukan! Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya menunduk terus menerus dan dengan ringan dia menjatuhkan badannya di sofa. Dia memilih untuk duduk di ujung yang berjauhan dengan saya. Sesaat saya bingung dengan perilakunya ini, "Apakah dia sedang bad mood?" pikir saya. Lalu saya pun bertanya apakah dia ingin memesan makanan atau minuman. Kepalanya menengok sedikit ke arah saya, lalu dia menjawab malu-malu, "Enggak." Dan dia pun kembali menunduk, aneh sekali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes dan tape recorder pun saya keluarkan dari tas, ternyata dia mengerti isyarat saya, (bahwa wawancara akan segera dimulai) dan dia langsung duduk tegak. Saya meminta dia mengisi biodata di notes saya, hmm.. ternyata dia kidal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sar* Ashley Benett. Demikian dia menulis namanya di notes saya, ya lengkap dengan tanda bintang di atasnya. "It is actually a tribute for my friend, his real name is Star and he died two years ago because of drugs overdose," ujar perempuan indo Australia ini. Okay..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini juga yang membuat Sar* memilih untuk hidup straight edge. Yang jelas, Sar* tidak suka memanggil dirinya sebagai seorang straight edge (sekalipun dia memang benar-benar tidak merokok, minum alkohol, apalagi drugs). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I don't like calling myself that anymore, coz that a lot of kids in Jakarta who says that they are straight edge, tapi sekali-kali minum juga. Itu sih bukan straight edge!" tegas pengagum Jonathan Davis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, jawaban di atas bukan hasil terjemahan asal-asalan saya. Sar* memang lebih nyaman mengobrol dengan bahasa Inggris. Gara-gara ini, Sar* sempat dicap sombong oleh sebagian orang. Apakah benar seorang Sar* tidak mau berbicara dalam bahasa Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No. That's not true!" tegas Sar* agak terkejut dengan nada tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, menurut alumni Jakarta International School, bahasa ibunya memang bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya benar-benar parah. Padahal menurut pengakuannya, hidup Sar* lebih banyak dihabiskan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"When I first started with DEADMAYA, sometimes we don't understand each other. But I talk to everyone, even if they don't talk English."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sar* mengaku sangat pemalu, bahkan pada saat dia masih bersekolah, dia sering merasa dirinya adalah orang aneh. "I'm really quite and shy, there wasn't many people like me. I was one of the very few people who listen to some certain of music, suka ngeband, and I dress differently. And because of that, people don't talk to me. They thought I was weird."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Let me see, ..some certain of music.. mungkin yang dimaksud Sar* adalah musik metal yang sering ia dengarkan. Tenang aja, Sar*.. kamu enggak sendirian koq, banyak juga orang lain yang mendengarkan musik metal seperti kamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perceraian orang tuanya sekira satu setengah tahun juga sedikit banyak membuat Sar* terpukul dan semakin pendiam. "Kejadian itu adalah salah satu hal yang paling suck dalam hidup saya," katanya. Untungnya, Sar* bertemu dengan Angga, Andika, dan Rino untuk kemudian membuat sebuah band bernama DEADMAYA yang diakui Sar* sangat mempengaruhi hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I go through all of that (perceraian, Red) with writing music a lot. Kalau tidak ada band saya, mungkin saya tidak akan bisa mengontrol situasi di sekitar saya. I wouldn't be happy." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kakaknya, Didit, yang bertanggung jawab atas kecintaan Sar* terhadap musik metal. "Waktu kecil, kakak saya yang mencekoki saya dengan Nirvana, Beastie Boys dll. Dia juga ngeband, he was a drummer. Saya pernah lihat dia manggung di Dufan dan saya benar-benar terpesona, I was just like 'Wow! I wanna be like him someday!' hehehe.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mengaku cinta dengan musik metal, saat ini Sar* sedang suka-sukanya dengan bunyi-bunyian synthesizer alias elektronic, Goodnight Electric adalah salah satu band elektronik kesukaannya. Mendengar ini, saya pun menanyakan sebuah pilihan, apakah dia lebih memilih electronic-pop boy or hardcore metal boy as a boyfriend. Muka Sar* mendadak memerah dan sambil tertawa lepas ia menjawab lugas, "I don't know! It depends on the guy, not the type of music that he plays. Hahaha.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya menawarkan pilihan yang lebih jelas, antara Bob Marley dan Mick Jagger. Sar* terdiam beberapa saat, lalu dia pun menjawab, "Bob Marley because.. No, I pick Mick Jagger because he is sexy. But then if Mick Jagger can have Bob Marley's attitude, hmm.. I think that's a perfect man."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara, Sar* berkali-kali menyebut dirinya sebagai geek. Tapi sekarang, Sar* mengaku dirinya banyak berubah. Apalagi ketika berada di atas panggung bersama DEADMAYA, she's tottally change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'm a different person at stage. I'm loud, rude, vulgar, violent, I just like.. don't give a fuck."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sar* tetap seorang pemalu. Buktinya, Sar* lebih nyaman menyanyi dengan poni terurai menutupi mata. "First time I perform I was just like so nervous, so you know I just like.. close your eyes so you don't see everyone. I don't know, but it helps and it is the way I'm on stage!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat kamu, laki-laki di luar sana yang belum sempat melihat aksi Sar* di panggung, maka segeralah datangi gigs DEADMAYA di manapun berada. Karena, sebentar lagi, Sar* akan pergi ke Australia untuk kuliah. Wah, lalu gimana dengan DEADMAYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I don't know.." ucapnya pasrah dengan mimik muka yang lucu. &lt;br /&gt;"..well, I'm not really sure, I'm leaving to Australia because my dad wants me to go to  university there. But if I don't like there, I could still come back here. DEADMAYA akan selalu ada. Hanya vakum sebentar saja," urai penggemar Bakmi Ayam Gajah Mada ini. Pffuuiih, thank's God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah wawancara berakhir, Sar* sempat memekik kegirangan ketika mendengar dari Rino (drummer DEADMAYA) mengenai gigs mereka selanjutnya di Bandung, di mana rencananya mereka akan satu panggung dengan Tika. "Oh my God, saya suka Tika!" ucapnya. Saya hanya bisa tertawa melihat Sar* yang pemalu mendadak seperti ABG yang kegirangan bertemu idola. Ternyata, di balik musik kerasnya, Sar* masih tetap seorang remaja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*special thanks to Sazki and Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Astrid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643100728064160?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643100728064160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643100728064160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643100728064160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643100728064160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/sar.html' title='Sar*'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643049164432008</id><published>2006-12-18T00:26:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:29:38.946-08:00</updated><title type='text'>Romantic Waltz #4</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Romantic Waltz #4&lt;br /&gt;An Acoustic Journey To The Past&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan musik syahdu, pijar lampu nan temaram, dan karangan bunga. Yeah, kalau tiga hal tadi ditambah dengan kehadiran pasangan tercinta, tentu malam di romantic waltz ini akan tambah indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tidak semua bisa kalian dapatkan di sini, terlebih bagi yang tidak punya pasangan. Ups, bukan bermaksud menyindir mereka yang jomblo. Di Sky Bizcafe -tempat acara ini diselenggarakan- atmosfer remang-remang yang ada kurang cocok untuk bermesraan, walaupun lightingnya sudah disetel agar tampak temaram. Fortunately, we've got something romantic that night. Yap! The romantic music!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jumat (15/9) malam itu, tampil band-band yang terkenal membawakan lagu-lagu bernada manis. Ada Maymelian yang mengusung gaya oldies saat manggung, duo Joseph Saryuf dan Anindita yang tergabung dalam Santa Monica, Ballads of The Cliche yang akan mengeluarkan full album pertamanya, band asal Yogyakarta: The Monophones, dan Mocca (oh come on, you know who they are!). Rata-rata semua band tadi tampil dengan manis, semanis lagu-lagu yang mereka bawakan. Kendati begitu, beberapa kali sempat terdengar gangguan sound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Romantic Waltz kali ini, hadir Acum si vokalis Bangku Taman. Kedatangan vokalis band asal Yogyakarta ini bukan semata-mata untuk menonton saja. Dia juga hadir untuk tampil bareng dua band pengisi acara ini, yaitu Ballads of The Cliche dan The Monophones. Lucu juga. Sepertinya semua band ingin berkolaborasi dengan Acum, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band-band berkualitas sudah dimunculkan. Hadiah-hadiah juga sudah dibagikan. Tapi kenapa ya, penontonnya terlihat pasif dan tidak semangat? Padahal, jumlah orang yang datang cukup banyak. Apakah ini karena mereka kurang tertarik dengan musik yang ditampilkan? Atau mereka terlalu terhanyut dengan tema romantic yang diusung acara itu? Entahlah mungkin benar yang dibilang orang-orang mengenai penonton Bandung yang kebanyakan mikir, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas hingga Mocca membawakan tembang terakhirnya yang berjudul Happy, penonton hanya duduk dengan manis di tempatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka baru bergerak setelah MC mengucapkan salam perpisahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tetta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643049164432008?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643049164432008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643049164432008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643049164432008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643049164432008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/romantic-waltz-4.html' title='Romantic Waltz #4'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643037154520626</id><published>2006-12-18T00:25:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:28:55.376-08:00</updated><title type='text'>Buka Bareng Prambors dan Anak Panti Asuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buka Bareng Prambors dan Anak Panti Asuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan, yang namanya musisi seolah ikut berpuasa juga karena jarangnya acara musik. Bulan Ramadhan juga menjadi ajang tersendiri untuk berlomba-lomba mengumpulkan amal dan pahala. Tak heran banyak acara amal digelar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah acara yang diadakan oleh Radio Prambors Bandung, Jumat (13/10) lalu. Bertempat di Hotel Grand Hyatt, acara ini mengundang anak-anak dari panti asuhan Al-Hilal untuk berbuka puasa bersama. Selain itu acara juga dimeriahkan oleh penampilan dari Peterpan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band yang sudah lama nggak kedengeran kabarnya itu mampu menghibur para undangan dengan tampil akustikan membawakan 4 lagu, meskipun minus dua personilnya, Indra dan Andika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perform dari Peterpan dan tanya jawab tentang ibadah puasa, akhirnya adzan maghrib yang ditunggu-tunggu berkumandang. Semua langsung menyerbu beranekaragam hidangan yang sudah disediakan, dari mulai tajil kolak dan jajanan pasar yang manis-manis, sampai nasi liwet dan ayam bakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat maghrib dan makan, MC menggelar games bagi anak-anak panti asuhan. Gamesnya adalah menyanyikan lagu dari Peterpan. Wah, ternyata anak-anak zaman sekarang pada hapal ya semua lagu mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan mereka saja yang diberi hadiah, sebelum pulang semua anak diberi goodybag. Dan akhirnya acara pun selesai. Yippie! Mudah-mudahan 11 bulan lainnya, anak-anak tadi enggak lantas dilupakan, ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(devishanty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643037154520626?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643037154520626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643037154520626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643037154520626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643037154520626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/buka-bareng-prambors-dan-anak-panti.html' title='Buka Bareng Prambors dan Anak Panti Asuhan'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643028149938269</id><published>2006-12-18T00:23:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:29:52.916-08:00</updated><title type='text'>Inspirational Nadia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inspirational Nadia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vokalis dari Inspirational Joni yang selalu tampil enerjik di panggung ini memiliki nama lengkap yang cukup panjang, tapi katanya tulis saja Shareefa Nadia. Lebih panjangnya lagi, berbau-bau Arab gitu. Hehe, gak banyak memang yang tau kalau Nadia ada turunan Arab dari bokapnya. Gak percaya juga, soalnya gak ada tampang-tampangnya, ya? Interview di bawah ini bertempat di kosannya Nadia di daerah Cigadung. Kamar dan lemari pakaiannya rapi sekali dan tertata rapi. Cewek yang berkuliah di Fisip Unpad ini mengaku perfeksionis. Let's see if she's perfectionist too when it comes to fashion.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fashion for me&lt;br /&gt;Pendongkrak penampilan! Hehe.. itu aset sebenernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stage vs Daily Display&lt;br /&gt;Beda lah. Kalo manggung kan pake kostum, lagian harus nyamain juga sama anak-anak yang laen. Terus sekarang Joni (panggilan Nadia buat bandnya) udah punya fashion stylist gitu, jadi tau-tau udah ada deh. Kadang belanja bareng juga, Nadia tinggal tunjuk-tunjuk aja mau yang mana nanti dia yang nawarin. Soalnya Nadia ga tegaan buat nawar. Kalo sehari-hari suka berubah-ubah, gimana lagi sukanya aja. Kadang bisa feminin banget, kadang bisa tomboy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Get It From..&lt;br /&gt;Dimana-mana sih, kalo ada yang lucu ya beli aja. Termasuk laper mata juga suka beli-beli yang nggak penting. Hmm, seringnya sih ke Sentra Kampus, Gedebage, Est. Di Jakarta, Pasar Baru sama Plaza Semanggi. Kalo kaos-kaos band gitu banyaknya di Hanura Craft, Ambasador. Waktu di Makasar ada tuh kaya Gedebage gitu tapi lebih luas lagi. Namanya Cakar. Murah-murah banget, ada yang seribuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Role Model&lt;br /&gt;Ga ada. Malah suka sama Sigi Wimala, tapi itu juga ga ngikutin. Suka liat gayanya aja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hairdo&lt;br /&gt;Ini gaya asimetris tapi udah panjang jadi ga terlalu keliatan. Motongnya sendiri. Hehe, udah biasa juga motongin rambut temen. Kemaren abis diitemin, sama lagi pengen dipanjangin nih. Abisan banyak yang bilang "Adiknya Qibil (Changcuters) ya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Flair In Three Words&lt;br /&gt;Fashion suka-suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(devishanty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643028149938269?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643028149938269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643028149938269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643028149938269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643028149938269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/inspirational-nadia.html' title='Inspirational Nadia'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116643016573088066</id><published>2006-12-18T00:17:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:22:45.786-08:00</updated><title type='text'>KUBURAN VS SEKARWATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KUBURAN VS SEKARWATI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua band ini beda dari yang band lainnya. Extraordinary mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kegilaan dan totalitas mereka dalam bermusik. Tampil menghibur di panggung dengan joke cerdas racikan sendiri adalah pembeda pasti mereka dengan band lawak yang menjamur saat ini. Ketika Encore mewawancarai mereka, banyak komentar dan celotehan gila yang membuat semua terpingkal-pingkal. Dan kali ini mereka membagi tawanya bersama kalian, pembaca Encore. This is KUBURAN vs SEKARWATI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KUBURAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ganti nama band, nama apa yang dipilih?&lt;br /&gt;Peterpan lah atau Peterband. Siapa tahu ketularan hokinya, kan Arielnya udah ada, si Uriel hahaha. Atau Encore Band, deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kalian memilih dangdut?&lt;br /&gt;Sebenernya kita enggak bawain dangdut. Kalaupun kita bawain dangdut kita bawainnya yang versi kita, yaitu Dangker atau Dangdut Keras. Kita lebih ngambil lagu dangdut yang sudah terkubur, dicampur dengan lagu dangdut yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa untuk satu stage dengan kalian, Maia atau Mulan?&lt;br /&gt;Wuaaah. Itu impian kita! Pengen dua-duanya, deh. Hehehe. Yah kalau harus milih sih, Mulan aja. Totalitas dan interaksinya lebih oke dengan dia. Mungkin setelah manggung, interaksinya mungkin bisa dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih milih menghibur lewat nyanyian atau menghibur lewat lawakan?&lt;br /&gt;Kita menghibur bukan melawak. Kita punya rumus sendiri, 60O musik, 60O performance, 60O muka. Jadi 180O kan? Jadi balik lagi ke awal. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditantang manggung tanpa kostum andalan dan make up, berani enggak? Terus apa yang bakal kalian sajikan?&lt;br /&gt;Pernah pas puasa kemaren. Karena kita ini band yang adapsional eh fleksibel. Pas puasa, kita jadi Gordon atau Gotik Ramadhan tanpa make up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa sering kalian nyanyiin lagu SMS?&lt;br /&gt;Sebelum SMS beken di radio-radio. Kalau manggung 17 kali, ya 17 kali dibawain. Dan pertama kali kita bawain SMS, soundnya jebol dan kita harus ganti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kalian kenapa sih lagu SMS booming banget?&lt;br /&gt;Booming gara-gara Kuburan, lah! Kita kan udah bawain dua atau tiga bulan sebelum yang lain sering bawain. Yah lagian lagu ngehe kan pasti ear catching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bangga ga begitu denger lagu SMS itu ternyata jiplakan dari lagu India?&lt;br /&gt;Enggak bangga. Cuek aja. Pokoknya mau jiplak atau enggak yang penting nada. Lagian nada cuma tujuh, wajar kalau ada kemiripan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat paling asyik buat hunting baju manggung kalian di mana?&lt;br /&gt;Kita sih ke toko plastik di Cibadak atau toko jok di Otista! Pokoknya di mana ada toko make up, toko plastik, dan toko jok kita pasti ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih mana Pancaran Sinar Petromak atau Pemuda Harapan Bangsa? &lt;br /&gt;PSP lah. Eh PHB deh, karena lagu kita ada featuring-an sama Yoga PHB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tergila apa yang pernah kalian lakuin pas manggung?&lt;br /&gt;Telat datang sampai acaranya batal. Harusnya jam sembilan, kita datang jam satu. Acara sunatan massal TV gitu deh, jadi aja semua enggak jadi disunat. Hahaha. Atau pas manggung di Cisarua, pas semua udah berangkat, taunya drummer kita ketinggalan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayak gimana sih groupies kalian?&lt;br /&gt;Yang ada di video klip "Tua-Tua Klabing". Seperti itulah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tergila apa yang pernah groupies kalian lakukan?&lt;br /&gt;Mereka itu sampai rela seminggu latihan full buat koreografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan kalian buat orang-orang yang nganggap band kalian cuma proyek becanda atau cemen?&lt;br /&gt;Kita udah ada sebelum band-band lawak itu ada dan kita beda sama mereka. Jangan samain kita sama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi orang tua kalian begitu tahu band kalian?&lt;br /&gt;Disuruh cari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band saingan kalian siapa?&lt;br /&gt;Yah kita kan band gotik nomer dua di Bandung, saingan kita ya nomer satunya itu uhm.. KOIL. Hahaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Warkop atau Srimulat? Alasannya?&lt;br /&gt;Warkop, lah. Karena joke yang mereka keluarin itu cerdas, eh tapi Warkopnya sebelum era perempuan cantik itu ya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Benyamin S atau Rhoma Irama?&lt;br /&gt;Benyamin S pastinya. Sama kayak tadi, karena dia cerdas. Lagunya yang judulnya "Superman" apa gitu, gila.. itu cerdas pisan. Kalau Rhoma Irama sih, huh sombong. Apalagi komennya pas dia dulu berantem ma Inul. Males! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Atiek CB atau Mel Shandy?&lt;br /&gt;Mel Shandy. Karena dia itu jago mengaji dan sekarang jadi saritilawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nama Silvia Saartje, apa yang terlintas di benak kalian? &lt;br /&gt;Enggak tahu. Itu siapa? Hehe enggak kenal. Kita lebih kenal Trio Macan. Oh itu kali Silverchair..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shout out!&lt;br /&gt;Pesan dari Kuburan: Kubur Makmur Pesen Satu. Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga. Budayakan bersedekah, Minimal donor darah. Yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEKARWATI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ganti nama band, nama apa yang dipilih?&lt;br /&gt;Rakes Itaw.  Soalnya itu Sekarwati dibalik. Atau mungkin Sekarwati Perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kalian memilih dangdut?&lt;br /&gt;Easy listening. Musiknya lebih merakyat. Bukan berlagak beda, tapi nawarin sesuatu yang beda dikit walaupun akhirnya dicuekin juga hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa untuk satu stage dengan kalian, Maia atau Mulan?&lt;br /&gt;Apakah ini pertanyaan psikologis atau bukan? Atau menjebak? Haha. Maia aja deh. Lebih padet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih milih menghibur lewat nyanyian atau menghibur lewat lawakan?&lt;br /&gt;Dua-duanya jadi satu. Emang kita ngelawak? Enggak lagi!  Emang aslinya begini. Serius deh. Kok kita dibilang pelawak sih? Gue sensi loh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditantang manggung tanpa kostum andalan dan make up, berani enggak? Terus apa yang bakal kalian sajikan?&lt;br /&gt;Berani! Yang nantangin ngomong apa, kita lakuin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa sering kalian nyanyiin lagu SMS?&lt;br /&gt;Kalo di panggung, gak pernah. Tapi kalo bersenandung, sering!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kalian kenapa sih lagu SMS booming banget?&lt;br /&gt;Karena beatnya cocok dengan denyut nadi manusia yang seperti metronom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bangga ga begitu denger lagu SMS itu ternyata jiplakan dari lagu India?&lt;br /&gt;Masih bangga??? Dari pertama juga enggak bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat paling asyik buat hunting baju manggung kalian di mana?&lt;br /&gt;Poncol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih mana Pancaran Sinar Petromak atau Pemuda Harapan Bangsa? &lt;br /&gt;PSP dooong! Kalo lo, PSP, PHB apa PMP? Waaa. Mendingan Mpek-mpek Palembang. Ketik C spasi D. cape deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tergila apa yang pernah kalian lakuin pas manggung?&lt;br /&gt;Pernah nyela Franky Sahilatua! Gak taunya ada orangnya. Naik dianya! (Gara-garanya) nyela, "lelet lo kaya putri solo". Haha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayak gimana sih groupies kalian?&lt;br /&gt;Kalau kita groupiesnya jadinya temen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tergila apa yang pernah groupies kalian lakukan?&lt;br /&gt;Pernah stand by di panggung. Jadi kita (mau) main, (udah) di depan aja tuh orang. Padahal yang maen masih band lain. Dieeem aja disitu. Pas kita naek, pulang dia. Pijet-pijetan karena kelamaan berdiri. Hehe. Enggak deng. Kita turun, ikut turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan kalian buat orang-orang yang nganggap band kalian cuma proyek becanda atau cemen?&lt;br /&gt;Gak apa-apa. Kan itu opini orang ya. Bebas. Tapi ketika lo tau lebih dalem, ini keliatannya kayanya asal-asalan. Asal-asalan yang continue itu ga asal-asalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi orang tua kalian begitu tahu band kalian?&lt;br /&gt;Orang tua gue aja sih bangga-bangga aja. Biasa-biasa aja. Pernah nonton di video sama di tv. Tapi kalo live, ya boro-boro! Bapak gue bangunin gue aja gak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band saingan kalian siapa?&lt;br /&gt;DEWA. Dulu kita pernah disalip sama DEWA pas mau manggung di London School. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Warkop atau Srimulat? Alasannya?&lt;br /&gt;Warkop pokoknya lah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Benyamin S atau Rhoma Irama?&lt;br /&gt;Ya Benyamin S, lah! Seniman disamain sama tukang jenggot. Itu tuh satu-satunya yang bilang kita dangdut sayap kiri lho! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih siapa Atiek CB atau Mel Shandy?&lt;br /&gt;Atiek CB lah! Belakangnya aja CB! Tau gak CB-nya apaan? Cuco Banget! Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nama Silvia Saartje, apa yang terlintas di benak kalian? &lt;br /&gt;Seksi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film apa yang wajib ditonton pas lebaran?&lt;br /&gt;Orang-orang Sinting dari PSP. Teet! (dengan gaya menekan bel ala cerdas cermat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shout out!&lt;br /&gt;Semoga lo bisa terhibur. Gitu aja. Kalo emang lo enggak terhibur, tolong kasih tau kita kurangnya apa. Lo mau apa, kita layanin. Lo jual kita beli! Kita orang kaya! Haha. Kita tawar dulu dikit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kuburan are Rully (Penyanyi Inti), Iqbal (Vokalis Utama), Urie (Pelantun Tembang), Dino (Pemukul Drummer), Raka (Pemain Gitaris), Gitar is Doni, Deni (The Bassistman), Udhe (Kubordist), Handi, Anas, dan Baksil sebagai Stage Art Guys&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tetta &amp; Astrid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116643016573088066?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116643016573088066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116643016573088066' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643016573088066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116643016573088066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/kuburan-vs-sekarwati.html' title='KUBURAN VS SEKARWATI'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642974802957470</id><published>2006-12-18T00:12:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:15:48.106-08:00</updated><title type='text'>USED MUSIC STORE</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HUNTING KASET BEKAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;USED MUSIC STORE a.k.a DU 68&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Biasanya kalo kamu tanya ke orang Bandung dimana beli kaset bekas, yang pertama terlintas adalah DU 68 (baca: de-u enam delapan) alias Jln Dipati Ukur No. 68.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Koleksi kaset bekas dijual dari harga 10 ribu sampai 30 ribu. Ada juga beberapa kaset baru yang dipajang di kotak etalase dengan harga normal (Rp 22 ribu dan sekitarnya). Selain kaset, toko yang dikelola oleh para "imigran" dari Aceh ini juga menjual piringan hitam dan laser disc film dan musik dengan harga 15 ribu sampai 100 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Thing&lt;br /&gt;Tepat di samping toko ini adalah bagian toko yang khusus menjual compact disc bekas. Harganya berkisar antara 50 ribu hingga 100 ribu. Yang istimewa, di sini tersedia boxed set alias kumpulan album pertama sampai album terakhir dari satu musisi. Misalnya Led Zeppelin The Complete Studio Recordings berisi 10 CD seharga 700 ribu, Bob Dylan seharga 1,2 juta, dan biografi Bob Marley berjudul Marley Legend yang dilengkapi 1 CD seharga 500 ribu rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Tempatnya kurang luas, jadi kalau lagi penuh, harus sabar mengantri untuk melihat-lihat koleksi kasetnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Most Wanted&lt;br /&gt;Menurut mas yang jaga, yang paling banyak dibeli adalah kaset-kaset musik beraliran rock, tapi koleksi yang terbanyak adalah kaset pop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gudang Kaset Antik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Toko ini, sesuai namanya khusus berjualan kaset antik, tepatnya di kawasan Cipaganti. Untung aja nemu tempat ini, soalnya this place itself is kinda antique. Koleksi yang dijual antik, pemutar kasetnya antik, mas-mas yang jualnya pun antik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Harga kaset di sini sekitar 12 ribu sampai 15 ribu untuk kaset Indonesia, dan 15 ribu untuk kaset luar. Ada juga beberapa kaset lama tapi baru yang dijual hanya seharga 15 ribu. Compact Disc dijual 45 ribu sampai 65 ribu, dan piringan hitam Indonesia dan Melayu seharga 15 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Things&lt;br /&gt;Gudang Kaset Antik ini khusus menjual kaset-kaset superjadul, rata-rata rilisan tahun 70an. Salah satu koleksi yang mereka banggakan adalah kaset-kaset rilisan YESS, sebuah perusahaan 'rekaman' asal Bandung tempo doeloe yang meng-compile dan merekam album-album artis luar. Sebenernya bisa dibilang ngebajak sih, tapi niat banget. Sampai-sampai bikin cover sendiri dan di covernya ditempel foto musisi tsb yang kayaknya ngegunting dari majalah. Hehe. &lt;br /&gt;But it's very collectible. Dan katanya mereka 'membajak' menggunakan pita Maxwell yang mana pada taun 70an tuh udah paling canggih dan sampe sekarang kualitas rekamannya masih bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Meskipun antik, tapi jangan heran kalau di sini kamu nemu kaset Peterpan, Suede, dan beberapa kaset yang belum tergolong antik. Mas Rizal bilang, sejak berdiri 2 bulan yang lalu, mereka cuman jual kaset antik. Tapi suatu hari ada anak-anak SMA yang datang dan nanya, "Mas, ada Oasis?". Sejak saat itulah Gudang Kaset Antik terpaksa memenuhi permintaan pasar dengan berjualan kaset-kaset modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most Wanted&lt;br /&gt;Ya kaset super jadul itu itu, dan menurut Mas Rizal yang lagi jaga toko, konsumen mereka kebanyakan memang bapak-bapak dan ibu-ibu yang hidup di jaman kejayaan YESS yang ingin bernostalgia. Halah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bursa Musik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Tempat ini sebenernya terkenal, tapi agak susah nyarinya karena letaknya ada di dalam sebuah gedung di Jalan Asia Afrika. Cari aja kantor pos pusat di jalan Asia Afrika, dan ngga jauh dari situ ada satu bangunan yang namanya Dezon. Bangunan ini dipakai untuk jualan baju ala Pasar Gedebage, dan agak ke dalam sedikit kamu bakal nemu satu pojokan full music dan penuh poster, yang biasanya rame oleh pengunjung yang nyari kaset bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Harga piringan hitam Indonesia 20 ribu,  yang luar mulai 25 ribu sampai 100 ribu. Sedangkan harga kaset sama dengan di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Things&lt;br /&gt;Koleksi toko yang udah berdiri selama 2 tahun ini sejenis dengan koleksi di Gudang Kaset Antik, tapi agak lebih ngerock. Hehe. Di sini juga koleksi piringan hitamnya lebih lengkap, dari mulai Bimbo Junior (imagine that! Bimbo, tapi jaman dahulu kala waktu mereka masih anak-anak) sampai Fourtops dan The Louvin Brothers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Etalasenya agak menyulitkan untuk browsing kaset dan CD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan Dewi Sartika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan Dewi Sartika , tepatnya di depan Wartel, kamu bisa nemu banyak penjual kaset bekas. Tempat ini bisa dibilang cikal bakal toko kaset bekas yang lain, karena konon dulu sebelum DU 68 punya toko sendiri, pemiliknya jualan di jalan Dewi Sartika juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Selain kaset-kaset luar dan band-band Indonesia, di sini kita juga nemu EP-nya Jelly Belly, albumnya Puppen, Closehead, Injected, Gorgeous Smile, dan album-album lain yang biasanya kita liat di distro. Dari harga 15 ribu, setelah ditawar akhirnya jadi 12 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Thing&lt;br /&gt;Penjualnya baik karena bisa ditawar harganya, seorang teman yang ikut hunting sekalian nyari kasetnya Rolling Stones akhirnya berhasil dapet di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Kurang komplit karena enggak ada CD dan plat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan Cihapit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Berada di kawasan Cilaki, yang kalau malam hari, banyak banget tempat makan enak yang murah. Tepatnya tempat ini ada di sekitar Riau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Di Cihapit harga kaset berkisar 10 sampai 15ribu dan buat koleksi yang jarang berkisar antara 20ribu perkeping. Sedangkan CD berkisar antara 30 sampai 50ribu dan yang jarang berkisar 75ribu dan 100ribu. Kalau untuk harga DVD lain lagi, DVD berkisar 35ribu-45ribu. Yang unik di sini masih dijual PH (Piringan Hitam) dan harganya berkisar 15ribu sampai 50ribu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Things&lt;br /&gt;CD dan kaset yang dijual bermacam-macam jenis, dari musik classic rock, pop, jazz, hingga musik-musik underground pun ada. Contohnya Mas Yor, dia sudah menjual CD dan DVD underground sudah lama sekali, sekitar 10 tahunan, dan dia hanya menyediakan cd &amp; dvd yang beraliran metal saja, tetapi ada sedikit yang beraliran rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Tempatnya agak kumuh dan jarak antara penjual yang satu dengan yang lainnya berjauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Banyak Dicari&lt;br /&gt;Karena koleksinya lebih lengkap dan kualitasnya bagus, banyak pilihan (tempat jual-beli cd &amp; kaset tidak hanya satu). Selain tempat jual-beli cd dan kaset, ada juga tempat jual-beli tape, sepatu, pakaian dll. Tempatnya teduh, banyak pohon dan strategis. Adem!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan Surabaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How To Get There&lt;br /&gt;Sesuai namanya, tempat ini emang ada di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. Daerah ini masih termasuk kawasan Menteng. Tepatnya, di belakang Stasiun Cikini. Kendaraan yang lewat daerah ini, antara lain: AC 76 jurusan Ciputat-Senen, AC 08 jurusan Blok M-Pulo Gadung, Metro Mini 66 jurusan Blok M-Manggarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price List &lt;br /&gt;Karena tokonya banyak, maka harga tiap toko beda-beda. Tapi, kurang lebih standar harganya sama. Untuk kaset, harganya berkisar antara 5 sampe 10ribu. Kalau CD, kisaran harganya antara 30 sampe 90 ribu. Tergantung langka atau enggaknya itu album. Nah kalo untuk plat, harganya termasuk murah, yaitu antara 10 sampe 50 ribu. Kuncinya mah kita harus jago ngelobi abang-abangnya biar dapet murah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Good Things&lt;br /&gt;Tempatnya enak. Kios-kios di pinggir jalan raya teratur. Banyak pohonnya pula. Tempat yang enak diliat mata. Koleksi albumnya variatif. Mulai dari jazz, classic, rock, instrumen, alternative, sampe pop ada semua. Dari yang udah lawas banget ampe yang tergolong baru ada di sini. Bahkan album Jazz Masa Kini juga udah ada.  Kalo jeli dan telaten, kita bisa nemu album bagus dan langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bad Thing&lt;br /&gt;Tempatnya relatif jauh. Kalo gak punya kendaraan mesti ribet dikit. Kendaraan yang lewat sini gak terlalu banyak. Satu lagi. Karena keterbatasan tempat, pengaturan etalasenya kurang oke. Dibutuhkan kejelian dan ketelitian kalo kita pengen dapet album yang bagus.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Banyak Dicari&lt;br /&gt;Album jazz di sini tergolong banyak. Jadi, kalau mau nyari album-album jazz langka, di sini tempatnya! Oh iya, selain dikenal sebagai tempat jualan kaset/CD bekas, tempat ini juga dikenal sebagai pusat barang-barang antik di Jakarta. Di sini kita juga bisa hunting tas, koper, patung, ukir-ukiran, dan barang kerajinan khas Indonesia lainnya. Jadi jangan heran kalo kita bakal ketemu bule-bule di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendela Info!&lt;br /&gt;• Awalnya, tempat jualan CD dan kaset bekas di seluruh kota Bandung, ada di daerah Cihapit. Lalu berkembang ke daerah seperti DU 68, Cipaganti, Dewi Sartika, Dezon(Alun-Alun) dan Kopo. Pada dekade 80-90 an para penjual CD dan kaset bekas, masih terpusat di Cihapit, tetapi ketika dari awal tahun 2000-2006an mereka semua menyebar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642974802957470?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642974802957470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642974802957470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642974802957470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642974802957470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/used-music-store.html' title='USED MUSIC STORE'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642952523598524</id><published>2006-12-18T00:09:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:12:05.353-08:00</updated><title type='text'>VINCENT VEGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;VINCENT VEGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari wawancara dengan beberapa band, nama Vincent Vega berulang kali naik ke permukaan ketika kami menanyakan band baru mana yang akan naik daun. Berbekal rasa penasaran, saya pun mewawancarai band yang selalu tampil rapi di panggung itu. &lt;br /&gt;Di suatu sore, di warung dekat SMA 5 diselipi ngaret sampai setengah jam, saya pun mewawancarai Ariel, Rangga, Agung, Fikri dan M.S.N . Sampai beberapa menit wawancara saya masih meraba-raba karakter para pengisi band ini. Untung akhirnya dengan bantuan kanan-kiri saya bisa menyesuaikan ritme. Obrolan kami jadi memanjang dan melebar. Sebagian isinya, saya tuliskan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Gimana sejarah terbentuknya Vincent Vega?&lt;br /&gt;VV  :  Kita temen SMA, satu tempat nangkring lah ya. Jadi kita bikin band aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Apa yang kalian harapkan muncul di pikiran orang saat mereka mendengar nama Vincent Vega?&lt;br /&gt;VV  : Energi positif. Ini berhubungan dengan purpose of existence band itu sendiri. Jadi kita bertujuan untuk memberikan positive impact bagi masyarakat sekitar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Nama Vincent Vega kan dari Pulp Fiction. Kenapa memilih nama ini?&lt;br /&gt;VV  : Karena dia John Travolta, karena dia gagah, karena dia keren. Pokoknya karakternya bagus, kalau udah nonton Pulp Fiction pasti ngerti lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Ikut kompilasi indie fest kan? Gimana kelanjutannya?&lt;br /&gt;VV  : Udah direkam, tinggal produksi CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Album pribadi kalian sendiri gimana?&lt;br /&gt;VV  : Sebelum Indie Fest sebenarnya kita udah mau bikin EP. Tapi karena ikut indie fest jadi bakal nunggu samapai promonya selesai, sekitar awal tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Dengan label apa?&lt;br /&gt;VV  : Siapapun. Demo kita sendiri cuma ada di Fast Forward dan katanya harus ngantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Di beberapa majalah kalian dibandingkan dengan The Changcuters, pendapat kalian gimana?&lt;br /&gt;VV  : Terima kasih atas perbandingannya. Cukup sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Sewaktu saya bertanya ke beberapa orang tentang kalian, banyak jawaban yang menyatakan kalau kalian sombong, nyebelin. Kenapa bisa muncul pendapat seperti itu?&lt;br /&gt;VV : Tak kenal maka tak sayang. Dibalikin deh pertanyaannya, emang band kayak apa yang disebut sombong? Yang menyambut dengan baik pewawancara? Atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Mungkin dari jawaban kali, ya? Karena kalian katanya suka memberikan jawaban pendek dan seenaknya.&lt;br /&gt;VV  : Balik lagi ke konteks pertanyaannya sih. Kalo pertanyaannya bisa dijawab dengan pendek dan nggak bertele-tele, kenapa harus panjang? Jadi kalau muncul pertanyaan kenapa namanya Vincent Vega? Itu kan nggak perlu dijawab panjang. Kalau jurnalis yang baik, sebelum wawancara udah nyari tau backgroundnya dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kenapa sih kalian memakai kostum di panggung?&lt;br /&gt;VV  : Biar enak dilihat. Enak dipake dan nyaman aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : gaya bernyanyi vokalisnya kenapa mumbles gitu?&lt;br /&gt;VV  : Yah, tidak ada sesuatu yang disengaja atau diset seperti itu. Keluar apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Kenapa liriknya semua dalam bahasa Inggris?&lt;br /&gt;VV  : Lebih mudah berwacana yah dalam bahasa Inggris. Membuat lirik bahasa Indonesia lebih susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Ada rencana berkolaborasi?&lt;br /&gt;VV  : Di EP nanti ada, dengan band elektronik dan female vocal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  :Pengaruh musik kalian dari siapa aja?&lt;br /&gt;VV : At The-Drive in, Interpol, Bjork, Bloc Party, masih banyak lagi lah. Masing-masing pribadi beda sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kalau musik kalian sendiri bisa digambarkan seperti apa?&lt;br /&gt;VV : Bitter noises that bring sweet memories. Hmm..Apa lagi ya? Berdistorsi, romantis, nggak belah pinggir dan teriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Duh, mau nanya apa lagi ya? (sumpah saya bingung)&lt;br /&gt;VV : Kamu nonton Almost Famous dulu deh, terus nonton Nacho Libre. Pasti kamu langsung jadi jurnalis hebat lah.  Eh, tapi kenapa ya selalu ada pertanyaan tentang Changcuters ya? Emang dari semua variabel sebuah band, apa yang bikin kita mirip Changcuters sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Lirik Vincent Vega kebanyakan bercerita tentang apa?&lt;br /&gt;VV : Semua lirik, judulnya sampai sekarang masih nama seseorang. Jadi saya selalu bercerita tentang karakter spesifik seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR   : Katanya sempat kehilangan alat, itu gimana ceritanya?&lt;br /&gt;VV  : Itu udah lama sih, sekitar bulan Juli yang lalu. Alatnya kan kita letakin di mobil, di depan rumah temen kita. Trus mobilnya dibongkar, alat kita ilang deh. Ditambah lagi abis itu ada kesialan beruntun. Ada yang otot tangannya robek, kehilangan motor, kehilangan mobil, trus semua gadget saya (Ariel) rusak. Makanya nih, bulan depan kita mau tumpengan.  Untuk mengakhiri kesialan, semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Panggung paling nyebelin di mana?&lt;br /&gt;VV  : Di acara SMA 16. Itu juga gak terlalu sih, Cuma gara-gara ada penonton yang nge-request PAS Band, waktu saya lagi intro gitar. Terus yang menyebalkan itu ya, sewaktu manggung di acaranya The Sigit, yang sesudah itu alat kita pada ilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekti The S.I.G.I.T yang kebetulan ada di lokasi wawancara, ikut mengobrol dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekti : Jadi kamu nyalahin saya?&lt;br /&gt;Ariel : Secara nggak langsung mah iya. Kalo nggak main di situ, nggak bakalan hilang.&lt;br /&gt;VV : Yang paling standart bikin sebel sih masalah sound, servis orang sound nya sendiri kadang bikin bete. Sama kalau nge-cut lagu.&lt;br /&gt;Rekti  : Nambahin ya kalau masalah sound. Saya pernah pas mereka manggung, saya lagi ada di mixing desk. Di situ kan udah ada orang sound system yang megang, nah orang sound itu kebanyakan kalau ngeliat band indie yang main, mereka nggak terlalu peduli. Sampai soundman saya nanya kenapa nggak diulik sound-nya. Si Bapaknya ngejawab "Ngapainlah? Kalau mereka kayak band Ari Lasso, baru deh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariel  : Iya, sebelnya itu.Ada diskriminasi gitu. Misalnya yah pernah kampus gue bikin acara, trus mereka punya budget kan buat band indie, nah masa’ budgetnya itu dikit banget. &lt;br /&gt;VV  : Iya, pernah juga pas di acara Om Farhan. Kita disepelekan gitu. Mulai dari pertanyaan sampai yang paling parah itu sound nya The Sigit. Kita dibilang band gombrang gombreng, dibandingin sama Krisdayanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Panggung paling menyenangkan?&lt;br /&gt;VV : Acara Traxkustik kemaren di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VV  : Oh, iya, mengomentari tulisan di Encore edisi 2 kemaren, Vincent Vega dibilang mirip The White Stripes, mirip di sebelah mananya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Wah, itu mah pendapat penonton, bukan pendapat Encore. Kita mah nulisin aja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VV  : Jauh banget kayaknya. The White Stripes? Itu kan band baru banget (??). Nggak ada mirip-miripnya. Kaya' tadi sama Changcuters. Mirip di mananya sih?&lt;br /&gt;(Kekeuh masih ngebahas Changcuters)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Eh, Vincent Vega mau nggak kalau ditawarin masuk Major?&lt;br /&gt;VV : Kita mah nggak yakin bisa konsisten kalau di major. Tuntutannya gede ya. Tapi kalau kesepakatannya bisa pas ya mungkin aja&lt;br /&gt;Rekti  : Pas dalam artian?&lt;br /&gt;VV  : Tidak merugikan yang lainnya. Tapi nggak mungkin juga ya? Negara ini teh selera pasarnya masih gitu. Selama 10 sampe 20 tahun ke depan masih gini-gini aja. Garis antara major sama indie itu masih terlalu jomplang. Persepsi yang timbul sekarang bahwa di major lu nggak bakal bisa sebebas di indie. Padahal kalau di luar mah, itu biasa aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekti : Sekarang liatnya gini, dulu sebelum pergerakan indie naik kayak sekarang, yang namanya band indie diambil major, pasti didikte. Jadi major nggak bakal berani ngambil band yang aneh karena duitnya nggak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR :Berarti indie aneh?&lt;br /&gt;VV : Sampai sekarang masih dianggap begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Yah, tapi apa kalian tidak mencoba berpikir positif bahwa musik kalian juga bisa menghasilkan uang?&lt;br /&gt;Rekti : Ya, itu harus dibuktiin dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  : Yah udah, buktiin dong!&lt;br /&gt;VV + Rekti  : Ya ini lagi berjuang!!&lt;br /&gt;Ariel : Sebenarnya mind set nya orang-orang major itu bisa berubah koq. Dari zaman 10 tahun ke belakang sampai sekarang, udah banyak perubahan menurut gua. Tergantung pasar. Dan untuk membentuk selera pasar, support media perlu banget. Gimana pasar bisa suka kalau nggak di blow-up terus? Nggak dibahas secara massive? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih panjang sisa obrolan kami. Membahas Mods, Pancasila, dan muncul slogan "Biar Miskin Asal Rapi" sampai akhirnya saya ditanya "Gimana? Masih ngerasa kami sombong gak?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi jatah halaman terbatas. Sudahi saja di sini. Wawancara yang satu ini, cukup punya warna, walaupun tak selalu cerah. Setidaknya menyenangkan karena cukup banyak tawa di sini.&lt;br /&gt;Oh, satu hal ketinggalan, Ariel bersikeras agar saya menuliskan kalimat "Pancasila itu waduk!" Yah, apapun lah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Terima kasih banyak buat Rekti dan Chacha yang melontarkan pertanyaan saat otak saya buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adinda Silitonga)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642952523598524?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642952523598524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642952523598524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642952523598524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642952523598524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/vincent-vega.html' title='VINCENT VEGA'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642919221300224</id><published>2006-12-18T00:04:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:06:32.283-08:00</updated><title type='text'>Lipgloss</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : Lipgloss &lt;br /&gt;Demo  : Pijar&lt;br /&gt;Styles  : Alternative Rock/Pop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band asal Jakarta ini sudah cukup lama berkiprah di event-event musik lokal, sejak 1998 mereka seringkali mengisi acara diberbagai festival, club, dan acara-acara musik lainnya. Band yang dulunya membawakan lagu-lagu beraliran Brit-Rock seperti Radiohead, Suede, The Cure, Pulp, Morrissey, Muse, Coldplay dll ini mencoba memperkuat eksistensi mereka dengan mengeluarkan demo yang diberi tajuk "Pijar".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demo ini menurut saya lebih cenderung menjurus pada komersialitas dan berisikan lagu-lagu yang relatif ringan dan minim inovasi dari segi sound, I guess they were aiming more for market and major listener. "Pijar" yang menjadi track pembuka sekaligus track andalan di demo ini berawal dengan intro drum yang mengingatkan kita pada "Spirit Dreams Inside"-nya L'arc~en~Ciel, bahkan vokal Agus pun terdengar sangat terpengaruh oleh gaya bernyanyi Hyde. Sebuah lagu yang menurut saya sangat cocok diputar di radio-radio yang berbasis musik mainstream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat Gin Blossoms dengan hit "Follow You Down"? Verse di track "Tidak Untukmu”"ini entah kenapa sangat mirip dengan lagu diatas. Ditengah-tengah lagu ada aransemen yang cukup menarik, bernuansa goth dengan hammond organ yang drastically merubah mood lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demo ditutup dengan acoustic version dari track "Pijar". Aransemen akustik berhasil membuat track ini terdengar lebih melodius dan 'hangat' dengan dentingan piano dan iringan synth yang sesekali muncul, vokalnya pun terasa lebih natural dan tidak dipaksakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lipgloss cukup matang secara produksi. Mixing-nya tertata rapi, dinamika pada gitar dan bass terdengar jelas, ditambah lagi dengan permainan drum yang cukup baik. Namun dari segi musikalitas Lipgloss tidak begitu berbeda dari band-band mainstream yang ada saat ini, "Pijar" memang cukup menjual, tapi aransemennya sendiri belum menunjukan identitas yang cukup unik untuk memantapkan eksitensi Lipgloss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642919221300224?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642919221300224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642919221300224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642919221300224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642919221300224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/lipgloss.html' title='Lipgloss'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642901484182525</id><published>2006-12-18T00:01:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:03:34.936-08:00</updated><title type='text'>JellyBelly</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : JellyBelly &lt;br /&gt;Demo  : Intro EP&lt;br /&gt;Styles  : Shoegaze, Dream Pop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya melihat band ini adalah di sebuah audisi festival band kampus di Bandung, dimana saya kebetulan menjadi salah satu jurinya. Back then they were doing covers from bands like Sleepers and Drugstore; they're quite good actually. Kali ini mereka muncul dengan sebuah demo yang berisikan materi-materi yang mereka tulis sendiri, which are pretty much surprising coz they've changed a lot.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;JellyBelly meninggalkan roots brit-pop dan indie-pop yang dulu menjadi ciri khas mereka. They're now moving on with more delicate direction of sonic guitar sound, dream pop-esque vocals, and whirling keyboard synth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah track instrumental yang diberi tajuk "Intro", menjadi pembuka demo ini dengan sampling environment dan petikan gitar yang lembut tipikal shoegaze, hingga kemudian temponya berubah secara absurd dan spontan mengingatkan kita pada pendekatan yang seringkali digunakan oleh Explosions In The Sky. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cahaya Hilang" terdengar seperti sebuah reprise dari track pembuka, hanya saja jeda yang terlalu lama membuatnya menjadi kehilangan momentum. This one sounds like The Milo meets Cherry Bombshell. Track-track berikutnya menawarkan konsep yang relatif sama tanpa keunikan tertentu, making listeners a little bit lost between songs. Di track "Perih" akhirnya mereka menawarkan komposisi yang lebih menarik, beat yang sedikit naik dan riff gitar yang mengingatkan kita pada Echo And The Bunnymen, cukup membangkitkan minat pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demo diakhiri dengan "Loneliness Dreamer" yang nampaknya sangat terpengaruh oleh sound-sound My Bloody Valentine. Demo ini sebenarnya bisa lebih baik lagi jika saja produksinya ditangani lebih serius, kualitas mixing-nya terdengar pincang disana-sini belum lagi permainan drum yang sesekali keluar dari temponya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak elemen yang menarik di demo ini, seperti sound gitar dan atmosfir yang diciptakannya, hanya saja lagu-lagunya terdengar seperti tematik dan berasal dari satu ide yang sama untuk kemudian dibuat beberapa versi. Nada-nada vokal yang monoton dan range yang kurang variatif menjadikan demo ini terkesan 'dingin' dan tidak begitu meninggalkan kesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642901484182525?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642901484182525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642901484182525' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642901484182525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642901484182525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/jellybelly.html' title='JellyBelly'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642884849883389</id><published>2006-12-17T23:57:00.000-08:00</published><updated>2006-12-18T00:00:48.550-08:00</updated><title type='text'>The Walkmen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : The Walkmen&lt;br /&gt;Album : A Hundred Miles Off&lt;br /&gt;Released : 2006&lt;br /&gt;Label  : Record Collection&lt;br /&gt;Styles  : Indie Rock, Southern Rock, Folk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album ketiga bagi band seperti The Walkmen yang dua album sebelumnya sukses merebut perhatian pendengar musik indie dan juga simpati para kritikus musik, tentunya akan menjadi proyek yang sangat berat sekaligus menentukan keberlangsungan karir mereka sebagai musisi. Beberapa band berhasil menjawab tantangan tersebut dan mempertahankan eksistensi mereka (See Radiohead's OK Computer or Manic Street Preachers' Everything Must Go) dan beberapa mungkin gagal dan tidak lagi mendapatkan apresiasi yang layak dari pendengarnya (See Mansun's Little Kix or The Strokes' First Impressions on Earth. Fenomena diatas mungkin paling tepat menggambarkan situasi yang dialami oleh band asal New York ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album ketiga yang bertajuk "A Hundred Miles Off", yang proses rekamannya menggunakan teknologi analog (quite rare for a band these days), menjadi geliat kreatifitas The Walkmen demi menjawab ekspektasi para pendengarnya. Masih dengan formula sound-sound gitar kaku berbasuh reverb, organ yang nyaris kabur, beat-beat unik, dan track vokal yang terbilang mentah, kali ini mereka menawarkan lagu-lagu yang lebih ringan dan santai meskipun mengangkat tema seputar kekecewaan, frustasi, dan pencarian diri yang sedikit banyak mungkin berkaitan dengan 'tergusur'-nya studio recording mereka, Marcata Studio, oleh pembangunan Columbia University.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The album starts with a great opening track, "Louisiana", dengan vibe ballad-folk yang kental. Lou-weez-e-ana sahut Leithauser, dengan vokal yang di album ini banyak terpengaruh oleh gaya bernyanyi Bob Dylan. This track becomes more alluring when the Tijuana-esque brass section kicks ini along with the upright sounding piano. Definetly a classic! (sekedar informasi, tidak ada unsur ironi di lagu ini mengingat lagu ini ditulis jauh sebelum terjadinya badai Katrina).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Danny's At The Wedding" memiliki awal yang menjanjikan, namun entah kenapa progresinya menjadi sedikit terburu-buru meskipun koordinasi bass dan drum-nya cukup solid, chord yang diulang berkali-kali menjadikan track ini amelodis dan kaku. Track selanjutnya menawarkan kebosanan yang relatif sama. Baru di "Emma, Get Me A Lemon" kita disuguhi percussion rhythm unik yang mengingatkan kita pada "The Bucket"-nya Kings of Leon, one more highlitghts of the album. "All Hands and The Cook" membawa atmosfer yang lebih gelap dengan chord-chord minor dan beat monoton dibalut organ bernuansa horror. Tetap gagal membangkitkan antusiasme yang dibangun di awal album. &lt;br /&gt;"Lost In Boston" mungkin bakal jadi karya terburuk The Walkmen, riff-riff yang mudah ditebak arahnya dan lirik yang terdengar seperti omong kosong ("Lost in Boston / Drinking rum and chocolate / A hundred thousand blinking lights / Making me exhausted") menjadikan bassline dan drumworks yang menarik terasa sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenley Town" comes as another low-point of the album, dimaksudkan untuk memberi tambahan energi untuk album ini namun hasilnya malah terdengar seperti cover-act murahan dari Dead Kennedy's. "Brandy Alexander" sedikit banyak berhasil mengembalikan vibe Americana yang seharusnya menjadi standout point album ini. Dan akhirnya "Another One Goes By" menyelamatkan A Hundred Miles Off dari label 'kebosanan total', track cover dari band seperjuangan Mazarin ini diramu dengan ke-khas-an aransemen 50’s ala The Walkmen yang setidaknya sukses meninggalkan kesan baik di akhir album. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't get me wrong, The Walkmen is one of my favorite band, kedua album terdahulu mereka cukup memuaskan kerinduan para pendengar The Velvet Underground dan Joy Division.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja kali ini mereka terkesan terlalu terpengaruh oleh Bob Dylan (terutama sang vokalis) yang menjadikan album ini terasa hambar dan kurang mewakili identitas The Walkmen sendiri. Vokal Leithauser yang seringkali off-tune, membuat suaranya jadi terkesan melawan harmonisasi yang dibangun oleh rekan-rekannya. Meskipun terdiri dari eleman yang relatif sama, hasil akhir A Hundred Miles Off bisa dibilang mengecewakan. In five years time, if I still haven't graduated yet and in need of urgent CD-sale cash, I would consider this piece on first handpick. But then the pawnshop guy would probably shrugs and asks, "Who the hell are they?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642884849883389?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642884849883389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642884849883389' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642884849883389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642884849883389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/walkmen.html' title='The Walkmen'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642861257234252</id><published>2006-12-17T23:54:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:56:52.646-08:00</updated><title type='text'>The Mars Volta</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : The Mars Volta&lt;br /&gt;Album         : Amputechture&lt;br /&gt;Released : 2006&lt;br /&gt;Label  : Universal&lt;br /&gt;Styles  : Experimental Rock, Post-Hardcore, Progressive Metal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Mars Volta kembali dengan full-length record mereka yang ketiga, dengan judul yang bahkan lebih ganjil dari dua album sebelumnya, Amputechture. Thankfully kali ini duet mastermind Omar Rodriguez-Lopez dan Cedric Bixler-Zavala tidak lagi muncul dengan sebuah concept album seperti dua album terdahulunya, De-Loused in the Comatorium (tentang visi bawah sadar seorang teman yang mengalami koma) dan Frances the Mute (diangkat dari sebuah diary misterius berisikan tentang pencarian keluarga si penulis yang hilang). It's not that concept albums are unnecessarily terrible, but it's just so damn hard to follow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album mereka kali ini bisa dibilang seperti kumpulan cerita pendek yang dibukukan daripada sebuah novel klasik yang super tebal, tentunya lebih mudah dicerna bukan? Lagi-lagi di album ini 'el loco' Omar bertindak sebagai produser, penulis lagu dan aransemen, sekaligus pemain gitar, hanya saja kali ini mereka melibatkan John Frusciante sebagai guest guitarist untuk memberi ruang bagi Omar agar bisa lebih fokus bereksperimen dengan sound. Lucunya, John sama sekali tidak berkontribusi dalam penulisan, bahkan guitar part yang dimainkan oleh gitaris Red Hot Chilli Peppers ini seluruhnya adalah karya Omar yang terlebih dulu didiktekan untuk kemudian dimainkan oleh John! So don't you be expecting to hear some funk riffs on this record, okay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album diawali dengan "Vicarious Atonement", sebuah track yang terkesan 'rapuh' bertemakan tentang paranoia terhadap agama atau kepercayaan tertentu, sarat dengan sound-sound whirling khas shoegaze dan melodi gitar yang mengingatkan kita pada karya-karya balladry rock Pink Floyd. Tanpa peringatan, kita dibawa menuju track selanjutnya "Tetragrammaton". Tetragrammaton adalah sebutan untuk Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sebuah usaha prestisius untuk menuangkan konsep ketuhanan kedalam sebuah lagu berdurasi hampir 17 menit. Track dengan drum work yang sangat menakjubkan (doing three different time signature in a song) ditambah dengan riff-riff menghanyutkan yang kemudian tiba-tiba berubah jadi penuh agresi dan hentakan, berhasil menggambarkan konsep ketuhanan yang bagi sebagian orang mungkin bisa dibilang 'abstrak'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Up next "Vermicide" swayed with echoing guitar in the middle of spiralling chords. Disini influence dub sangat terasa pada produksi vokal, penggunaan reverb dan tremolo pada vokal Cedric menambahkan nuansa trippy pada lagu ini. Omar terkenal sangat setia pada roots hispanic-nya, di "Asilos Magdalena" which means Magdalena Asylum, Omar menjajal kepiawaiannya bermain nada-nada etnis latin dengan gitar akustik. Vokal Cedric terasa sangat melankolis di track yang berbahasa Spanyol ini. "En la lluvia me / Promiste tu sangre" he croons, which translated "In the rain you promised me your blood" menggambarkan rasa kehilangan Maria Magdalena sepeninggal Yesus, top-notch track.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Track "Meccamputechture" memuat anagram yang cukup menarik, Mecca-Amputate-Technology-Architechture, go listen to it for more mind-bending experience. "Viscera Eyes" yang menjadi single pertama di album ini, berawal dari sebuah sampling sederhana yang kemudian berubah menjadi free-form latin groove lengkap dengan brass section model King Crimson, menjadikan track ini satu-satunya track yang relatif mudah diterima bagi telinga awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya "Day of The Baphomets" dengan rhythm samba dan cabikan bass yang brilian akan membawa kita ke titik klimaks album ini untuk kemudian ditutup dengan track downtempo "El Ciervo Vulnerado" which sounded more like an after party hangover rather than a closing act.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun album ini terasa tidak kohesif bagi fans-fans berat The Mars Volta, tapi kali ini mereka menawarkan lebih banyak tema yang manjadikan album ini lebih variatif. Agak sulit memang mencerna album berdurasi 77 menit ini, ditambah lagi dengan struktur penulisan lagu yang nyaris seperti free-fall jazz-jam, sedikit sekali nada yang 'nempel' dikepala dengan hanya sekali dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kita mau sedikit lebih bersabar dan open minded, album ini akan menjadi pengalaman yang eksplosif dan menakjubkan. It's like having sex with a familiar partner, you'll need more imagination and variations to keep the experience thrilling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642861257234252?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642861257234252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642861257234252' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642861257234252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642861257234252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/mars-volta.html' title='The Mars Volta'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642840332041945</id><published>2006-12-17T23:50:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:53:23.380-08:00</updated><title type='text'>the adams</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : The Adams&lt;br /&gt;Album         : v2.05&lt;br /&gt;Released : 2006&lt;br /&gt;Label  : Aksara Records&lt;br /&gt;Styles  : Rock, Pop Alternative, Progressive, Retro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album kedua dari The Adams yang menjadi follow up dari debut mereka yang sukses mengukuhkan keberadaan band ini di kancah musik Indie Indonesia. Throughout the year, band asal Jakarta ini telah mengalami perombakan personel yang cukup radikal, yang mana saat ini hanya tinggal Ario dan Ale yang tersisa dari formasi awal. The impact would be most predictable. Ya, perubahan yang signifikan dalam sound dan ritme dengan pergantian bassist, drummer, serta direkrutnya seorang pemain keyboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi vokal menjadi fitur andalan di album kedua yang diproduseri sendiri oleh Ario Hendrawan dan The Adams ini. Vocal choir may not be a very common selling point for an indie band, tapi harmoni yang mereka hasilkan cukup baik dan akan mambawa kita bernostalgia dengan The Beach Boys (they even hired a vocal corrector to get the job done). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v2.05 diawali dengan sebuah track instrumental yang tidak bisa dibilang sebagai sebuah intro mengingat track yang bertajuk "Pahlawan Lokal" ini terkesan berdiri sendiri dan tidak membangun momentum tertentu bagi track selanjutnya. Terdengar warna lain dari The Adams yang sekilas mengingatkan kita pada pendekatan-pendekatan progressive macam Genesis, Yes, dan bahkan Iron Maiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di "Selamat Pagi Juwita" kita mulai disuguhi dengan harmoni dan melodi keyboard yang kuat, menjadikan tembang ini layak menjadi salah satu stand-out track di album ini. "Halo Beni" yang sekaligus menjadi comeback single The Adams, menyuguhkan riff gitar yang ear-catching dengan bassline yang minimalis namun cukup enak didengar, their most catchy tunes (but what's with that "Oh crazy" part?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Track berikutnya "Lega"  menggunakan time signature 5/8 yang cukup menarik perhatian karena diimplementasikan pada lagu yang cenderung mellow, nice backing vocals on chorus. Another instrumental piece "15/8" (it's probably the time signature) adalah track yang paling unik dan beda di album ini. Time signature ganjil lagi-lagi digunakan untuk menambahkan sentuhan progressive rock yang mengiringi duet permainan gitar harmonic Ario dan Ale. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Track "Gelisah" yang bernuansa retro terasa lebih menghanyutkan dengan gaya vokal Ario yang 'seadanya' mengingatkan kita pada lagu-lagu lawas Indonesia era 70an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berwisata" menjadi showcase kemampuan harmonisasi vokal The Adams dengan pembagian suara yang sangat rapi dalam bentuk a cappella yang sedikit bernuansa mambo, membuat kita berharap tembang ini beralun lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di "Hanya Kau", bayang-bayang Weezer mulai terdengar dan kali ini bukan saja pada sound tapi juga dari struktur dan progresi lagunya sendiri, bahkan Ale yang di track ini mengambil tugas lead pun menyelipkan sedikit "oo-hoo" khas Weezer. Terlepas dari sebuah kesengajaan atau tidak, entah kenapa track-track selanjutnya bahkan semakin mengingatkan kita pada Blue Album yang legendaris itu, kita seakan dibawa bernostalgia pada track-track seperti "Holiday", "No One Else", dan "Surf Wax America".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, track-track awal v2.05 telah berhasil menyajikan identitas baru The Adams yang cukup menarik. Harmonisasi vokal yang sangat baik, penggunaan time signature ganjil, dan suasana retro yang khas menjadikan album ini terasa kaya. Namun entah kenapa di track-track akhir, this album sounded more like a rip-off job to me. Mungkin bisa dibilang album ini adalah masa transisi bagi The Adams menuju karakter yang lebih original dan unik dari sebelumnya. Even though it's not a classic, but this album showcases some innovative ideas that never been tried before in our indie music scene, and it is well produced. Hope the next one would be much better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642840332041945?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642840332041945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642840332041945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642840332041945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642840332041945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/adams.html' title='the adams'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642816413662077</id><published>2006-12-17T23:47:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:49:24.193-08:00</updated><title type='text'>delays</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artist  : Delays&lt;br /&gt;Album         : You See Colours&lt;br /&gt;Released : 2006&lt;br /&gt;Label  : Rough Trade&lt;br /&gt;Styles  : Brit-Pop, Dream Pop, Indie Rock&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Synaesthesia mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan album kedua band asal Southampton, Inggris ini. You See Colours terinspirasi dari fenomena psikologis yang mana ketika manusia mendengarkan musik, ia akan merasa seakan-akan ia melihat warna-warna tertentu dalam benaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bekerja sama dengan produser lama mereka, Graeme Sutton, kali ini Delays mencoba menambahkan lebih banyak elemen elektronik kedalam atmosfir 'summer' yang menjadi ciri khas mereka. Nuansa pop masih jadi menu utama, hanya saja kali ini Aaron Gilbert lebih banyak menuangkan kreatifitasnya melalui loops, sampling, dan lantunan synthesizer era 80-an. Vokal androgynous Greg memegang peranan penting di album ini, buat yang unfamiliar dengan Delays pasti bakal kebingungan menentukan gender sang vokalis yang memang terinfluence berat oleh Elizabeth Frazier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You See Colours dawali dengan senjata pamungkas Delays, Yes, It's Greg's falsetto. "To the bitter end / I have fought alone / Now this cavalry / Is coming home" yang seakan mengisyaratkan kembalinya Delays setelah proses pembuatan album yang melelahkan (they lost the original demo CD halfway through the final recording!). Lalu terdengar multi-layered violin sample dengan presisi yang luar biasa apik, dan setelah beat drum mengambil alih ritme, "You And Me" dipastikan bakal jadi track favorit bagi siapa pun yang mendengarnya. Makes u want to play it over and over again! Perfect pop-song. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Valentine", their comeback single, tentunya bukan track sembarangan. Dengan sampling bass yang mengingatkan kita pada musik disco Eropa tahun 80-an, track ini bisa dibilang the most danceable material from Delays ever! Warna-warna yang dijanjikan tajuk diatas kini mulai terlihat. Lanjut ke "Sink Like A Stone", kita disuguhi dengan harmonisasi vokal yang sangat baik seakan kita dibawa tenggelam kedalam harmoni melodi yang juga diperkuat oleh alunan synth dan tremolo gitar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Too Much In Your Life" terdengar sedikit menghentak tetapi tetap melodius, mengingatkan kita pada B-side mereka dua tahun lalu "Quiet". "Take Your Heart From Your Sleeve"  yang lebih lembut, memberikan variasi tempo bagi album ini, it bring so much warmth and lush just like Valium. Penggunaan synth sebagai rhythm mengingatkan kita pada Technique-nya New Order. Di "Given The Time", influence The La's sangat terasa membalut melodi dan lagu yang dinyanyikan, terdengar seperti materi Delays di album pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hideaway", dengan aransemen yang catchy, bahkan kalau saja vokalisnya bukan Greg Gilbert mungkin akan terdengar seperti boybands yang sekarang ramai-ramai menyamar maen alat musik. "Waste Of Space" jadi lagu penutup yang pas, sentuhan piano dan gitar akustik mengalun lembut menemani vokal Greg yang di track ini lebih mendayu-dayu lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You See Colours memang sukses menyatakan kelangsungan eksistensi Delays, fusing dancefloor excitement with 90s indie pop movement, tapi entah kenapa album ini terasa kurang dalam dan sentimentil. Secara produksi album ini memang patut diacungi jempol, tapi materi-materi yang ditawarkan dalam lirik-lirik Greg terasa mengada-ada dan lebih terfokus pada rima daripada maknanya sendiri. Maybe this album doesn't suppose to mean anything, almost like having one nightstand on a mid-summer holiday, it's all surface no feeling. But hey, who wouldn't have it anyway?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642816413662077?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642816413662077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642816413662077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642816413662077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642816413662077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/delays.html' title='delays'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642792856432717</id><published>2006-12-17T23:43:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:47:01.223-08:00</updated><title type='text'>JAH RULES THE CREATION</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JAH RULES THE CREATION&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada alasan lain mengapa saya menyukai Bob Marley. Alasan itu bukanlah hanya album Legend-nya Bob Marley, merchandise tiga warna yang keren-keren itu dan (tentu saja) the weed. Kamu barangkali sering mendengar kata-kata Zion, Babylon, Exodus, Dreadlock, Jah dan sebagainya. That is kata-kata yang sangat common di dunia Rastafari. Yeah dan Rastafari adalah alasan bagus lain mengapa saya menyukai Bob, dan musik reggae. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You cant rule the world with vigor and guns and bullets. It's love that rules the world" itulah quote penting dari Travor Stewart, salah seorang Rastafari yang memimpin sekte Bobo Ashanti. If that reminds you of hippie, Rastafari ini berbeda dengan hippie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rastafari mungkin adalah bentuk lebih kompleksnya semangat hippie, karena Rastafari cinta damai dan Rastafari timbul sebagai penentangan perbudakan oleh bule yang mereka alami selama berabad-abad. Jadi begini, Rasta atau Rastafari adalah kultur/way of life kaum kulit hitam yang dibajak ke Jamaica dan dijadikan budak karena itu mereka menentang segala macam bentuk kekerasan dalam hidup dan menganggap semua orang sama derajatnya. Dan bagi mereka Haile Selassie I, bekas pemimpin Ethiopia sebagai Jah (yaitu nama lain kaum Rastafari untuk Tuhan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan ini berkembang di Jamaica awal tahun 1930-an di antara kaum pekerja dan di antara orang-orang yang sangat-sangat miskin, yang merasa kehidupan bermasyarakat tidak menawarkan apapun melainkan kesengsaraan belaka. Secara sosial, Rastafarian adalah respon terhadap rasisme yang dialami orang kulit hitam di Jamaika pada tahun 1930-an, di mana keberadaan orang kulit hitam menduduki posisi paling bawah dalam strata sosialnya sementara orang kulit putih dengan agama dominannya yaitu Kristen duduk paling atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan ini juga dipelopori oleh seorang pahlawan kulit hitam di Jamaika; Marcus Mosiah Garvey yang memberanikan mereka untuk bangga terhadap diri sendiri dan terhadap warisan yang dimilikinya, menginspirasi Rasta-man untuk menggali nilai-nilai Afrika lebih dalam lagi. Itulah mengapa mereka berusaha untuk hidup dekat dengan alam dan menjadi bagian dengan alam bebas karena hal itu adalah yang leluhur mereka (orang Afrika) lakukan. Pendekatan mereka terhadap leluhur mereka dan juga alam dapat dilihat dari kedekatan mereka dengan hal-hal seperti dreadlocks a.k.a. gimbal, ganja dan ital food (makanan alami) dalam seluruh aspek kehidupan Rasta-man. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu simbol dari Rastafari adalah warna merah, emas (kuning) dan hijau, diambil dari warna bendera Eitopia. Mereka adalah perlambangan dari  merah; warna darah yang tertumpah dalam perjuangan; hijau adalah perlambangan kemakmuran dan hijaunya alam Afrika sedangkan emas adalah lambang kemakmuran dan kesejahteraan Afrika. And so now we know, feel free untuk mengenakan aksesoris tiga warna itu sekarang. Yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita membicarakan Ras Tafar i Makonnen, yang menobatkan Haile Selassie 1, Kaisar Etiopia sebagai penjelmaan Tuhan yang disebut dengan Jah. Jah atau Jah Rastafari adalah sebutan para Rasta untuk memanggil Selassie dan mereka percaya juga bahwa ada kekuatan besar di balik nama Jah ini. Dan itu juga mengapa mereka menyebut diri mereka dengan sebutan Rastafari (pronounced Rasta-FAR-I) Untuk mengambarkan hubungan personal setiap penganut Rasta dengan Selassie I. Keabadian ragawi juga sebuah ide yang cool dari para Rastafrian. Bahwa beberapa the choosen one diantara mereka akan terus hidup selamanya di dalam tubuh mereka tempati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh akan kepercayan hal itu terjadi dalam penolakan Om Bob untuk menulis surat wasiat, ketika sedang sakit parah oleh penyakit kanker ganasnya. Karena menurutnya dengan menulis surat wasiat berarti dia menyerahkan diri pada kematian dan tidak percaya bahwa dia mempunyai kesempatan untuk hidup terus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dreadlocks, ganja &amp; other rastafari things&lt;br /&gt;Dreadlocks merupakan simbol. Yang melambangkan roots-nya Rastafarian dan kekontrasan terhadap kaum bule yang berambut pirang keemasan lurus. Hal itu juga ditunjukan dalam kitabnya mereka. "No botak, no potong jambang". Dan dreadlocks ini juga merupakan salah satu usaha mereka untuk lebih dekat dengan alam, seperti yang disebutkan sebelumnya diatas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganja merupakan bahasa kaum Rasta untuk menyebut Marijuana. Digunakan untuk tujuan relegius untuk mendekatkan diri kepada Jah. Biasanya mereka punya upacara keagaman khusus dimana para Rasta berkumpul dan merokok ganja sambil mengobrol masalah ektika sosial dan keagamaan. Orang yang mendapat kehormatan menyulut ganjanya biasanya membaca doa pendek dulu. Kemudian ganja itu dioper searah jarum jam agar semuanya kebagian giliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga punya hari libur besar yang dinamakan dengan Binghi/Nyabingi; yang berarti kembali ke hal-hal tradisional yang mulai punah. Perayaan Binghi ditandai dengan berdansa, bernyanyi-nyanyi ria, berpuasa dan merokok ganja. Bahasa lainnya dari ganja di Jamaika adalah iley, callie dan holy herb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ethiopia/Heaven/Zion Eitiopia adalah surga dunia milik kaum Rasta. Nama lain Etiopia adalah Zion atau Heaven. Mereka tidak percaya adanya surga atau neraka seperti kebanyakan agama lainnya. Karena mereka merasa bahwa nenek moyang mereka melakukan sesuatu secara tidak sengaja sehingga menghina Jah dan membawa kaum mereka ke dalam jurang perbudakan di dunia barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babylon, ini adalah ungkapan yang digunakan kaum Rasta terhadap struktur kekuatan politik kulit putih yang telah menindas ras kulit hitam selama berabad-abad jaman dulu, bahkan hingga kini kaum Rasta masih merasa bahwa blacks masih ditindas melalui kemiskinan, buta huruf, ketidak samaan derajat dan penipuan oleh bule. Maka dari itu lawanlah. Stand up melawan kekuatan Babylon. Upaya itu untuk mengingatkan blacks bahwa perjuangan masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lion of Judah merepresentasikan Haile Selassie, sang penakluk. Juga melambangkan raja dari para raja-raja seperti singa sebagai raja dari semua binatang buas. Yang interesting adalah Selassie memiliki cincin Lion of Judah yang kemudian diberikan kepada om Bob sebelum Selassie meninggal. Namun hingga kini keberadaan cincin itu tidak diketahui keberadaannya karena cincinnya menghilang setelah om Bob meninggal.&lt;br /&gt;I and I,Kata-kata I and I sering digunakan dalam keseharian kaum Rasta sebagai pengganti kata "you and I". karena mereka percaya semua orang adalah sama, dan tidak ada keistimewaan dalam kehitupan itu. Semua orang adalah sederajat. Jadi "I and I" kita bersama-sama bersatu dalam satu ikatan pada satu Tuhan yaitu. Jah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, now light up the joint man, and dance so I and I will get closer to the Jah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ant)&lt;br /&gt;penulis adalah wartawan sebuah majalah di Jakarta dan vokalis 70's Orgasm Club&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642792856432717?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642792856432717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642792856432717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642792856432717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642792856432717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/jah-rules-creation.html' title='JAH RULES THE CREATION'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642776182100389</id><published>2006-12-17T23:39:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:42:41.910-08:00</updated><title type='text'>PRAMBORS KUMPUL KRIBO</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PRAMBORS KUMPUL KRIBO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prambors, radio kelahiran Jakarta ini mengadakan event Launching Prambors Bandung, yang disiarkan serentak di 8 kota (Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, Jogja, Solo, Semarang dan Medan). Di sini ada juga event Kumpul Kribo 2006, ajang pamer kreativitas kawula muda. Event yang bertempat di Bumi Sangkuriang, Sabtu (16/9), ini berlangsung sangat meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event yang diselenggarakan oleh radio Prambors ini dimeriahkan oleh Saint Loco, band Nu metal asal Jakarta ini langsung memainkan single lamanya seperti "Hip Rock" dan disusul dengan single barunya yaitu "Kedamaian". Setelah Saint Loco, giliran band asal bandung yaitu Mocca memainkan irama-irama manisnya seperti "Secret Admirer", "Me and My Boy Friend" dan beberapa lagu barunya, penampilan mereka langsung menyedot perhatian para penonton untuk maju sampai ke depan stage. Lalu kemudian disusul dengan Homogenic, band trip hop yang dimotori oleh Nona Dinna ini, memainkan single-single barunya seperti "Transmutasi", "Walk In Silence" dan single lamanya seperti "Semu". Risa dengan karakter suaranya yang lembut, seakan membius para penonton untuk bernyayi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kribology dipandu oleh MC kondang yaitu Arie Daginks dan Desta, penampilan mereka cukup mengocok perut penonton dengan guyonan-guyonan khas mereka. Setelah MC selesai berkhotbah, event ini dilanjutkan kembali dengan penampilan dari band multi job dari Jakarta yaitu Club Eighties, mereka memainkan sekitar 5 lagu diantaranya "Gejolak Kawula Muda". Penampilan Desta &amp; Vincent Cs sangat atraktif dan energik, sehingga mampu mengobati kerinduan para fans yang berasal dari Bandung. Setelah para penonton tenggelam dengan suasana tahun 80an, sekarang giliran anak-anak melodic punk dari Pulau Dewata yaitu Superman Is Dead menenggelamkan para penonton pada suasana yang penuh semangat. Mereka memainkan 5 lagu yang diantaranya "Kuta Rock City", well.. punk is definitely not dead my bro, hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang giliran penyanyi pop asal bandung yaitu Marcell memainkan beberapa singlenya seperti "Denganmu" dan "Semusim", di salah satu lagunya Marcell berduet dengan artis sinetron yaitu Jane Shalimar, hmm.. apa ya maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang saatnya Band yang saya tunggu-tunggu, yaitu Pure Saturday.  Band gaek asal kota kembang ini memainkan hanya 3 lagu, mulai dari "Enough", "Buka" dan "Desire". Saya sedikit kecewa, rasanya kurang puas hanya disuguhkan dengan 3 buah lagu! Tapi yang penting penampilan mereka sudah cukup tuk mengobati kerinduan para Pure People..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran band asal jakarta yaitu Goodnight Electric memainkan single-singlenya, seperti "Am I Robot". Band yang semua personelnya bergabung dalam komunitas RuangRupa ini bermain sangat atraktif, hampir semua penonton bergoyang dan bernyanyi. Fiuhhh.. Saya sampai merinding, hehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event ini ditutup dengan penampilan apik dari band yang dimotori oleh Jimmy Multazam yaitu The Upstairs, mereka memainkan single-singlenya seperti "Disko Darurat", "Gadis Gangster" dan "Matraman". Huhuhu.. semua penonton berdisko darurat di lapangan yang penuh sesak. Gegap gempita, itu komen saya untuk event ini!  Bravo Prambors!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adhi Pratama)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642776182100389?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642776182100389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642776182100389' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642776182100389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642776182100389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/prambors-kumpul-kribo.html' title='PRAMBORS KUMPUL KRIBO'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642751312243754</id><published>2006-12-17T23:38:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:38:33.220-08:00</updated><title type='text'>MONIK MONDAY BREEZE</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MONIK MONDAY BREEZE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;In conjunction with Frontyard Cafe Soft Opening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi beli baju lebaran ternyata belum punah. Monik membuktikannya melalui "Monik Monday Breeze" yang diadakan setiap Senin (2-16/10). Bisa jadi pemikiran saya salah, tapi sepertinya salah satu alasan barang-barang Monik dan Celtic yang didiskon gede-gedean itu diburu banyak pembeli adalah faktor insidental. Frontyard Cafe, yang berada satu lokasi dengan Monik, ikut andil dalam acara ini. Bertepatan dengan "Monik Monday Breeze", Frontyard yang mengedepankan hidangan steak, shake, Japanese ini mengadakan acara buka puasa bareng dalam rangka Soft Opening cafe mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin (16/11), 4 pm&lt;br /&gt;Mencoba tepat waktu, saya datang tepat pukul 4 sore. Tempat parkir yang disulap jadi venue ini sedikit demi sedikit mulai terisi.  Beberapa orang sepertinya sengaja datang untuk belanja, lainnya memang ingin menonton penampilan band yang digelar. "Sekalian ngabuburit," kata salah seorang penonton di sebelah saya. Berhubung acara belum mulai, saya sempatkan melihat-lihat kaos yang ditawarkan. Yeah, berdesak-desakan dengan calon pembeli lainnya..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5 pm&lt;br /&gt;Acara dibuka dengan penampilan Hollywood Nobody. Meskipun tampil tanpa Dilink (Biola) dan O'o (Jimbe), namun lagu-lagu yang dimainkan tetap terdengar apik dan catchy. "Secret Nobody Knows", "Dear Mirabelle", "Cinta (Vina Panduwinata)" dan "Betrayal" mampu membuai penonton dan menghilangkan sedikit lapar dan dahaga. Hehe. Maklum, penampilan mereka kurang-lebih satu jam sebelum waktu buka puasa. Ketika lagu "Cinta" disenandungkan, suara Dian (vokalis) yang jernih membuat suasana sore itu romantis. Hehe.. Beberapa orang (termasuk saya) pun ikut bernyanyi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.25 pm&lt;br /&gt;Lagi, band dengan vokalis bersuara jernih. Mocca memulai permainannya dengan lagu "Lucky Man". Melihat Mocca bermain, beberapa penonton semakin mendekat ke bibir panggung. Arina (vokalis) sempat turun kearah penonton untuk membagi-bagikan sticker "Mocca". Penonton pun tampak tidak mau rugi, mereka berusaha menggapai Arina untuk mendapatkan sticker tersebut. Lagu "I Remember", "It’s Over Now", "Secret Admirer", "You Don't Event Know Me" dan "I Will", menemani penonton ber-chillin out hingga (tak terasa) adzan berkumandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.47 pm&lt;br /&gt;Yep, saatnya berbuka puasa! kontan semua yang hadir sibuk mengantri beli air mineral dan sebagian lagi beranjak pulang. Berbekal undangan, kami menuju Frontyard cafe untuk menikmati hidangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a day..!! tampaknya hari ini saya benar-benar dimanjakan di "Monik Monday Breeze". Breezing with irrisistable offers.. sounds.. menus.. what else can we ask?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Annel)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642751312243754?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642751312243754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642751312243754' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642751312243754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642751312243754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/monik-monday-breeze.html' title='MONIK MONDAY BREEZE'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642718390961507</id><published>2006-12-17T23:32:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:33:03.976-08:00</updated><title type='text'>That’s Why I Like You...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;That's Why I Like You...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngikutin pembuka tulisan Hagi Hagoromo di edisi sebelumnya, saya juga mau bilang, kalau jadi penggemar sebuah band bukanlah hal yang  kelihatannya mudah. Kenapa saya bilang begitu? Proses menyukai sebuah band hingga bisa jadi fans-nya selama bertahun-tahun, ternyata butuh komitmen dan kepercayaan, persis kayak orang pacaran. Berlebihankah saya? Mungkin. Bagi saya, ketika saya menggemari sesuatu, seringkali saya harus kenal seperti apa  yang saya gemari itu. Bukan cuma musiknya, seringkali attitude malah jadi faktor yang cukup penting bagi saya untuk memutuskan, terus menyukainya, atau ya sudahlah, mereka tak ada bedanya dengan band-band lain yang terkena rockstar syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau cerita tentang rasa suka saya pada Pearl Jam. Band asal Seattle di era 90-an yang sampai saat ini, mereka jadi last band standing untuk generasinya. Sama seperti kebanyakan anak SMU yang hidup di tahun 1990-an, saya juga terkena demam grunge. Waktu itu saya lebih dulu menyukai Red Hot Chili Pepers, karena kegilaan mereka dalam bersikap (selain itu John Frusciante muda.. siapa sih yang ga suka sama dia? :D). Ketika era grunge muncul, kisah hidup Kurt Cobain mengundang simpati saya, selain musiknya yang juga mewakili fase psikologis saya pada jaman SMU yang sering marah-marah ga jelas. Namun, saya kecewa berat, saat Kurt Cobain bunuh diri. Bagi saya keputusan Kurt Cobain untuk bunuh diri, tidak memberi inspirasi yang tepat, ketika sebagai fans, pada saat itu, lebih membutuhkan 'spoke person' untuk bisa mewakili apa yang saya dan mungkin jutaan fans nya rasakan. Lalu, Eddie Vedder dengan sepenggal kisah hidupnya dalam salah satu hits mereka, Alive, menggugah saya kemudian. Mengobati kekecewaan saya atas kehilangan figur Kurt Cobain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seringkali berpikir, sebenarnya mana yang lebih menggugah saya sebagai fans, bagaimana Pearl Jam bermusik? Atau bagaimana kisah hidup di balik proses bermusiknya? Saya kira untuk Pearl Jam, dua-duanya menjadi penting. Seringkali saya lebih menunggu kejutan, apalagi dari Pearl Jam sebagai band yang pernah dijuluki The Most Elusive Band in The World (band yang paling susah dimengerti). Sebagai fan ternyata saya juga ga bisa dengan mudah begitu saja menerima keputusan mereka ketika menentang Ticket Master yang menurut mereka, menjual tiket dengan harga yang terlalu mahal untuk fans mereka. Hey, sebagai fans sebenernya, berapapun harga tiket konser yang mereka jual, tentunya dengan sukarela kami pasti akan membelinya. Setelah tiga album hits (Ten, Versus, Vitalogy), Pearl Jam mengeluarkan album yang membuat mereka ditinggalkan banyak sekali penggemarnya. Dan bagi saya, album No Code (album ke 4 pearl jam), adalah album paling sulit diterima, kerena secara musik mereka berubah drastis. Bukan hanya itu. Mereka  pun memutuskan, menutup diri pada media, tidak mau membuat video klip, sampai-sampai penjualan album mereka hanya 500 ribuan keping saja di seluruh dunia. Saya ga bermaksud membahas kenapa No Code yang secara musikal lebih kontemplatif dan kemarahan Vedder di album-album sebelumnya tak terdengar di sini. Yang menarik bagi saya, sebagai  penggemar, saya kemudian dipaksa oleh Pearl Jam, untuk menerima kenyataan bahwa sebagai manusia biasa mereka juga berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, sebagai fans, PJ adalah ilusi buat saya. Saya mengenal PJ lewat karya-karyanya, karena itu saya punya kebebasan berimajinasi, berfantasi, berilusi tentang mereka. Sehingga yang saya sukai kemudian adalah imajinasi saya tentang PJ. Sebagai fan pula, saya seringkali otoriter, hanya mau menerima image mereka yang sesuai dengan yang saya inginkan, selain itu saya ga mau menerimanya. Buruk-buruknya saya akan meninggalkan mereka,  ketika mereka berubah tidak seperti yang saya inginkan. Dengan kejam, saya bisa bilang, mereka udah ga asyik. Eddie Vedder pun udah tampak tua dan gemuk, tidak seganteng dan sekeren dulu. Ketika imajinasi tentang mereka di hancurkan oleh kenyataan bahwa mereka pun tumbuh dan senantiasa berproses dan berubah, sebagai fans rasanya saya sulit menerima itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul pertanyaan dalam diri saya, bagaimana caranya tumbuh dan berkembang bersama band yang kita kagumi?  Apakah dengan mengimitasi apapun yang mereka lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagaimana caranya menjalin pemahaman satu arah yang sehat antara kita dan band atau sosok idola kita? Bagaimanapun ada jarak yang yang sangat besar antara saya dan Pearl Jam. Saya  tak pernah kenal mereka secara langsung, jika saya menganggap  mereka teman, itu adalah pertemanan yang imajiner. Pertemanan terabsurd yang pernah dijalani. Mereka bisa mempengaruhi bahkan merubah hidup saya, tapi hidup mereka  mungkin tak pernah saya pengaruhi. Ini seperti kepakan sayap kupu-kupu di Afrika, bisa menimbulkan badai di Alaska. Hubungan saling mempengaruhi yang seringkali sulit diterima oleh rasio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan role model untuk mengisi kehidupannya, nampaknya bisa menjawab pertanyaan saya tadi. Ketika role model itu tak bisa  kita dapatkan dari orang-orang yang kita kenal dekat, kita biasanya mencarinya dari  orang lain yang bahkan jauh dari kita atau tidak kita kenal sama sekali. Karena manusia senantiasa mendambakan kesempurnaan yang mustahil. Untuk itu, ilusi-ilusi tentang kesempurnaan, mengisi sebagian besar imajinasi manusia. Musik dengan segala kekuatannya menjadi pengantar yang juga 'sempurna' untuk mengantarkan manusia membangun ilusi kesempurnaan itu. Lalu musisi dengan karya dan solah tingkahnya, seolah-olah menjadi seperti dewa yang menyebarkan gambaran tentang kesempurnaan itu. Seperti sebuah bayangan yang ketika didekati ternyata sosoknya tidak sebesar wujud aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya kemudian, attitude ketika mengemari sebuah band (seperti Pearl Jam) menjadi penting. Attitudelah yang kemudian membuat Pearl Jam bukan sekedar imajinasi yang saya bayangkan tentang mereka.  Attitude membuat Pearl Jam tak lagi seperti dewa yang terlihat jauh lebih hebat dari wujud aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti layaknya pertemanan,  'Pertemanan imajiner' saya dengan mereka pun, mengalami pasang surut. Adakalanya saya sepakat dengan mereka dan kadang saya tidak sepakat sama sekali. Proses seperti itulah yang kemudian membuat saya merasa bisa menyukai Pearl Jam dengan lebih sehat. Rasa suka dan kekaguman yang tetap didasari oleh sikap kritis terhadap karya mereka. Bukan rasa suka dan kekaguman buta yang  justru membuat mereka terkurung dalam menara gading ketenarannya yang membuat mereka tak berani keluar dari batasan-batasan mereka dalam berkarya. Tentunya  rasa suka saya terhadap Pearl Jam, membuat saya senantiasa berharap mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penggemar yang baik, saya kira juga berarti, bisa memberikan kontribusi pada perubahan mereka terhadap karya yang lebih baik. Tidak menjadikan mereka dewa yang terbebas dari kesalahan dan mengkritisi mereka dengan semangat pertemanan, bisa membuat hubungan idola dan penggemarnya bisa mutualisme dan saling mempengaruhi. Dan seperti layaknya pertemanan, yang memancarkan pengaruh positif lah yang layak dipertahankan sebagai teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tarlen Handayani) &lt;br /&gt;penulis sehari-hari bekerja untuk Common Room Networks Foundation, tobucil. Kadang-kadang jadi periset dan penulis lepas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642718390961507?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642718390961507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642718390961507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642718390961507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642718390961507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/thats-why-i-like-you.html' title='That’s Why I Like You...'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642672158703686</id><published>2006-12-17T23:22:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:29:54.700-08:00</updated><title type='text'>Café Au Lait</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cafe Au Lait &amp; Aksara Records&lt;br /&gt;ACOUSTIC NIGHT&lt;br /&gt;The REAL Vintage Performance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seakan membuka pintu mesin waktu ketika memasuki Cafe Au Lait di bilangan Cikini, Sabtu (16/10). Wow, vintage betul tempatnya! Sembari mengagumi, saya harus berjibaku untuk masuk karena sudah penuh sesak. Makanya saya pun bertanya soal pemilihan tempat pada Saleh,  gitaris The Adams dan White Shoes and The Couples Company (WSaTCC) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya Riza Arshad (Jazz Masa Kini) main di sini (Cafe Au Lait). Terus, kita lihat lucu juga yah kalau main di sini. Kebetulan ada yang kenal dengan pemiliknya," tutur Saleh. Indra Ameng (manajer WSaTCC) dan Indra7 (manajer The Adams) menambahkan bahwa acara ini diadakan atas inisiatif mereka sendiri. Alasannya sederhana, "Karena Bulan Puasa nggak ada kegiatan," begitu katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, it's free! Di luar pun banyak penonton mengintip sembari berbelanja merchandise band. Suara merdu biduan Sari WSaTCC membawa romantika masa lalu. Apalagi melihat Mela bermain piano dibantu additional saxophone. Pakaian dari personel WSaTCC tentunya mendukung. Nuansa retro langsung menyeruak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Café ini sedikit mengingatkan saya pada film tentang band indie karya Miles. No, it's REAL, not a set! WSaTCC melantunkan lagu baru dari kompilasi Kampus 24 Jam Hits #2, "Kampus Kemarau". "I Found Love" dari The Free Design mampu membuat suasana syahdu di tengah pengapnya udara oleh sesaknya manusia. Ada kejutan manis di akhir! Sari sengaja menyiapkan kipas bulu merah untuk ber-"Aksi Kucing". Meong.. meong..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MC Indra Ameng dan David Tarigan mengantar malam pada SORE. Tak ingin ketinggalan, SORE pun menyertakan lagu baru dari album kedua. Another jazzy English song, "Essentio". "Pergi Tanpa Pesan" mampu membuat penonton tak tahan untuk bersendung bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. bagaimana jadinya The Adams yang penuh raungan distorsi gitar tampil akustik? Rasanya setelah tampil di Traxkustik mampu menjawab pertanyaan ini. Yeah, kocokan yang kotor pada gitar akustik! Saleh pun memperingatkan Ario jangan sampai membuat senar gitarnya putus haha.. Beraksi layak di jam session, The Adams mengaransemen lagu "Waiting" dengan cantik. Hmm…aransemen reggae pada lagu "Pijakan" mengingatkan saya saat Ario berambut rasta dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, you pick the right place! Vintage cafe mixed with retro sound is a blast from the past!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aline)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642672158703686?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642672158703686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642672158703686' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642672158703686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642672158703686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/caf-au-lait.html' title='Café Au Lait'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642644790788882</id><published>2006-12-17T23:18:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:20:47.960-08:00</updated><title type='text'>DOUVEN CUP GET THE PARADES</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DOUVEN CUP GET THE PARADES&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Spread The Last Energy on Stage!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saat kamu untuk menghabiskan energi yang tersisa sebelum mengistirahatkan baterai dalam tubuhmu. Hall A Basket Senayan menjadi saksi penampilan terakhir para bintang local independent scene. Oh, no, it's not their latest goodbye! Tapi, tentunya ada semacam "cuti" aksi panggung selama bulan puasa. Jalanan Jakarta yang kian macet akibat pembangunan Busway tak menghalangi anak-anak muda ibukota untuk menghadiri pesta terakhir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini merupakan closing ceremony dari pekan olahraga dan seni SMU 77 dengan tajuk Douven Cup Get The Parades, Get The Passion Relationship and Education by Sport : From Energy to Chemistry. Opening ceremony diramaikan oleh Tetabuhan Lorong IKJ dan Dance SMU 77. Rangkaian pertandingan basket, voli, futsal, cheers, dance, dan special games Blind Date bermula sejak Selasa pagi (19/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam (22/9) memang terasa ganjil sebagai pilihan hari. Tapi, apa daya kita harus solat Tarawih di malam Minggu hehe... &lt;br /&gt;Cheers SMU 77 membuka keriaan malam itu sebelum deretan bintang tamu beraksi. White Shoes and The Couples Company maju pertama  dengan "Brother John". Sayang, penonton tampak belum memadati arena. Band yang akan meramaikan festival musik di Bangkok, Thailand ini mengajak penonton bertepuk tangan bersama saat "Windu&amp;Defrina".&lt;br /&gt;Rocket Rockers pun tak sia-sia datang jauh-jauh menembus Tol Cipularang dari Bandung. Energi penonton memuncak ketika lagu "Enough" dari Pure Saturday diaransemen dengan gaya mereka yang rawk! Penonton pun menumpahkan energi untuk meloncat, moshing dan diving. Bahkan, cukup banyak yang berhasil menembus barrier venue yang dikawal petugas Kepolisian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa penonton sepertinya mulai kehabisan energi dan tersebar memperlihatkan kekosongan ruangan itu. Acara ini cukup sepi mengingat deretan bintang tamu yang cukup ternama menghiasinya. Padahal harga tiket relatif murah dari pensi lainnya yakni Rp 15.000. &lt;br /&gt;Apa anak muda ibukota memilih datang ke acara lain yang berlangsung di waktu yang sama? Kata teman saya yang manggung di kedua tempat tersebut, acara di tempat lain itu lebih sesak oleh penonton. Hmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, The Adams mengajak kita "Berwisata"! Serentak energi penonton kembali menyala. Band yang kini lebih mengolah harmonisasi vokalnya ini, musikalitasnya semakin matang saja. Tak lupa mereka menyapa dengan "Halo Beni" yang membuat penonton bersenandung bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goodnight Electric is everywhere, folks! Malam itu menjadi pelabuhan disko terakhir band yang sedang menyiapkan album keduanya selama bulan puasa ini. Mereka menyengat habis energi penonton yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali ada acara tepat waktu. Tapi, acara kali ini sangat tepat waktu. Selesai tepat pukul 22.00! Baru saja saya mau memberi pujian, tiba-tiba muncul banyak keluhan dari artis di backstage. LO yang senantiasa menghilang cukup membuat pusing kru artis. And the worst case scenario, they're not paid yet! Walah, sepertinya mereka disuruh latihan kesabaran sebelum puasa hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aline)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642644790788882?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642644790788882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642644790788882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642644790788882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642644790788882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/douven-cup-get-parades.html' title='DOUVEN CUP GET THE PARADES'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642623715102523</id><published>2006-12-17T23:09:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:17:17.286-08:00</updated><title type='text'>Anggun</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anggun, The Visual Magician&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di tahun 2002. Seorang vokalis band indie, Bandempo, hanya ingin membuat videoklip untuk bandnya sendiri. Dengan dana terbatas ia mulai berkreasi. Boneka replika lima personel Bandempo dijahitnya seorang diri. Talent pun didapat dengan mengajak temannya, Rebecca Theodora. Dengan bantuan dari rekannya, Platon Theodoris (sutradara klip Naif, "Possesif") dia men-direct videoklip pertamanya, "Pdkt 6 Bln". Mungkin dia tidak menyadari itulah debutnya sebagai sutradara videoklip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali bertemu di kantor Mom Production, Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis siang (19/10), saya terkesan pada tutur bicaranya sangat halus dan suaranya yang lembut.. Pria berambut kribo yang akrab disapa teman-temannya dengan panggilan Culap, Sinyo, dan Badut ini berkacamata minus dengan kulit putih dan perawakan kecil. He looks like an ordinary guy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, coba kilas balik pengalaman visual anda beberapa tahun silam. Ada masa ketika videoklip Indonesia terasa begitu lesu. Tata cahaya yang sama dengan konsep performance clip sebagai alat pameran dagang. Kadang artis memanfaatkannya sebagai bentuk usaha menjual tampang. Membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, mata anda tersihir oleh kekayaan warna dan kreasi khas yang out of the box dari klipper muda satu ini. You will be amazed with his work of art! Anda diajak menjelajahi komposisi dan irama dalam wujud bahasa visual musik eksperimental. Semangat avant garde menjadi napasnya. Meet The Visual Magician, Anggun Priambodo. And this is his story..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Trenggalek, 16 Mei 1977 ini terkesan pendiam. &lt;br /&gt;Untuk ice-breaking, cobalah anda bertanya tentang seniman yang menginspirasinya. Dia akan bercerita panjang-lebar tentang sebuah video art "The Way Things Go (Der Lauf der Dinge)" karya seniman Jerman, Peter Fichili dan David Weiss, dari mulai duduk hingga berdiri dengan semangat dan mata berbinar! Video art ini merupakan dokumenter yang sangat indah tentang sebuah struktur sepanjang 100 kaki terdiri dari berbagai perkakas rumah tangga di sekitar kita yang saling menimpa sehingga menimbulkan efek domino (mirip videoklip The Bravery). Anggun menilainya sebagai the best video art yang pernah ia saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inspirasi itu bisa lu tuangin, bisa nggak juga. Tapi, bisa jadi trigger lu untuk berbuat sesuatu. Bisa dari karya orang lain, pengalaman hidup, lu suka apa di waktu kecil. Inspirasi itu datang dari sekitar lu," tutur pria yang menghabiskan masa kecilnya di Ngawi, Lombok, dan Jakarta ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang pendidikannya sedikit melenceng dari profesinya sekarang. Pria yang pernah mengikuti pameran di Shiseido Gallery, Jepang ini kuliah di jurusan Desain Interior Institut Kesenian Jakarta (IKJ)."Anggun tuh jiwanya seni murni. Dia lebih tertarik dengan hal-hal semacam itu daripada jurusannya," ujar rekan seangkatannya di IKJ, Icha. Walau dia sadar bukan itu jalan hidupnya, Anggun berhasil mendapatkan gelar sarjana seni tahun 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue senang kerja yang ada musiknya. Sebelumnya sering bikin eksperimen media, ditambah musik, akhirnya jadi video musik," cetus pengajar cinematografi untuk video musik di Digital Studio Collage ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada konsep di balik sebuah ide. Tontonan audio visual dinilai menghibur ketika emosi penonton dapat tersentuh. Eksplorasi ide menjadi proses kreatif yang utama. Tapi, ide kreatif harus komunikatif dan tak hanya dimonopoli sang seniman. Bagaimanapun proses kreatif adalah perjalanan panjang yang harus dinikmati oleh sang kreator dan &lt;br /&gt;penontonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue nikmatin prosesnya dari nol. Mulai dari dengerin lagunya, sampai membayangkan visualnya. Lalu 'kejadian' karena lu nemu lokasi, model, dan ekspresi bandnya yang lu inginkan saat lu denger lagunya," tutur Anggun tentang kecintaannya pada dunia audio-visual.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Rupa mengantar Anggun bertemu Henry Foundation aka Betmen dalam sebuah proyek video yang menjadi titik awal terbentuknya The Jadugar. Dalam workshop itu, Anggun, Betmen, dan David Tarigan (Aksara Records) membuat videoklip The Jonis. Kolaborasi Anggun dan Betmen pun berlanjut hingga mereka membangun The Jadugar. Momen itulah Anggun memutuskan untuk serius menekuni dunia videoklip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Magician", itulah arti nama unik yang mereka dapatkan dari poster film India oleh-oleh teman mereka. Ide kreatif mereka lebur bersama tanpa peduli siapa yang mendapat ide duluan. Eksekusinya pun mereka atur bersama dibantu oleh Nana sebagai produser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngga ada deh kayanya pengalaman nggak enak sama Anggun. Mungkin dia yang gak enak sama gue. Soalnya gue telat mulu, suka bangun kesiangan. Anggun tuh disiplinnya tinggi," kenang Betmen yang kini vokalis band elektronik, Goodnight Electric (GE), saat ditemui di studio rekaman GE di Ruang Rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kariernya dalam dunia videoklip mulai memasuki titik cerah ketika The Jadugar mendapat nominasi Best Video dari Indonesia MTV Music Awards 2003. Bahkan, mereka memenangkan penghargaan Best Director untuk videoklip "Train Song" dari band indie, LAIN. Tak heran, videoklip yang menceritakan perjalanan kereta mainan ini menghadirkan pengalaman visual baru di Indonesia. Kreasi unik ini berhasil mendobrak pakem videoklip yang ada saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dengerin satu album karena datangnya bukan dari mereka (The Jadugar yang menawarkan diri untuk membuatkan videoklip). Terus milih lagu mana yang mau dibuat videoklip. Gue suka aja lagunya. Kita cari lokasi mana saja yang akan dilewati kereta apinya. Terus, (kereta apinya) dijalankan pakai baterai. Langsung syuting live di situ selama tiga hari," kenang Anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier mereka pun melejit. Sesuai namanya, The Jadugar menyihir penonton Indonesia dengan sensasi visual yang berani menentang gaya mainstream. Sederet tawaran videoklip pun berdatangan dari band major seperti Clubeighties ("Lagu Terakhir"), Peterpan ("Yang Terdalam"), Slank ("Salah"), dan lainnya. Tapi, tak berarti tawaran dari band indie berbudget minim pun mereka tampik. Bisa dilihat, video kreasi The Jadugar yang minim dana tapi tidak minimalis! Videoklip "Alibaba" dari Boys are Toys malah diganjar penghargaan Favorite Creation pada Hello;Festival 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, "sihir" mereka mulai tak sejalan saat pertengahan 2005. The Jadugar harus berpisah. Sulit untuk menjelaskan sebuah perpisahan kreatif ini. Tapi, sekarang dua kepala itu mulai berjalan sendiri dan tak lagi mengibarkan panji The Jadugar.&lt;br /&gt;"Pertama, dia sudah berumah tangga, pasti kesibukannya beda. Kedua, saat itu Goodnight (Electric) sudah jadi banget. Ketiga, dia sendiri sudah mulai mencoba ke iklan. Memang lebih menghasilkan. Jadi, orientasi kita sudah berubah," tutur Betmen.&lt;br /&gt;Selain alasan tadi, Anggun memiliki pendapat lain. &lt;br /&gt;Namun, berat bagi Anggun untuk mengutarakan alasan "bubarnya" The Jadugar. Hening terjadi cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat itu gue merasa Jadugar sudah seperti pabrik pencetak videoklip. Kalau lu nggak suka sama lagunya, jangan lu buat. Karena Jadugar ini idealis banget. Kayak dapat major lable, tapi hasilnya nggak optimal," ujar Anggun dengan hati-hati.&lt;br /&gt;Perpisahan bukan berarti tak berkarya bersama lagi. Proyek terakhir mereka pada klip "Child" dari Nidji. Betmen berperan sebagai asisten sutradara. Tapi, Anggun tidak menyatakan The Jadugar bubar karena suatu saat mereka bisa berkarya bersama lagi. &lt;br /&gt;Pria yang menggemari nuansa vintage ini memiliki peran penting di scene indie. Dari tangannyalah banyak videoklip band indie yang cutting edge dihasilkan. Tapi,  perkembangan itu kini terhambat oleh batasan-batasan media. Nilai jual sang artis lebih utama daripada materi lagu. Akhirnya, mainstream lebih banyak menguasai. Dunia musik pun terasa stagnan karena komersialisasi yang bicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semenjak indie semakin sedikit, gw jarang nonton (tv).Musiknya gitu..membosankan semua! Itu lagi..itu lagi..bisa diputar selama beratus-ratus kali selama beberapa bulan. Ngapain ditonton? Nggak ada yang baru. Karena mereka sudah membatasi musik-musik indie. Karena musik indie paling rajin bikin videoklip. Akhirnya mareka kewalahan," keluhnya tentang perkembangan videoklip saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, dia mengeluhkan perkembangan dunia videoklip Indonesia yang tidak sejalan dengan kemajuan zaman. Seharusnya anak muda sekarang lebih maju dan berani berekspresi, lepas dari belenggu pakem masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggun cukup aktif berkarya hingga saat ini, baik dalam membuat videoklip, iklan, hingga pameran. Bahkan, sekarang ia sedang menyiapkan diri untuk pameran kolaborasi di Toi Moi, Kemang, Jakarta. "Anggun itu motivator buat teman-temannya dalam berkarya. Dia selalu memberi semangat," tutur sahabat Anggun, Icha yang hari perkawinannya berselang 3 hari dengan Anggun. "Kalau sama Anggun tuh awalnya berdiskusi bareng terus tiba-tiba pasti jadi deh project-nya," ujar mantan personel Bandempo, Matheus Bondan, tentang proses berkreasinya dengan Anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadi Anggun juga seunik rambut kribonya. Berkhayal mungkin aktivitas yang menjadi energinya dalam berkarya. Anda akan amaze melihat "kemampuannya" ini. Anggun punya sederet impian yang menarik untuk disimak. Bahkan, dia punya model videoklip impian.&lt;br /&gt;"Kayaknya seru kalau bikin video 'Masa Muda SBY', tapi dia yang meranin. Terus dia bilang,'Saya senang sekali nanti ajak saya syuting lagi ya..' Terus Jusuf Kalla nimbrung, 'Jangan dia doang dong. Ajak saya dong, Pak Anggun.' Akhirnya jadi tren. Terus Sutiyoso ikutan. 'Saya dong syuting di Busway," khayalnya sambil tertawa.  &lt;br /&gt;Anggun tidak pernah puas berkarya. Dia senantiasa ingin mewujudkan khayalan-khayalannya dan menyihir kita dengan warna dalam karyanya. Karena proses kreatif tidak berhenti sampai videoklip selesai. Anggun menilai semua karyanya mengesankan kerena prosesnya yang unik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue suka ngebayangin soundnya kayak gini, visualnya kayak gini. Walau kadang ngga berhubungan sih. Tapi, orang yang nonton akan dapat pengalaman lain. Selamat datang di pengalaman baru!" ujar Anggun menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aline)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642623715102523?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642623715102523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642623715102523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642623715102523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642623715102523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/anggun.html' title='Anggun'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116642487362769955</id><published>2006-12-17T22:46:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:11:23.843-08:00</updated><title type='text'>TEN BEST VOCALIST OF THE PAST 10 YEARS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEN BEST VOCALIST OF THE PAST 10 YEARS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FOREWORD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;These vocalists are rated mainly by their unique and exceptional talent, and also by their ability, in their prime, for vocal control, power, range, articulation, lyrics, phrasing, use of dynamics, plus impact and influence on independent music. Penulis mohon maaf apabila ada pendapat atau penilaian yang dirasa berlawanan dengan keyakinan pembaca, mengingat keterbatasan referensi dan perbendaharaan musik yang dimiliki oleh penulis adalah hal yang harus dimaklumi. Dibawah ini disusun daftar vokalis yang sedapat mungkin mewakili style yang dan dari genre yang berbeda-beda dengan tanpa bermaksud menyudutkan atau menyanjung genre tertentu. Tulisan ini semata-mata dimaksudkan untuk menjadi 'point of reference' bagi pembacanya demi memperkaya pengetahuan dan perbendaharaan pendengar musik sekalian. Selamat Membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. BRETT ANDERSON&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A lot of you would probably slagging me off for this one, what is he doing on the list? Some might ask. Hanya segelintir orang yang benar-benar menyadari kelangkaan bakat vokalis yang kita kenal melalui Suede ini, butuh banyak waktu untuk terbiasa dengan lenguhan suara sengaunya. Mungkin secara konvensional vokal Brett terbilang biasa saja, but come on! Who can forget that lush, sensual, androgynous, operatic, cinematic, and yeah, nasally pinched vocals? Dengan keunikan baritone/tenor switch Brett-lah Suede berhasil merevitalisasi britpop invasion (no, it didn't start with Blur, Oasis, or Radiohead - Suede were the forerunner). Dengan gaya glam-rock dan pesona homoerotic-nya, Brett menjadi figur yang paling dipuja baik oleh wanita maupun pria di era 90an. Dalam hal lirik, mungkin ia tidak banyak membawa pengaruh. But look how much impact he implies on our indie-scene hairstyle? A phenomenon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;09. STINA NORDENSTAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya siapakah gerangan Stina Nordenstam? Meskipun sebenarnya tanpa disadari banyak dari kita yang setidaknya pernah mendengar suara unik vokalis asal Swedia ini. How many of you guys listen to that Romeo &amp; Juliet motion picture soundtrack, or Mew's Frengers album maybe? Vokal childlike dan angelic-nya yang sangat original lah yang membuat Stina diakui dan banyak mendapat perhatian serta tawaran kolaborasi dari sesama musisi. Walaupun seringkali diperbandingkan dengan Bjork, namun secara musikalitas Stina lebih unggul karena lebih berkonsentrasi pada vokal daripada aransemen musiknya sendiri, terbukti dengan teknik produksinya yang selalu minim alat musik dan terkesan rapuh. Stina terkenal sangat mahir dalam hal memanifestasikan berbagai macam emosi dengan suara imut-nya, membuat lirik-lirik yang ia nyanyikan terdengar lebih hidup dan nyata.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;08. EDDIE VEDDER&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengenang masa kejayaan musik grunge, mungkin yang akan muncul di benak kita adalah nama-nama seperti Chris Cornell, Kurt Cobain, atau bahkan Scott Weiland. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa Eddie Vedder dan Pearl Jam lah yang sebenarnya menyulut meledaknya 'Seattle sound' di era 90an. Dengan gaya bernyanyi khas yang dalam bahasa sunda disebut 'ngaheungheum' ini, Vedder sukses melengkapi salah satu revolusi terbesar dalam sejarah musik dengan vokal baritone dan lirik-liriknya yang bahkan lebih 'confessional' dari Dashboard Confessional sekalipun. Ia juga mendapat kehormatan dengan menjadi vokalis untuk proyek reuni band-band legendaris seperti The Doors dan The Who. Gaya vokalnya menjadi salah satu style yang paling banyak ditiru oleh musisi lain seperti Scott Trapp, Daniel Johns, dan bahkan our very own Ariel Peterpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;07. ZACK DE LA ROCHA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rage Against The Machine might be the most well respected American act to date. Known equally for their highly innovative sound and rebellious political activism that both successfully revitalized rock music and regained public political awareness. And to that, Zack was found guilty as charged. Jauh sebelum Linkin Park, Korn, dan Limp Bizkit muncul, Zack-lah yang pertama memperkenalkan bernyayi rap dengan iringan musik hard rock atau metal. Selain scream dan growl yang memekakkan telinga, kekuatan Zack terletak pada lirik-liriknya. Slogan dan kritik anti-Amerika yang disajikan dengan sentuhan puitis sukses menumbuhkan kesadaran politik di kalangan pendengarnya termasuk kalangan muda di Indonesia. Idealisme dan kontribusi nyatanya dalam sejumlah isu-isu politik dan sosial membuat Zack selamanya dikenang sebagai 'sang penyuara kebenaran'. Take that, Bono!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;06. BETH GIBBONS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A look at the pop culture reveals that female singers with chiseled abs, overdone hair, skin-tight pants, shellacking make ups, and candy-like vocals dominated the music industry. Well, Ms. Gibbons isn't about pop. Dengan penampilan pucat, kurus, pendiam, dan selalu berpakaian tertutup, Ia lebih cenderung melambangkan ketertindasan daripada gemerlap gaya hidup vokalis band. Namun ini bukan berarti kemampuan vokalnya bisa disepelekan. Range vokalnya sangat tidak biasa; she can sound like a witch from a fairytale one moment and an opera singer the next. Melodi dan suara ajaibnya lah yang menghantarkan suasana haunting dan dark yang mengalir dalam musik Portishead. Sebagai lyricist, puisi yang mengalun dalam lagu-lagunya menggambarkan depresi dan kesepian yang sangat menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;05. MATT BELLAMY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan memiliki beberapa aliran yang diantaranya ada yang disebut sebagai aliran Impresionisme. Dalam bidang olah vokal, Matthew Bellamy mungkin jadi orang yang paling tepat mewakili aliran diatas (jika memang ada). Matt memiliki visinya sendiri tentang bagaimana mengolah vokalnya menjadi sebuah melodi yang mau tak mau akan melekat di benak setiap pendengarnya, how many singer out there who could actually copy a guitar sound with his voice? (Muscle Museum). Elemen-elemen melankolis, latin, grunge, dan bahkan classic opera diramu dengan teknik dan range vokalnya yang diatas rata-rata, menjadikan gaya bernyanyi Matt sangat sukar untuk ditiru. Have you ever been to a high school band festival before? How many Muse cover act DID get that exact (or at least acceptable) pitch? Fookin' NONE!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;04. DANI FILTH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vokalis band black metal Craddle of Filth ini terkenal dengan rangenya yang luas dan karakter vokalnya yang sangat beragam. Dani bisa bernyanyi dengan sangat merdu dan halus namun dalam sekejap berubah menjadi geraman kasar yang menakutkan. Ia setidaknya menguasai empat jenis style, suara lembut yang melankolis, vokal goth-opera, growl, dan bahkan suara-suara ‘iblis’ yang kadang terdengar 'mengganggu'. He's the most wicked vocalist in rock, deceivingly majestic and horrifically powerful. Sepanjang karirnya, Dani adalah salah satu vokalis yang pertama kali memperkenalkan double-track vocal recording dalam album-albumnya, belum lagi eksperimen-eksperimennya dengan efek-efek vokal yang sangat inovatif. Sebagai referensi, coba saja dengarkan "At The Gates of Midian". If you don't get goose bumps, then you better check your pulse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;03. ANTONY HEGARTY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sound gitar, keyboard, bass, bahkan drum mungkin dapat sedemikian rupa di eksplorasi sehingga mendapat predikat 'eksperimental'. Tapi sejauh apa kita bisa bereksplorasi dengan vokal? Antony adalah salah satu bukti bahwa masih ada orisinalitas dalam dunia tarik suara. He sings like a bluesy opera singer and switches timbre from masculine to feminine in the space of a breath (to thh fact that he is a transvestite). Setiap orang yang mendengar suaranya untuk pertama kali hampir pasti akan dibuat tercengang dan takjub, bukan saja karena keunikan vokalnya tapi juga karena keindahan tekstur dan betapa setiap nada yang ia nyanyikan mewakili emosi yang dalam. Lou Reed bahkan menangis mendengar suara vokalis Antony and The Johnsons ini, If Lou Reed sheds a tear for this enchanting and talented outsider, what chance do we mere mortals have?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;02. ELIZABETH FRASER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai malaikat itu memang benar-benar ada, mungkin kurang lebih suaranya akan terdengar seperti Elizabeth Fraser. Dengan gaya bernyanyi yang sangat istimewa dan hampir seperti glossolalia atau bahkan mouth music, vokalis Cocteau Twins ini sering disebut-sebut sebagai vokalis wanita terbaik se-Britania. Vocal work-nya yang sangat unorthodox dan abstrak, serta lirik-liriknya yang sulit dicerna telah banyak mengundang perdebatan diantara para pengamat musik berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan musik indie yang meluas bahkan hingga ke Indonesia. Suara indahnya bahkan juga diakui oleh dunia sinematografi, dengan kontribusinya dalam dua film awal Lord of The Rings (see Gandalf's lament and the death of Haldir at Helm's Deep) yang sukses membuat suasana dunia peri terkesan nyata dalam film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;01. JEFF BUCKLEY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak begitu banyak orang yang mendengar musik atau bahkan mengenal seorang Jeff Buckley. Mengingat karier bermusiknya yang relatif singkat dan hanya merilis satu album Grace yang sekaligus menjadi epitaph bagi Jeff menyusul kematiannya yang tragis tahun 1997. His first and last album would be the only proof that such raw human emotion and very rare, special talent ever to be captured in music. Hal pertama yang akan disadari ketika kita mendengar suara Jeff adalah betapa dalam ekspresi yang ia curahkan dalam caranya bernyanyi. Range yang luas, falset yang menyayat, dan vibra yang meluluhkan hati menjadikan setiap nada yang ia nyanyikan terasa benar-benar mewakili hati dan jiwanya, seakan-akan musik tidak pernah terdengar begitu jujur dan berkesan. Style-nya yang sangat beragam dari Arabian hingga choir, mewakili influencenya yang terbentang luas dari Led Zeppelin, Van Morrison, hingga penyanyi sufi Nusrat Fateh Ali-Khan. Lirik-lirik tentang cinta dan keindahan yang dicerminkan dalam cerita hidupnya, dinyanyikan dengan pendekatan subyektif yang membuat pendengar merasa benar-benar mengalami apa yang diceritakannya. Jeff Buckley made us felt both vulnerable and invincible; his death was surely a greater loss to music than Hendrix ever was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those who almost made it to the list :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt; Morrissey&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Thom Yorke&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; James Dean Bradfield&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Jon Thor Brigisson&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Liam Gallagher&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Chris Cornell&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kurt Cobain&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Annie Lennox&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bjork&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Nick Cave&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Billy Corgan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kim Gordon&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Nina Gordon&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tori Amos&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Damon Albarn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eko)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116642487362769955?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116642487362769955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116642487362769955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642487362769955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116642487362769955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/12/ten-best-vocalist-of-past-10-years.html' title='TEN BEST VOCALIST OF THE PAST 10 YEARS'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116590688973862418</id><published>2006-11-11T22:54:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T23:01:29.976-08:00</updated><title type='text'>the sigit</title><content type='html'>You've heard 'em everywhere. EP-nya terjual habis, single "Did I ask your opinion?" menarik perhatian FFWD records untuk menjadi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah, dan baru-baru ini label indie Australia, Caveman, mengedarkan EP mereka di sana. Hm, ready to go international, guys? Encore mengobrol banyak dengan Rekti (vokal), Farri (gitar), Acil (drum), Adit (bass) di sela-sela jadwal rekaman mereka untuk album yang rencananya edar November nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kenapa The Super Insurgent Group of Intemperance Talent? By the way, nama itu terdengar narsis.&lt;br /&gt;TS : O ya? Wah kita ga terlalu mikirin sih. Ga ada alesan khusus juga. Biar ga ada yang nyamain aja. Dulu kan namanya Cinnamon, sekarang ada kan band lain namanya itu, di luar juga ada. Ya kalo ada kesempatan untuk terdengar di luar terus namanya sama kan ga enak. Kalo arti sendiri bisa diartikan macam-macam lah, bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Emang awal kebentuknya gimana?&lt;br /&gt;TS : Kita udah temenan dari SMP. Maen bareng, dengerin musik yang sama. Asalnya bawain macem-macem kaya Stone Roses, Iggy Pop. Itu masih Cinnamon, sama ada dua orang lagi yang sekarang ngilang. Tapi buat resminya sendiri The S.I.G.I.T dan bawain lagu sendiri sih baru tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Udah pernah gonta-ganti personil?&lt;br /&gt;TS : Ngga. Kalo ganti satu bubar aja. Ato ganti nama. Kita nyaah sih ke band ini. Udah kesatuan. Yang kita utamain connectionnya, nyambungnya, walopun maennya asal-asalan ya kita bisa menikmati. Karna temenan udah lama, jadi udah nyatu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kok lama banget nih albumnya?&lt;br /&gt;TS : Ya emang baru dapetin kontraknya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Artis pertamanya FFCuts?&lt;br /&gt;TS : Artis lokal pertama, ya. Sebelumnya mereka pernah merilis kompilasi kayak Nine Inch Nails sama Atari Teenage Riot gitu. Tapi mundur lagi nih keluarnya, mungkin habis lebaran. Ini masih rekaman dan dipoles-poles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : NME (nme.com) menyebut kalian "scorching gonzo zep rock". Gimana ceritanya tuh?&lt;br /&gt;TS : Kita rajin ngirimin demo ke label-label luar. Wah, ga nyangka juga sih. Cuman sebaris kalimat gitu, tapi ya deg-degan juga. Jadi berharap-harap cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Berharap go international?&lt;br /&gt;TS : Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Zep rock. Musik kalian emang terpengaruh banget sama Led Zeppelin ya?&lt;br /&gt;TS : Yah, standarlah buat yang punya orangtua kelahiran 50-an. Kita jadi ikut dengerin juga. Led Zeppelin, Beatles, T Rex, Robert Johnson, The Datsuns, Deep Purple. Banyak sih influence mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kemaren interview di DRS (deathrockstar.info) kok kayaknya galak? Sentimen pribadi karna EP-nya cuman dinilai 2.5 (dari 10)? Atau karna dibilang "just another garage-rock band"? TS : Oya? Padahal ngetiknya sambil ketawa-ketawa kok itu. Itu kan pertanyaannya lewat email. Ya, kalo nilai mah, bebaslah. Secara pribadi dari kualitas rekamannya kita sendiri emang ga puas. Itu kan pendapat orang. Ga ambil pusing.&lt;br /&gt;Rekti : Hm, kalo terlalu banyak "yeah" dan "ah". Saya nulis lagu itu waktu 19 taun. Peralihan dari sma ke kuliah, masih ga stabil. Abg labil. Siapa sih laki-laki umur 19 yang ngga marah-marah mulu, ga anjing-anjingan. Kalo dibilang garage rock ya garage rock scara sound mah. Tapi, ah moal maju-maju lah musik di Indonesia kalo terlalu terpaku sama genre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Pantesan, ada yg bilang The S.I.G.I.T livenya bagus rekamannya jelek&lt;br /&gt;TS : Ya itu tadi karna EP itu rekamannya dipaksakan dan dipepet-pepet dan modalnya dikit. Rekaman sendiri. Sama Spills cuman dibantuin peredarannya. Tapi yang kemaren itu banyak yg beredar ke luar malah versi demo yang kualitasnya pas-pasan banget. Kita pernah ke radio juga dia masih nyetel yang demonya, padahal udah ada EP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Seneng apa bete sih lagunya banyak dibajak?&lt;br /&gt;TS : Kalo banyak yang beli baru seneng. Untuk sekedar tau bolehlah download, tapi kalo suka ya beli aslinya. Kita juga gitu kok, seneng download tapi ya kalo suka beli kan buat koleksi kan? Bangga gitu. Tapi ya.. susah juga sih. Apalagi di Indonesia kan, terbenturnya sama masalah ekonomi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Imej apa sih yang pengen ditampilin?&lt;br /&gt;TS : Kita sendiri menikmati musik kita sendiri. Lebih mementingkan ke menghasilkan sesuatu yg kita suka. Ga terlalu terpaku pada genre. Imejnya yang keluar ya itulah. Itu kan lebih ke penilaian orang. Kita sih ngerasa ya sehari-hari gini aja. Kita udah cinta, udah nyaah sama band ini, jadi kliatan sama orang enak, bener-bener pake hati. Ga terlalu ngikutin pakem orang. Kritik tetep diterima tapi ga sampe jauh ngubah. Kita ga pernah ngerasa "aing band rock yeuh". Kita mah ya gini aja. Ga usah tiap hari pake clana ketat. Apa adanya aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Pengalaman manggung paling ngebetein?&lt;br /&gt;TS : Bete ngga, cuman ada ga puas. Macem-macem, ada panitianya, ada kitanya maen kurang bagus, ada sound systemnya kaya tai. Banyak faktor lah. Pernah ada penonton bawa beceng. Tapi untungnya bukan ke kita sih, ditodongin ke band yang maen sebelum kita pas Tribute to Rolling Stones. Gara-gara dia gak bawain lagu Rolling Stones. Padahal kita juga nggak bawain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Emang ga mau ya bawain lagu tribute gitu?&lt;br /&gt;TS : Bukannya ga mau sih tapi waktu itu belom sempet latihan aja. Kita diajakinnya seminggu sebelom acara. Kata panitianya nggak apa-apa ya udah aja. Tapi kayaknya kalo acara tribute gitu mendingan buat band yang udah bubar atau udah meninggal gitu ya? Masa band masih ada, masih produktif, dibikin tributenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ada rencana kolaborasi?&lt;br /&gt;TS : Belom ada, sekarang kita masih konsen ke album. Eh tapi ada sih di album ini Jamie Aditya jadi backing vokal. Itu juga ga sengaja. Tadinya dia mau minjem bassnya Adit. Terus dimintain tolong mau aja, dia kan orangnya emang gitu supel ma spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Di album nanti berapa lagu?&lt;br /&gt;TS : 13, yang barunya 10, 3 dari EP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ok deh ditunggu ya albumnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(devishanty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116590688973862418?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116590688973862418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116590688973862418' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116590688973862418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116590688973862418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/sigit.html' title='the sigit'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556146921826530</id><published>2006-11-07T22:59:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:22:52.336-08:00</updated><title type='text'>Vina "Non" Prisadena</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Vina "Non" Prisadena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Non-Typical Girl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Bandung sedang panas-panasnya ketika seorang perempuan cantik menyapa saya dengan heboh di sebuah clothing di kawasan Setiabudi. "Kamu mau minum apa? Frestea? Teh Botol? Coca Cola?" tanyanya mengabsen merk-merk minuman ringan. Tidak lama kemudian ia kembali membawa 2 botol Frestea dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina Prisadena, perempuan itu, memang terkenal ramah. Dan cantik, pastinya. Dan setelah ngobrol beberapa lama dengan gadis yang biasa dipanggil Non ini, we found out that she really is NOT a typical girl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Encore (NCR) : Kenapa sih dari Vina jadi Non?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Panggilan orang rumah sih, dari kecil. Ngga tau kenapa. Kayaknya karna dulu pembantu biasa manggil 'Non.. non', jadi kebawa-bawa. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Sekarang lagi sibuk ngapain aja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Ngurusin ini nih, mo buka cafe. Eh, warung. Hehe. Namanya Frontyard. Di sini jadi finance manager. Ama bantu-bantu di Popcycle. Jadi finance juga. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswi Akuntansi Universitas Widyatama ini bukan hanya memilih akuntansi sebagai objek studinya, tapi memang cita-citanya sejak dulu pengen jadi akuntan. Bahkan hobbynya pun, "Segala hal yang detail. Gua suka ngotak-ngatik gitu. Yaa.. kayak akuntansi lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Hobby yang lain? Selain akuntansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Baca kali ya. Sama maen ama kucing! Gua punya kucing di rumah, namanya Wonka. Dia lahirnya pas lagi jaman film itu.. Willy Wonka (Charlie and The Chocolate Factory).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Penulis favorit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Dan Brown. Dia tuh bisa menghadirkan.. apa ya namanya? Teka-teki.. misteri gitu.. Duh, apa ya namanya? Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Any favorite musician?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Kalo lokal Non suka Ernie and Bird. Kalo luar negeri.. Vian, Non suka siapa sih musisi luar negeri? (nanya ke Vian, pacarnya yang kebeneran lagi lewat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vian : Michael Buble.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Oh iyah. Michael Buble. Hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngga lama kemudian, Aji The Milo lewat, dan percakapan di bawah ini terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Ji, tadi Non ditanya musisi favorit, terus aku jawab Bird and Ernie loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ernie and Bird ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Eh.. Ernie and Bird ya? Aji, Ernie and Bird atau Bird and Ernie sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji : Bird and Ernie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Eh salah, Lik. Bird and Ernie. Hehe. Maafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And what do you know, ternyata Non pernah ngeband juga waktu SMA. Sebagai vokalis sebuah band bernama Blue Monday yang ngebawain lagu-lagunya The Cardigans. "Tapi ngga mau lagi ah, soalnya Non suka grogi, kalo lagi di panggung suka gemeteran. Hehe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Punya idola ngga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Siapa ya? Non suka kakaknya.. siapa sih pembawa acara Siapa Berani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Alya Rohali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Nah, kakaknya Alya Rohali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Emang siapa? Terkenal ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Ngga sih, tapi dia ngatur finance-nya keren banget!! Hehe. (teuteup.. -Red) Non baca waktu itu di Femina. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Cowok kayak gimana sih yang bikin kamu ilfeel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Cowok yang sebagai. Gimana ya jelasinnya? Pokoknya yang menunjukkan ke orang-orang bahwa 'gue ini loh.. gue itu loh..'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Jadi sukanya yang kayak gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Yang low profile, ngga aneh-aneh, dan jujur. Jujur tuh harus, soalnya cowok kan tukang bohong ya. Hehe.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Vian (pacar), Boy dan Sigit (sobat-sobat Non) lewat. Saya sempatkan minta testimonial dari mereka about Non.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boy : Si Non teh bodor. Lucu banget. Trus low profile.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vian : Iya. Down to earth, easy going, kalo ngerjain sesuatu tuh fokus banget sampe lupa ama yang laen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boy : Jago masak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit : Orangnya saklek. Kalo salah ya dibilang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vian : Iya, di antara temen-temennya, dia yang paling objektif. Kalo kita curhat sama dia, meskipun kita temennya, tapi kalo kita salah, dia tetep bilang salah. Ngga ngebelain kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit : Trus si Non teh bagus ngatur keuangan orang lain, tapi keuangan diri sendiri kacau. Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Hehe. Iya sih bener. Kayak psikolog aja. Nanganin masalah orang lain, tapi sendirinya stress. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasak, ternyata adalah bakat terpendamnya. Meski mengaku ngga hobby, dia ternyata bisa bikin beberapa masakan, terutama menu favoritnya: masakan Jepang. "Non seneng bikin sushi," ujar mantan store manager dan waitress sebuah restoran Jepang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat botol minuman saya sudah kosong, Non menawari lagi, "Non ambilin minum lagi ya?" Waduh.. tuan rumah yang baik. Hehe. Setelah menolak tawarannya, saya minta dia bercerita tentang keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tuanya bercerai ketika Non masih berumur 1,5 tahun. Ia lalu tinggal bersama neneknya sampai sekarang, sementara kedua orang tuanya membentuk keluarga baru. “"Papah nikah lagi, tapi ngga punya anak. Mamah punya anak 3, cowok semua. Gua deketnya ama nenek. Kalo ama mamah ngga pernah nyambung. Soal kuliah, kerjaan, pacar, ngga pernah nyambung. Kalo si papah mah iyah-iyah aja. Hehe"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Katanya kalo anak tinggal sama neneknya suka jadi manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Iya ya? Gua juga manja sih, kalo sama orang-orang tertentu. Tapi ngga manja dalam hal.. apa ya.. Ya gua ngga dibesarkan oleh keluarga yang banyak duit, jadi ngga manja yang gimanaa gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Tadi pagi katanya nganter nenek dulu ya? Kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Iya, jadi nenek gua tuh lucu deh. Punya geng gitu, 8 orang, nenek-nenek semua. Hehe. Terus ada salah satu yang lagi sakit, temen segengnya. Udah parah banget. Tadi gua anter nengok ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ngomong-ngomong, seneng ngga sih banyak yang naksir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Iya gitu? Ah gua mah ngga pernah mikirin yang gitu-gitu sih. Lagian kan gua ngga pede-an orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kok ngga pede?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Abis bodo sih. Kuliah 7 taun ngga lulus-lulus.  Hehehe. Ya, emang ngga pede aja. Background keluarga kali ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek penyuka Jude Law ini ternyata ngga seperti cewek lainnya. Dia ngga suka shopping. "Kalo ke mall paling-paling ngopi. Ngga suka sih shopping, window shopping gitu." Dia juga mengaku jarang beli baju. Biasanya hanya ikut pesen kalo ada temannya yang lagi bikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Gaya berpakaian kamu kayak gimana sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Ah, apa aja lah. Yang penting enak dipake. Gua mah ngga pernah yang 'eh ini lagi ngetrend, pake ini aja ah.' Biasa aja sih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kamu sih pake baju apa juga pantes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Ngga ah, gua teh pinggulnya gede. Jadi ngga boleh pake bawahan yang lebih terang dari atasan. Ntar badannya jadi keliatan cutbray. Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Potong rambut di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Di si Black paling. Jarang ke salon sih. Paling kalo potong rambut doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, kalo kamu ketemu Non di jalan dan menyapa dari jauh, jangan tersinggung kalo dia tidak merespon. Matanya yang minus membuat dia harus menyipit-nyipit dulu sebelum bisa melihat si pemanggil dengan jelas. "Dulu pernah pake softlens tapi iritasi. Karna jorok kali ya. Kalo pake kacamata ribet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Udah kepikiran kawin belom?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Harusnya sih udah ya. Sudah waktunya, udah 25 taun gitu loh. Hehe. Tapi ngga tau nih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Tapi masih keliatan kayak abege kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Karna bergaulnya sama brondong kali ya. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR 2 : Tapi kalo ke mall sekarang lebih seneng masuk toko baju atau toko furniture?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR 1 : Kok furniture sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR 2 : Ya jawab aja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Mm.. furniture deh kayaknya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR 2 : Kalo lebih seneng liat-liat furniture berarti udah pengen kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non : Hahaha.. iya ya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lika)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556146921826530?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556146921826530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556146921826530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556146921826530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556146921826530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/vina-non-prisadena.html' title='Vina &quot;Non&quot; Prisadena'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556090352816861</id><published>2006-11-07T22:52:00.001-08:00</published><updated>2006-12-12T00:21:02.503-08:00</updated><title type='text'>Les Voila Rock</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Les Voila Rock&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya apa gelaran musik yang paling happening sekaligus ditunggu-tunggu di kota Bandung, mungkin jawaban yang akan keluar dari mulut sebagian orang adalah Les Voila. Dan kini dia kembali lewat Les Voila Rock Edition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme orang Bandung untuk menikmati Les Voila memang tak ada habisnya. Harga tiket sebesar sepuluh ribu rupiah yang dipasang panitia, tidak menyurutkan niat mereka menonton Les Voila. Beberapa hari sebelum acara digelar, saya bahkan sempat menguping percakapan seru antar tiga cowok di sebuah angkot mengenai Les Voila. Isinya apalagi kalau bukan rencana mereka menonton The Brandals yang menjadi salah satu pengisi acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCF yang ada di kawasan Purnawarman kembali dipenuhi orang-orang Sabtu (26/8) kemarin. Padahal gate baru dibuka sekira pukul delapan malam, tapi penonton sudah mengantre sampai tempat penjualan tiket dari pukul tujuh malam. Beberapa orang malah terlihat memasang muka kecewa karena kehabisan tiket. Yaa... too bad, guys!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul delapan teng, band garage rock asal Jakarta yaitu The Brandals membuka Les Voila. Biasanya penonton menikmati pertunjukkan sambil duduk-duduk kalem, tapi sekarang hampir semua penonton (apalagi cowok) memilih berdiri sambil berjingkrak mengikuti raungan musik dari Eka, Rully, Toni, Dodi, dan Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaket kulit dan celana ketat khas rock and roll tidak ada dalam kamus The Brandals malam itu. Malahan Eka berdandan cantik, memakai wig pirang dan memakai baju kembang-kembang yang feminim. Personel yang lain pun tak ingin kalah gaya memakai syal bulu dan bermake-up menor. Tapi tentunya, The Brandals enggak lantas jadi cemen. Mereka tetep gagah membakar semangat penonton Les Voila. Eka malah sempat moshing dan diarak penonton kembali ke panggung. Pffuiiiih, The Brandals malam itu benar-benar tampil kencang persis seperti lagunya yang berjudul "100 km/jam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya masih dari kota yang sama, tampil United by Haircut. Lima anak muda ini tampil preppy dengan balutan kemeja putih dan kaus hitam. Saat MC mengumumkan nama mereka sebagai penampil selanjutnya, banyak penonton yang langsung menyeruak maju ke depan panggung. Tak salah juga sih, permainan musik Antya dan kawan-kawan memang menawan. Kesalahan teknis seperti sound keyboard dan gitar yang tiba-tiba mati, tidak membuat mereka mati gaya. Karena Kas (vox) lumayan komunikatif. Lagu terakhir "Benefit (being a rabbit)" bahkan dibawakan medley dalam dua versi berbeda. Cool!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The Experience teh band mana?" tanya seorang musisi indie pada temannya yang dijawab dengan gelengan kepala. Eits, jangan salah! Meskipun masih asing di telinga, tapi lagi-lagi penonton Les Voila menggoyangkan kepala dan kaki mengikuti irama musik The Experience. Di akhir lagunya, salah seorang personel sempat memainkan gitar dengan giginya. Aksi ini pun tak pelak mendapatkan teriakan penonton, hehehe...I'm sure this band's gonna be something someday...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, saya sempat bertemu dengan dua sejoli Nasta dan Batman Goodnight Electric. Mereka mengaku datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung demi menonton sebuah band. Well, siapa lagi kalau bukan Teenage Death Star! Belum apa-apa, band yang dikawal oleh para "nenek moyang" indie kota Bandung ini sudah mengundang lebih banyak teriakan histeris. Tidak ada Iyo malam itu, tapi tetap saja Teenage Death Star sukses membuat Les Voila semakin bergairah. Keringat membasahi sekujur tubuh Alvin yang tampil total memainkan gitarnya. Stand mic yang rusak langsung diganti dengan tangan panitia yang menyodorkan mic untuk Alvin. Di lagu terakhir yaitu "Teenage Death Star", mic sempat mati, tapi tenang saja... puluhan penonton Les Voila tanpa dikomandani sudah bernyanyi mengikuti Acong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh musik Teenage Death Star membuat suhu udara di Auditorium CCF semakin panas dan keringat pun membasahi tubuh. Tapi itu semua tidak membuat penonton beranjak pergi dari sana, malahan dengan setia mereka menunggu bintang tamu terakhir yaitu Sendal Jepit yang menutup rangkaian Les Voila Rock Edition malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, does Les Voila Rock Edition rock this time? I sure think so..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Meira Suryana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556090352816861?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556090352816861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556090352816861' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556090352816861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556090352816861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/les-voila-rock.html' title='Les Voila Rock'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556076486330244</id><published>2006-11-07T22:52:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:52:44.916-08:00</updated><title type='text'>LAUNCHING ALBUM BURGERKILL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; LAUNCHING ALBUM BURGERKILL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita membahas launching album Burgerkill yang paling emosional ini, alangkah lebih baik jika kita mendoakan sejenak almarhum Ivan (ex-vokalist burgerkill). Ya.. semoga arwah beliau diterima di sisi Tuhan yang maha esa. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well.. minggu ini adalah minggu yang paling berkabung bagi para pencinta musik indie, terutama bagi para metalhead sejati di kota kembang Bandung. Karena kita semua baru saja kehilangan salah satu musisi yang paling berpengaruh bagi perkembangan musik hardcore di kota Bandung, selain band Puppen (R.I.P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan, dia meninggal dunia karena mengidap penyakit TBC yang telah lama dideritanya. Meskipun dia telah meninggalkan kita semua, tapi semangat dan jiwanya (saya yakin) akan tetap selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah.. kalimat tersebut sangat cocok untuk menggambarkan betapa emosionalnya para metalhead sejati yang datang ke acara launching album ketiga Burgerkill yang berjudul "Beyond Coma And Despair", yang bertempat di Dago Tea House.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila..untung gua pake baju hitam, kalo engga, gwa bisa salah kostum nih,hehe.." ujar Iqbal salah satu pengunjung pada acara ini. Ya, hampir semua pengunjung ke acara ini memakai baju berwana hitam, karena mereka semua turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum launching album Burgerkill dimulai, banyak pengunjung yang bertanya-tanya, siapa yang nanti akan menggantikan posisi ivan di band Burgerkill, banyak sekali seliweran-seliweran tentang siapa orang yang akan menggantikan ivan. Mulai dari Iyas (Alone At Last), Vicky (Heaven Fall) dan Teguh (Right 88). Tapi ternyata setelah saya mencoba meminta informasi ke beberapa panitia, saya mendapatkan nama yang berbeda. Yang menggantikan posisi Ivan ternyata adalah Yadi Behom (ex- Jasad). Di dalam hati, saya berkata, apakah karakter musik Burgerkill setelah ditinggal Ivan akan semakin gila? Semakin kuat? Dan semakin gelap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang benar! Acara digeber lagsung dengan single Darah Hitam Kebencian. Yadi Behom yang sebelumnya adalah vokalis dari band Black Metal Jasad sangat kuat sekali karakter vokalnya. Growl-growl yang berat membuat Burgerkill tidak terlihat sepeti band hardcore, tetapi telah berubah menjadi band death metal. Ditambah lagi distorsi dan petikan-petikan dari gitar Eben maupun Agung, cabikan bass yang kuat dari Ramdan (ex-Balcony) dan pukulan-pukulan drum yang sangat berenergi dari Andris membuat karakter musik Burgerkill semakin kuat!!! Kemudian disusul dengan single Luka, Penjara batin, Shadow of sorrow dan We will bleed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung, gitaris dari burgerkill memainkan single Anjing tanah dengan format akustik. Petikan-petikan gitar yang sekilas seperti irama klasik membuat acara ini semakin dramatis dan penuh misteri, hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton semakin liar ketika Burger kill membawakan single-single seperti Unblessing life, Berkarat, Rendah dan Angkuh. Growl sang vokalis, Yadi Behom semakin berat, semakin gelap. Dan sesekali saya bisa mencium wangi-wangi naga bonar, sehingga membuat kepala saya sedikit dung-dueng alias pusing, hehehe.. Tapi itu semua tidak  menyurutkan semangat saya untuk nyaksiin band sebrutal Burgerkill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damn.. beberapa hasil foto saya terlihat tidak fokus karena saya sedikit merinding, terlebih ketika Adi Gembel (vokalis band death metal Forgotten), membacakan sedikit prolog atau puisi karangan almarhum Ivan sendiri. Dan suasana pun semakin mengharukan ketika beberapa penonton sesekali menyerukan nama Ivan, "Ivan I Miss U!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana semakin dramatis ketika Adi Gembel memasangkan ikat kepala yang biasa Ivan gunakan untuk manggung, ke stand mic. Lalu secara tiba-tiba masuk single Sakit Jiwa, single ini sangat identik dengan Ivan dan Burgerkill sendiri. Yang menarik single ini tidak diisi oleh vokalnya Yadi behom, tetapi diisi oleh vocal para penonton!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penonton hafal betul dengan single ini, "Sakit Jiwa!!! Sakit Jiwa!!!" Saya pun ikut berteriak keras dengan lantangnya. Pas saya iseng menoleh ke belakang, saya melihat Themfuck (vokalis Jeruji) tertunduk sambil meneteskan air mata. Fuhhh.. saya pun mengambil nafas untuk beberapa detik, lalu kemudian berusaha mengambil moment yang mengharukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya single Atur aku menutup rangkaian acara launching album Burgerkill yang ketiga "Beyond Coma And Despair". Burgerkill menutup acara ini dengan performa yang liar dan brutal!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yadi Behom, Agung, Eben, Ramdan dan Andris malam ini telah menyuguhkan performance yang sangat berkualitas, berkarakter kuat dan gelap. Saya yakin semua itu karena jiwa dan semangat Ivan hadir ditengah-tengah mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Congratulations guys!! That is the most emotional show..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adhi Pratama)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556076486330244?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556076486330244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556076486330244' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556076486330244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556076486330244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/launching-album-burgerkill.html' title='LAUNCHING ALBUM BURGERKILL'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556054170987112</id><published>2006-11-07T22:45:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:30:21.870-08:00</updated><title type='text'>IT’S A CLOSING PARTY OF JAKARTA 32!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; IT'S A CLOSING PARTY OF JAKARTA 32! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari acara ini sudah mengundang perhatian banyak orang, termasuk saya. Dari ruangrupa.org, saya memperoleh penjelasan singkat bahwa gelaran ini merupakan sebagai sebuah proyek seni yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 32 sendiri dilaksanakan di Galeri Nasional dari tanggal 5-19 Agustus 2006. Karya seni yang dipamerkan? Jangan tanya karena banyak sekali. Satu yang menarik perhatian saya adalah lukisan berjudul "Rain Falls Down But No Live Has Given". Damn! Apalagi bagian pameran yang mempertunjukkan foto-foto bugil bertema kehidupan urban Jakarta. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pameran selama dua minggu, saatnya penutupan pun telah tiba. Di websitenya, panitia memajang kalimat ini: "Menampilkan pertunjukan musik &amp;amp; DJ yang sungguh oke dari mahasiswa ibukota". Ya dan mereka terbukti tak berlebihan. Bersama The Porno, Poliponi, dan Jalur Pantura, seluruh pengunjung Jakarta 32 bergoyang bersama di Galeri Nasional hingga malam berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Meira Suryana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556054170987112?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556054170987112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556054170987112' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556054170987112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556054170987112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/its-closing-party-of-jakarta-32.html' title='IT’S A CLOSING PARTY OF JAKARTA 32!'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556033142114640</id><published>2006-11-07T22:43:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:45:31.526-08:00</updated><title type='text'>ELOQUENT : PERSONALITAS DALAM MAJALAH MUSIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ELOQUENT : PERSONALITAS DALAM MAJALAH MUSIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola sebuah majalah musik, memang tak semudah sekadar menerbitkannya. Ada banyak hitungan yang perlu dicermati. Saya pernah dipercaya buat memenej satu majalah yang isinya dominan musik. Dan ini cerita saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUJURNYA, pengetahuan musik saya tak banyak. Meski punya satu dua jenis musik favorit, hafal sejumlah lagu, dan memiliki beberapa band kesukaan -- tapi bukan pencinta mati mereka -- bukan berarti lantas saya berhak menyandang predikat penggila musik. Saya cuma penikmat musik. Karena saya belum kuasa mengenyahkan musik dari bagian hidup saya. Rata-rata, dalam sehari, saya mendengar musik lebih dari 12 jam. Di rumah, di mobil, di kantor. Dan begitulah musik menguasai waktu-waktu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika diminta buat jadi komandan sebuah majalah yang mengusung musik sebagai content utamanya, saya agak tergagap. Tau apa saya soal musik? Saya cuma paham sedikit soal manajerial sebuah penerbitan media massa. Khususnya, bertema hiburan. Sisanya, paling secuil network yang pernah saya rintis di pekerjaan saya sebelumnya. Tapi karena punya tekad buat mengalahkan ketakutan-ketakutan dalam diri saya, juga demi mengembangkan sayap, dan enggan melewatkan tawaran bagus, kesempatan itu saya ambil juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin redaksi baru -- saat itu, majalah ber-tagline musik and lifestyle itu sudah berjalan enam edisi -- saya punya beban cukup berat. Membenahi sistem kerja, memperbaiki kinerja karyawan, dan yang paling utama: meng-up grade kemampuan manajerial saya. Ini bukan barang baru, tapi tetap ada banyak hal yang mesti dikoreksi. Plus, kebiasaan dan gaya menulis saya, yang sepertinya sempat terkubur beberapa waktu, sebelum beroleh pekerjaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, selain satu-dua-tiga pe-er di atas, saya juga masih punya tugas membangun tim yang terdiri dari sejumlah karyawan lama, dan beberapa staf baru. Ini bukan perkara enteng. Untungnya, sebagian besar dari mereka sudah saya kenal, meski belum terlalu akrab. Dan bos saya waktu itu, kebetulan tokoh yang tak asing lagi di dunia penerbitan. Dan itu membuat staf-staf saya cukup respek padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, sudah bisa diprediksi. Saya terbata-bata mengerjakan tugas itu. Masa adaptasi harus dilewati dengan beberapa hambatan. Pasalnya, etos kerja wong lawas dan orang baru agak berbeda. Belum lagi deadline yang kian mencekik leher. Lucky me, semua punya keinginan yang relatif sama: memperbaiki mutu kerja demi kemajuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, satu demi satu bisa direvisi. Jadwal terbit, terutama, yang jadi konsentrasi pertama pembenahan. Karena nafas majalah, ada pada konsistensi jadwal terbitnya. Selain dari iklan dan sirkulasi, tentunya. Kalau terlambat, semua bisa berantakan. Dan jadwal terbit, bergantung sekali pada jadwal produksi, dan jadwal produksi, amat bersandar pada deadline tulisan. Kesadaran ini yang mesti dibangun bersama. Bahwa pekerjaan ban berjalan ini, amat menggantungkan nasib pada semua roda yang berputar. Jika ada satu yang macet, maka otomatis pekerjaan bakal terganggu. Dan bisa berakibat fatal: pantat kita ditendang dari perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, Dewi Fortuna seakan tak mau pergi dari sisi saya. Dibantu banyak tangan, saya mulai mem-power up beberapa rubrik. Ini seperti menggosok intan. Dan bukan cuma intannya yang digosok. Penambangnya juga, ha-ha-ha. Tapi dari sejumput pengalaman yang ada di CV saya, ada poin-poin tertentu yang setahu saya mesti diasah dengan baik. Personality, misalnya. Saya percaya, tulisan atau reportase yang baik juga mesti meninggalkan sentuhan penulisnya. Ada sebentuk kepribadian penulis yang masuk ke dalam tulisannya. Anda tahu maksud saya? Begini, jika pernah mengintip sedikit majalah yang saya maksud, dan tahu sederet penulisnya, niscaya Anda paham maksud saya. Dan pertanyaan-pertanyaan mengapa musiknya si anu sekali, kenapa filmnya terlalu si itu, dan lifestyle-nya amat si dia. All I wanna do is making the magazine become "Gue Banget!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini, saya percaya, bakal memancing banyak argumen. Yang saya mau, tulisan itu hidup, karena personality penulisnya juga hidup. Tidak diam, mati, kaku, dan membisu. Karena kepribadian penulisnya keburu dibunuh kebijakan medianya, demi menjaga konsistensi penulisan. Mereka membuat standar tulisan, yang membikin karakter penulis, tak bisa keluar. Menerapkan proses editing yang berlapis-lapis. Dan mengabaikan gaya penulisan masing-masing penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, ini bukan kekesalan pribadi. Kita lepaskan dulu yang itu. Mengembangkan personality penulis, dan membiarkannya masuk ke dalam tulisan, tentu juga bukan pekerjaan tanpa resiko. Senior Editor saya mengingatkan, jika saya kehilangan para penulis, maka kami punya resiko runtuhnya kepribadian rubrik. Tapi saya bilang, memang itu beban yang mesti ditanggung. Karena sebagai majalah dengan segmen yang spesifik seperti ini, komunitas adalah target market yang mesti disasar. Dan buat menggaet komunitas, perlu personifikasi yang jelas. Dan itu bisa didapat salah satunya dengan mengembangkan personalitas rubrik, juga penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi dengan chemistry yang mesti terjalin dari untaian rubrik yang dimanifestasikan di flow halaman. He-he-he, maaf kalo ini jadi terdengar teknis sekali. Tapi menurut saya, menyusun halaman, adalah sebuah seni. Bagaimana mengatur alur psikis agar perhatian pembaca tetap terjaga dari cover hingga halaman terakhir. Meski paham, menurut psikologi gestalt, keseluruhan adalah bukan penjumlahan bagian per bagian, saya masih keukeuh mempertahankan character building tiap rubrik, begitu juga penulisnya, demi mencapai tujuan tertinggi: mengubah lifestyle menjadi attitude. Bah, saya jadi terdengar seperti pengkhotbah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita kembali ke personalitas. Agak riskan memang. Dan waktu juga yang membuktikan. Ternyata resep saya menjaga karakter penulisan itu berjalan seperti yang diinginkan. Bahkan lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Karakter dari setiap tulisan bisa muncul dengan manis. Dan image majalah makin mengental. Kami jadi yang paling indie di antara yang mainstream, dan jadi yang paling mainstream di kalangan indie. Tapi 12 Tugas Hercules belum tuntas. Saya masih harus menjaga suasana kerja yang nyaman. Agar penulis-penulis yang saya miliki tidak ngacir ke kebun orang. Maka kebebasan yang bertanggungjawablah yang saya berlakukan. Saya percaya, semakin mereka bisa eksis di ekosistemnya, image majalah mereka pun bakal mengikuti ke mana pun mereka pergi. Walau kadang, perlu tambal sulam juga buat menjaga pos yang ditinggalkan penjaganya sementara. Well, selalu ada resiko, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tak selamanya suasana kerja yang nyaman bisa dipertahankan. Yeah, namanya juga dinamika. Tapi saya cukup kerepotan, jika faktor ketidaknyamanan, timbul dari manajemen. Dan jika akhirnya satu demi satu asset beterbangan, begitu juga saya, tak ada lagi yang mesti disesalkan. Saya masih percaya, bahwa kepribadian itu adalah nyawa media. Sekali lagi, ini soal karakter. Dan ketika penjaganya pergi, maka karakternya bakal berganti. Dan saya, hingga detik ini, masih bisa menyampaikan salam itu. Make your own TRAX! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hagi Hagoromo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556033142114640?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556033142114640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556033142114640' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556033142114640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556033142114640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/eloquent-personalitas-dalam-majalah.html' title='ELOQUENT : PERSONALITAS DALAM MAJALAH MUSIK'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556019579708885</id><published>2006-11-07T22:41:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:30:08.473-08:00</updated><title type='text'>lumiere et compagnie</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; LUMIERE ET COMPAGNIE &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Various Directors. 1996. DVD, 88 min.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sinema, Lauren Bacall, aktris film-noir tahun 1940-an, pernah berkata, "The industry is shit, it's the medium that's great." Terdengar sedikit heroik memang, tapi apa boleh buat: dalam wacana sinema, persoalan medium selalu jadi perbincangan menarik. Setelah Louis dan Auguste Lumiere menemukan kamera film pertama di dunia pada tahun 1895, sejarah sinema pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Lumiere et compagnie ini adalah proyek sinting tentang penghormatan pada keajaiban gambar-hidup. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran sinema, 40 sutradara ternama dari berbagai belahan dunia ditantang membuat film pendek dengan kamera Cinematograph, yakni kamera sama yang juga dipakai Lumiere Bersaudara pada tahun 1895. Ada 3 aturan ketat: durasi film tak boleh lebih dari 52 detik, synchronized sound tidak diperbolehkan, dan maksimal hanya 3 kali take.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, tema-tema unik dengan pendekatan beragam. Zhang Yimou menyoroti pergeseran budaya yang tak terelakkan: di Tembok Raksasa Cina, sepasang pemain opera tradisional Peking menjelma musisi punk rock yang garang dan brutal. Wim Wenders kembali berfilsafat tentang kesunyian, menghadirkan malaikat dari film Wings of Desire yang merenungkan lanskap perkotaan dan masa silam. Spike Lee tampil humanis dengan merekam bayi perempuannya sedang belajar bicara, eksekusi yang nyaris gagal jika keberuntungan tak menghampiri di detik-detik terakhir. David Lynch lagi-lagi tampil "sakit" dengan gambar-gambar distorsi, yang tetap saja mengusik mata dan jiwa meski dalam shot hitam-putih sekalipun. Dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikemas dalam nuansa dokumenter, film ini juga menyajikan komentar para sutradara itu tentang pertanyaan esensial, "Why do you film?" dan "Is cinema mortal?" Kalau kamu penggemar rasa pedas, ini jenis rujak yang sangat tepat dan menantang. Jangan pernah mengaku moviefreak kalau belum menonton film ini. Highly recommended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Budi Warsito)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556019579708885?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556019579708885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556019579708885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556019579708885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556019579708885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/lumiere-et-compagnie.html' title='lumiere et compagnie'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116556009653609956</id><published>2006-11-07T22:33:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:41:36.600-08:00</updated><title type='text'>The Celebration</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;THE CELEBRATION (FESTEN) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Vintenberg, Denmark/Sweden, 1998, VHS, 105 min.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah mengalami ini: harus datang ke reuni keluarga besar yang sebenarnya kita tidak pengen ada di sana? Acara di mana kita harus bersikap sempurna, mengangguk sopan ketika orang-orang tua memberi wejangan yang tak perlu, dan terpaksa senyum meski joke yang dilontarkan sama sekali tidak lucu? Lebih parah lagi, seseorang membuka aib si empunya acara di depan para tamu. Rasanya pengen cepat-cepat pulang, tapi bahkan kunci mobil kita pun hilang entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film The Celebration terasa seperti itu. Kalimat di salah satu adegan, "...every family has a secret..." bisa jadi benar, tapi rahasia sialan macam apa yang pantas dibeberkan di depan seluruh anggota keluarga, justru di tengah jamuan makan malam yang seru dan denting gelas anggur yang beradu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Vinterberg berhasil mengembangkan basis cerita keluarga yang berpotensi klise, menjadi narasi gelap, liar, dan meletup-letup. Akting natural dan spontanitas para pemain membuat kejujuran itu terasa dahsyat. Ini karya pertama gerakan DOGME 95 (dan bisa jadi yang terbaik), yakni ideologi membuat film dengan beberapa aturan ketat yang sekilas tampak "merepotkan": kamera harus hand-held, tidak boleh ada cahaya buatan, lokasi syuting harus natural, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun batasan-batasan itu justru mengoptimalkan kekuatan film ini. Resolusi video yang kasar, gerakan kamera bergoyang-goyang, sukses menggambarkan suasana pesta sesungguhnya. Jauh dari cara syuting artifisial yang berusaha tampil sempurna. Musik pengiring pesta yang direkam langsung di lokasi, juga tampang putus asa pembawa acara yang berusaha tetap tersenyum di tengah kekacauan, benar-benar menambah absurditas suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini film aneh yang asyik, atau film asyik yang aneh. Dia tak sekadar merayakan pesta, tapi lebih ke sebuah perlawanan, pemaknaan baru arti sinema. Film tidak lagi dianggap "high art": dengan video berkualitas rendah pun, kualitas cerita tetap bisa digeber. Meski kelak gerakan ini bisa jadi punah juga, setidaknya para pencetus DOGME 95 itu pernah mencoba. Angkat gelas kamu, mari bersulang untuk usaha mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Budi Warsita)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116556009653609956?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116556009653609956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116556009653609956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556009653609956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116556009653609956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/celebration.html' title='The Celebration'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116555941909614645</id><published>2006-11-07T22:22:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:14:45.700-08:00</updated><title type='text'>oz pub on the air</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OZ Pub on The Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, Thank God it's Friday! Pub on The Air kembali mengudara pada hari Jumat (21/7), pukul 20.00, dengan menghadirkan Cola Float, Vincent Vega, dan Ballads of The Cliche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelaran OZ Radio kali ini mengambil tempat di SOHO Musik, Ciwalk. Awal acara dibuka lagu-lagu cinta dengan sentuhan pop yang agak jazzy dari Cola Float membuat malam terasa romantis. Band bernama minuman ini membagikan 4 kaset album perdana mereka, Let's Go. Album kedua dari band yang sudah terbentuk sejak Agustus 2000 ini akan dirilis oleh major label.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keriaan mulai tampak ketika Vincent Vega hadir. Finalis LA Lights Indiefest ini tampil berbeda dari band yang bermain pada hari itu. Musik band yang senantiasa bercelana skinny ini cukup "kencang" dengan aliran rock n roll bercampur gaya britpop. Lagu Shane yang dijagokan dalam Indiefest tentu tidak lupa dibawakan. Penonton pun semakin tampak memadati ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ballads of The Cliche yang menjadi penutup acara ini membawa kembali suasana romantis. Pergantian personel tidak mengganggu penampilan mereka. Malahan duet sang vokalis dan kibordis dengan lagu down tempo bergaya Perancis berhasil membuat penonton bertepuk tangan seiring irama. Lagu Seasons of Joy yang klipnya kini wira-wiri di MTV membuat suasana kian ramai. Vokalisnya pun tidak segan menggoda Acit, host Pub on The Air, hingga salah tingkah. Penonton pun ikut tertawa karena tingkah lucu sang vokalis yang memberi kunci jawaban saat kuis berlangsung. Personel yang lain tidak ketinggalan menghidupkan suasana dengan membuat backsound komedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak acara ditutup lagu Pop Kinetik dari Rumah Sakit yang diaransemen ulang dengan baik oleh band yang baru merilis mini album ketiga pada 6 Juni lalu. Penonton pun pulang dengan senyum setelah menyaksikan serunya gelaran Pub on The Air yang gratis ini. Yes, thank God it's free!Hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aline)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116555941909614645?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116555941909614645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116555941909614645' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116555941909614645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116555941909614645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/oz-pub-on-air.html' title='oz pub on the air'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253501606115132</id><published>2006-11-02T22:22:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:06:14.893-08:00</updated><title type='text'>(BOOK REVIEW) SPECIES OF SPACES AND OTHER PIECES</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BOOK REVIEW) SPECIES OF SPACES AND OTHER PIECES&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Perec, Penguin Books, 1997, 292 pages.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Perec adalah penulis Prancis yang tergabung di Oulipo (Ouvroir de Littérature Potentielle, atau Workshop of Potential Literature), sebuah paguyuban penulis sinting terkemuka di Paris. Semacam laboratorium struktur literer yang mencari bentuk-bentuk sastra baru yang tumbuh dari sejumlah algoritme. Salah satunya, eksplorasi "palindrome", yakni "susunan kata atau kalimat yang jika dieja dari belakang tetap terbaca sama". Contohnya dalam bahasa Indonesia, "tamat", "kasur rusak", atau "Ira hamil lima hari". Perec bahkan menulis karya palindrome terpanjang yang pernah ditulis manusia, terdiri dari sekitar 5000 kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Well, buku Species of Spaces and Other Pieces ini memang bukan dokumen tentang palindrome. Tapi setiap karya Perec tetap layak disimak. Buku ini mengarsipkan tulisan-tulisan Perec yang tersebar di berbagai media sepanjang tahun 1959-1982. Isinya cukup ganjil, baik dari segi tema maupun tampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti judulnya, it's all about... spaces. Perec bermain-main dengan konsep "ruang", dan eksplorasinya seringkali tak terduga. Ketika dia menulis "I write in the margin", kalimat itu pun dicetak di tepi halaman. Begitu juga pada kalimat "I refer to a footnote", diikuti catatan kaki yang 'hanya' berbunyi: "I am very fond of footnotes at the bottom of the page, even if I don't have anything in particular to clarify there."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Adhitya Mulya keidean dari sini ketika melakukan hal sama di novel Jomblo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, ada autobiografi Perec, di mana dia mengulang-ulang penyebutan tanggal lahirnya tanpa alasan yang jelas. Saat menceritakan apartemennya, dia mendaftar nama-nama ruangan di dalamnya, dan apa saja yang dilakukan orang-orang pada jam-jam tertentu. Atau sekadar daftar tentang "Some of the Things I Really Must Do Before I Die", antara lain: belajar main drum, menata rak bukunya, menemukan solusi permainan kubus Rubik (!), dan... mabuk bersama Malcolm Lowry, sastrawan Inggris yang terkenal alkoholik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini unik. Seperti mengajak kita merenungkan hal-hal yang sekilas tampak sepele. Kamu punya blog tapi sering kehabisan bahan untuk meng-update? Ide-ide gila Perec di buku ini bisa dijadikan inspirasi. Karena semangatnya mirip: merayakan hal-hal yang tidak penting menjadi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Budi Warsito)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253501606115132?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253501606115132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253501606115132' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253501606115132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253501606115132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/book-review-species-of-spaces-and.html' title='(BOOK REVIEW) SPECIES OF SPACES AND OTHER PIECES'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253489841197305</id><published>2006-11-02T22:18:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:04:32.156-08:00</updated><title type='text'>(BOOK REVIEW) MUSIC: A VERY SHORT INTRODUCTION</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BOOK REVIEW) MUSIC: A VERY SHORT INTRODUCTION&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicholas Cook, Oxford University Press, 2000, 144 pages.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, "Writing about music is like dancing about architecture." Lebih jauh lagi, "It's a really stupid thing to want to do." Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nicholas Cook, seorang profesor musik dari University of Southampton, Inggris, bisa jadi tidak sepakat. Meski pendapat Costello itu dia sertakan di kata pengantar Music: A Very Short Introduction, buku-tipis-padat-berisi yang ditulis Cook ini justru menunjukkan betapa menulis musik bisa jadi sesuatu yang serius, intens, dan mencengangkan. Buku ini memang berbau akademis, namun relatif santai. Dengan merujuk di sana-sini pemikiran dari beberapa filsuf (Wittgenstein, Adorno, dsb), buku ini membahas Musik (dengan "M" besar) dan kaitannya dalam kompleksitas dunia yang semakin tua ini. Bab pertama dibuka dengan kalimat menggebrak "I want to be... a musician." Tapi jangan harap menemukan kiat-kiat praktis menjadi musisi. Yang ada justru sebaliknya: mempertanyakan, apa sebenarnya "musisi" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pisau analisis yang tajam dan selera humor yang bagus, Cook menari-nari di padang musik yang cukup luas: mulai dari pembahasan The Ninth Symphony-nya Beethoven yang abadi, awal terbentuknya Spice Girls dari sebuah iklan audisi, hingga notasi pada instrumen tradisional Cina. Kita juga diajak berpikir ulang tentang wacana gender dalam musik ("A woman's place is in the kitchen, not in the symphony orchestra?"), seberapa besar peran dunia akademik dalam perkembangan musik ("What the hell is musicology?"), dan hal-hal menarik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kepala kamu sering dipenuhi pertanyaan: kenapa penggemar Radja sama banyaknya dengan pembencinya; kenapa The Mars Volta mendapat tempat terhormat di kalangan kritikus musik; dan kenapa Slamet Abdul Sjukur tetap setia di jalur musik kontemporer; mungkin buku ini bisa membantu kamu ke arah jalan yang terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Budi Warsito)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253489841197305?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253489841197305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253489841197305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253489841197305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253489841197305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/book-review-music-very-short.html' title='(BOOK REVIEW) MUSIC: A VERY SHORT INTRODUCTION'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253460525622867</id><published>2006-11-02T22:11:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:00:06.466-08:00</updated><title type='text'>Rock n Roll Mafia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rock n Roll Mafia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah di pesisir Sisilia sana hiduplah dua orang Don yang berkuasa yaitu Don Hendra dan Don Ekky. Mereka saling bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan juga wanita cantik bernama Signorina Nyanya. Haha, ngomong apa saya ini. Sepertinya terkontaminasi buku-buku Mario Puzo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa? Kamu tidak tahu Rock n Roll Mafia itu apa? Ke mana saja kamu selama empat tahun terakhir ini? Berlibur ke Mars? Ck ck. Well, mereka bukanlah band rock and roll. Dan yang jelas mereka bukan sekumpulan mafioso dari Italia. Hati-hati, nama bisa menipu, saudara-saudara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They're young talented musicians who's blending electronic and ambient. Mereka mendeskripsikan musik mereka terdengar seperti "Fall For The First Crash on Translove Recover".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And they are Hendra as Master Director, Ekky as singer/guitar, and Nyanya as singer. Jangan heran juga, seperti halnya mafioso, mereka memiliki banyak antek untuk membantu mereka! Hah! Di antaranya Adit (as Sub Director), Sani Jeruji dan juga Elang dari Polyester Embassy (yang mana Ekky juga berperan sebagai gitaris di band tersebut). Dalam dunia mafia, hal tersebut dinamakan simbiosis mutualisme (eh, itu biologi ya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu minggu ini saya bertemu mereka dua kali. Yang pertama ketika mereka main di Pasar Seni, dan saya mengobrol dengan mereka sesaat sebelum mereka naik ke atas panggung. Seusai itu dilakukanlah pemotretan untuk cover Encore edisi kali ini. Namun dikarenakan kita semua kurang puas dengan hasilnya, dan mereka juga nampaknya sudah lemah-letih-lesu, jadilah kita menjadwalkan ulang pemotretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang ditentukan sempat terjadi miskomunikasi. Ketika kru Encore sudah sampai di rumah Hendra (sekaligus studio mereka.. where all the magic begins..), mereka malah tidak ada dan menyangka pemotretannya tidak jadi. Ternyata Adit lupa memberitahu kami kalau hari itu mereka tidak bisa. Pulanglah kami dengan kecewa, namun ternyata di tengah jalan kami ditelepon dan pemotretannya jadi. Mereka langsung otw ke situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu sambil jajan-jajan makanan ber-MSG tinggi akhirnya satu persatu dari mereka datang. Ekky habis menjadi model videoklip sebuah band asal Jepang (wow) dan Nyanya baru saja pulang kuliah, terlihat capek sekali. Hendra datang bersama Deena Homogenic. Pemotretan untuk cover pun bisa dilaksanakan. Hasilnya tentu sudah kalian lihat pertama kali di depan. Kita juga mendapat bantuan dari Tasya (pacarnya Ekky) untuk urusan make-up. Tapi pacarnya sendiri malah yang paling tidak mau tersentuh make-up, padahal mukanya pucet tuh, Ky..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enough said. Mari kita flashback sedikit ke belakang ketika saya mengobrol dengan mereka di Pasar Seni. Dan ini dia oleh-olehnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR: RNRM lagi sibuk ngapain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra (H) : Sibuk cari duit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Rencana ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Lagi bikin album kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Udah sampe mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekky (E) : Setengah jalan lah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : 80%, lagi bikin cover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Nanti mau launching dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Aduh, blm ada bayangan euy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Siapa aja yang bantuin albumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Yah banyaklah temen2, Polyester Embassy, om Jamie (yang dimaksud adalah Jamie Aditya, dan sewaktu Encore ke studio mereka kami dapat bocoran dari Ekky kalau Jamie membuat album solonya yang beraliran funk soul di sana..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Influence dari mana saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Macem-macem. Beda-beda.. kalau saya sekarang lagi suka Stars, Andy warhol juga dengerin lagi. Hmm apa lagi ya.. banyak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Saya lagi dengerin Explotion In The Sky, saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kamu apa, Nya? Dari tadi diem aja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanya (N) : (nampak bingung) Apa ya.. SMS, Tombo Ati-Opick (ketawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Gimana rasanya jadi cewe satu-satunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Heuheu.. apa yah.. disayangi. Baek-baek kok. (ketawa lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ada perlakuan khusus karna kamu cewe ga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Ah sama aja, cuman lagi ke mana gitu tidurnya misah (kok Ekky yang jawab?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : RNRM manggung paling jauh dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Hmm mana ya? Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ada cita-cita nggak pengen maen dimana gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Cita-cita sih ada tapii.. merealisasikannya gimana ya? Hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E :  Kita sih ga usah muluk-muluk lah. Tapi kalo ada kesempatan sih yaa bolehlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kalo cita-cita pengen manggung sama siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Chemical Brothers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Chemical Brothers sama Kraftwerk. Sama.. ah ga jadi. (Sama Royksopp mungkin? Karena kemarin-kemarin sempat beredar gosip Royksopp bakal ke Indonesia dan RNRM sebagai opening actnya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : CD/kaset/vinyl yang pertama dibeli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Bjork!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : (mikir lama) Wah lupa! Ga inget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : (mikir lama juga) Lupa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Konser pertama yang kalian tonton dan bikin berdecak kagum "anjir, keren.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Naif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : God Bless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Apa yah.. jarang nonton konser Nyanya mah.. hehehe (ketawa lagi, aduh Nyanya kamu ketawa ajah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Selain di RNRM sehari-harinya sibuk ngapain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Kuliah (Fikom Unisba)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Bikin-bikin jingle iklan di radio (menyanyikan contoh jingle iklan buatannya yaitu sebuah distro)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Kuliah juga, baru masuk (Fakultas Kedokteran Universitas Jend. Ahmad Yani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kalo udah lulus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Saya pengennya kerja sesuai sama jurusannya lah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Ah pendidikan ga terlalu ngaruh lah yang penting hoki. Kalo hokinya bagus yaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Nyanya kenapa milih kedokteran? Kan nampak susah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Da pengen dari dulu (Kata Tasya, Nyanya ini emang keukeuh pengen masuk kedokteran, sebenernya dia angkatan 2004 tapi akhirnya baru bisa masuk tahun ini. Wah pasti nanti banyak pasiennya kalau ibu dokternya cantik kaya Nyanya ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Bagi-bagi waktunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Kalo saya agak-agak susah ya.. hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ekky lebih nyaman dimana RNRM atau Polyester Embassy?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Sama ajalah da anak-anak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Kalau sekali event dua-duanya manggung (RNRM dan PE)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Cape sihh pasti tapi yaa itu udah resiko (Setelah itu mereka teringat besoknya RNRM dan PE main di Ripple Show di Hendon Arms. Ekky pun mengeluhkan kurang tidurnya. Kelihatan dari matanya yang memerah. Dan Hendra nampak sudah tidak sabaran untuk segera naik ke atas panggung. Acara hari itu ngaret sampai dua jam lebih membuat mereka bete menunggu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Lagi suka band apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Vincent vega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Vincent vega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Iya, iya. Vincent vega. (diliatin dengan tatapan "Euh Nyanya kamu mah nurutan wae" dan Nyanya pun langsung membela diri). Emang bagus koo!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seorang panitia datang dan memberikan nasi box sebagai konsumsi yang langsung dilahap oleh mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Sambil makan ya, laper nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Makanan favorit kalian apaan? Haha jadi kepikiran gitu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : Sushi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E : Sate padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H : Perkedel kentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : O iya iya perkedel kentang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya pun membiarkan mereka makan dengan tenang, kasihan sepertinya sudah kelaparan + capek + bete nunggu. Lalu tak lama kemudian mereka pun naik ke atas stage bertemakan futuristik tersebut, membawakan empat lagu yaitu Hopes, TV, Outbox dan Translove. My favorite was Outbox. Membuat saya tidak bersabar untuk menantikan album kedua mereka, yang kata Amon (manajernya) sih mungkin keluar habis lebaran. Wah, album baru alhamdulilah tuk dipakai di hari raya.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Devishanty)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253460525622867?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253460525622867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253460525622867' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253460525622867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253460525622867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/rock-n-roll-mafia.html' title='Rock n Roll Mafia'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253419805464855</id><published>2006-11-02T22:05:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:00:06.193-08:00</updated><title type='text'>Polyester Embassy</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Polyester Embassy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiap-siaplah! Album baru Polyester Embassy rampung sudah. Bekerjasama dengan Fast Forward record, band ini akan menggelar launching setelah Lebaran nanti. Dengan aliran yang disebut "Gray area on electronic and shoegazing rock", mereka bersiap-siap menjadi the next big thing di scene indie. Sebelum itu terjadi dan mereka akan ada di mana-mana, Elang (vokal), Ekky (gitar), Sid (gitar), Tom (bass) dan Givarie (drum) terlebih dulu berbaik hati untuk sekadar berbagi kata di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;NCR : Kalau saya baca di myspace kalian, penjelasan tentang nama Polyester Embassy itu, sangat panjang. Dan setahu saya, di tahun 2000, Madison Ave mengeluarkan album yang berjudul sama. Sebenarnya nama kalian diambil dari mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Dulu banget, sebenarnya nama kita cuma Polyester doang. Tapi pas di satu acara, ada masalah karena ternyata ada band lain di Bandung yang namanya sama. Jadi kita mikir-mikir, nah ngeliat album itu, ya udah kita tambahin aja Embassy. Jadi Polyester Embassy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR  :Oke, mengenai album pertama. Tragicomedy. Artinya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Maksudnya gini , sesuatu yang tragis itu nggak harus dihadapi dengan tangis. Kadang bisa dengan tawa juga. Selain itu, dulu ada satu band dari komunitas kita juga, namanya Trgicomedy. Tapi sekarang udah bubar. Jadi ini seperti sebuah dedikasi lah untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Konsep bermusik di album baru in seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE :Hmm... seperti apa ya? Kita sih mix and match aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Sudah cukup puas dengan album ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Ada yang udah, ada yang belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ceritain dong koq bisa masuk Fast Forward?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Sebenarnya, awalnya kita udah ada kerjasama dengan salah satu label di Jakarta, tapi nggak ada kelanjutannya. Terus, dapat tawaran dari Fast Forward, ya udah kita ambil. Kalo masukin demo ke Fast Forward sih udah cukup lama, sekitar tahun 2004, tapi follow up-nya baru akhir 2005 kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Puas dengan kerjasama yang ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE  : Sangat puas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Album kan udah kelar, tapi kenapa launchingnya setelah Idul Fitri, lama banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Nggak enak juga ya kalau pas lagi puasa launchingnya. Lagian kalau bulan-bulan puasa gitu yang laku kan album-albumnya Opick atau AA Gym, dan album kita nggak berbau rohani. Jadi lebih baik nunggu abis bulan puasa, baru launching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Pre-Order album kalian, gimana ceritanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE  : Wah, ternyata banyak yang pesan. Kita juga kaget, pas ngeliat ternyata udah ada sekitar 30-an yang order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Single pertama Polipanic Room, ada alasan khusus memilih lagu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Soalnya menurut kita lagu itu paling representatif. Paling bisa mereprentasikan musik kita. Selain itu juga paling catchy, cepat nyampe, enak buat sing along dan radio friendly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Ekky kan selain di Polyester juga di RNRM. Dan Elang juga additional di sana. Kenapa sih merasa perlu ada project lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekky  : Lebih ke kepuasan batin sih. Kalau di PE kan saya main gitar, kalau di RNRM kontribusi saya lebih spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Sekarang kan ada istilah "indie is the new mainstream" kalian setuju nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Indie sama mainstream itu kan cuma beda konsep marketingnya aja. Terus musik sekarang lagi jenuh, jadi mulai dilirik musik indie yang dianggap bisa ngejual. Sponsor-sponsor juga mungkin mikirnya, ketimbang manggil band major yang bayarannya berapa lebih baik manggil band indie yang jauh lebih murah tapi bisa menarik massa. Bibit uang baru mungkin? Gini aja deh, C# itu sama dengan grip G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE  : Ya itu, C# itu sama aja dengan grip G. Buat yang ngerti musik, pasti paham lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Tentang manajemen, seberapa signifikan sih perubahan sebelum dan sesudah punya manajer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE : Signifikan banget. Sebenarnya kita udah sempat ganti beberapa kali, tapi yang kali ini paling cocok. Manajer itu yang paling bagus kalau berangkat dari fans. Jadi sebagai fans, dia berdedikasi tinggi untuk menaikkan band yang dia pegang, karena dia suka sama bandnya. Lebih perhatian juga jadinya. Oh, sekalian nitip, manajer kami baru ulang tahun tuh. Selamat ulang tahun ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NCR : Menurut kalian band indie yang bakal naik apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE  : Vincent Vega! Keren tuh mereka. Terus, The S.I.G.I.T, udah pasti. Sama The Monophones, band dari Jogja. Bagus banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adinda Putri Silitonga)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253419805464855?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253419805464855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253419805464855' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253419805464855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253419805464855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/polyester-embassy.html' title='Polyester Embassy'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253385688846668</id><published>2006-11-02T22:02:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T21:58:32.073-08:00</updated><title type='text'>GOODNIGHT ELECTRIC VS SAINT LOCO</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GOODNIGHT ELECTRIC VS SAINT LOCO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, (7/9), aksi Goodnight Electric sukses menjadi obat rindu para fansnya di Jogja. Belum apa-apa, TJ's cafe penuh dengan para fans yang memakai t-sirt Goodnight Electric berkumpul di pelataran parkirnya. Jelas mereka siap merasakan hentakan musik Goodnight Electric malam itu. Pukul delapan tepat, para fans sudah terlihat berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aksi yang dimulai pukul sebelas malam itu dibuka dengan penampilan Saint Loco yang membawakan tujuh lagu. Sambutan baru terasa dan makin bertambah meriah saat Microphone Anthem dibawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Goodnight Electric yang dibuka dengan A.S.T.U.R.O.B.O.T langsung menyedot perhatian. Terlebih setelah Henry Foundation memperkenalkan tiap personel pada para fans yang sudah berkumpul berdesakan heboh di depan panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak seramai dan seheboh show mereka pertama di Jogja tapi tetap membuat suasana meriah. Harga tiket yang memang agak mahal (Rp 50.000) mungkin yang jadi sebab kurang ramainya suasana malam itu, tapi tetap tidak mengurangi keceriaan dan kehebohan para fans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solid Gold dan Versus, dua lagu baru yang masih terdengar awam buat telinga fans di Jogja mampu bikin para fans tetap bergoyang. Sebelumnya suasana bertambah heboh saat We Are Going To The Star dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibikin panas, suasana ditenangkan dengan Bedroom Avenue. Yah lumayanlah, hitung-hitung ada waktu buat mengisi energi sebelum nomor yang lebih menghentak dimainkan. Dan benar saja, suasana tambah ramai sewaktu T.E.C.H.N.O&gt;LOGY dikumandangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henry Foundation mampu mengajak penonton untuk bernyanyi mengiringinya. Rocket Ship Goes By makin membuat suasana tambah panas. Segerombolan cewek-cewek di barisan depan menunjukkan aksi centilnya. Dengan gaya dance yang genit dan centil mereka terus memanggil-manggil Oomleo. Suasana malam itu ditutup dengan irama mengehntak dari The Supermarket I am In.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, I guess you all know, who is the winner for this battle...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Desi Mantab)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253385688846668?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253385688846668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253385688846668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253385688846668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253385688846668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/goodnight-electric-vs-saint-loco.html' title='GOODNIGHT ELECTRIC VS SAINT LOCO'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253207068139746</id><published>2006-11-02T21:29:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T21:55:50.376-08:00</updated><title type='text'>PASAR SENI ITB</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PASAR SENI ITB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda selama satu tahun tak membuat Pasar Seni kehilangan taringnya. Kini untuk ketujuh kalinya, Pasar Seni ITB kembali digelar Minggu (10/11) lalu. Hajatan besar ITB yang diadakan tiap lima tahun sekali ini terbukti kembali sukses menyedot pengunjung dari dalam dan luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Area Pasar Seni kali ini bahkan lebih luas dari biasanya. Diramaikan oleh 300 stand dari kalangan umum dan pekerja seni, performance art mahasiswa seni dari berbagai institut dan universitas di Indonesia, dan tiga panggung yang menampilkan tiga jenis hiburan yang berbeda, Pasar Seni ITB 2006 benar-benar menjadi pesta seni satu hari di mana semua orang berkumpul dan berbagi tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung utama Pasar Seni ITB terletak persis di gerbang masuk ITB. Dibandingkan area lain di Pasar Seni, panggung utama ini termasuk sepi ketika saya pertama datang sekitar jam 12 siang. Namun saat seorang vokalis berwig kriwil-kriwil naik ke atas panggung dan berteriak, "Serdadu rock maju ke depan!" pengunjung pun mulai menyemut di depan panggung. Yep! Seurieus memanaskan suasana di tengah cuaca panas itu dengan membawakan 7 lagu. Sesekali Candil sang vokalis curhat di sela-sela lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Seurieus turun panggung, penonton dibuat kagum oleh atraksi yoyo dari Club Yoyo Indonesia. Saya sendiri baru tau bahwa main yoyo bisa se-ekstrem itu. Hehe. Hollywood Nobody tampil berikutnya, disusul oleh Tika dengan suara emasnya yang bikin merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini dia band yang saya tunggu-tunggu. LAIN membuka performance-nya dengan Loneliness For Sale disambung hits-hits lainnya seperti Ghost's Cell, Train Song, dan Wool sebagai lagu penutup. Performance mereka ini cukup mengobati rasa kangen terhadap LAIN setelah para personelnya sibuk mengurusi side job (atau main job?) mereka (Zeke and The Popo, Sore, Ape on The Roof).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiung, band asli Betawi yang membawakan lagu-lagu alm. Benyamin Sueb, tampil habis-habisan sekaligus mengocok perut penonton. Di sela-sela lagu, mereka saling berbalas pantun konyol. Bahkan di lagu terakhir berjudul Ayo Mandi, sang vokalis lelaki berkumis tebal membuka baju hingga tinggal memakai celana boxer-nya, kemudian mandi di dudukan tiang bendera di depan panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berbeda ketika The Changcuters tampil. Hanya saja kali ini Tria sang vokalis menggunakan payung sebagai stand mic, dan di lagu Pria Idaman Wanita, mereka berkolaborasi dengan pengamen jalanan asuhan Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Kreatif juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore membuka penampilan mereka dengan ucapan, "Selamat sore.." Penonton pun ikut bernyanyi di sepanjang lagu. Oyah, di akhir penampilan Sore, penonton di sekitar saya mendadak ribut karena seorang Luna Maya melintas di dekat mereka. Hmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sore pamit, sekelompok orang naik ke atas panggung membawa alat-alat musik tradisional. Dan siapa itu? Ada bule maen flute. Dari belakang panggung datang wanita cantik berkebaya yang menyapa penonton dengan bahasa Sunda superhalus. Lagu pertama yang dibawakan juga lagu Sunda, tapi sepertinya kurang familiar di telinga penonton. Saat lagu kedua, sebuah lagu dari Minangkabau, dibawakan, penonton mulai menggila. Berjoged mengikuti instruksi mbak vokalis. Menurut panitia, Samba Sunda ini terkenal di luar negeri, tapi di Indonesia sendiri hanya sedikit yang tahu. Mereka membawakan lagu-lagu tradisional dengan aransemen samba, tanpa meninggalkan ciri khas lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampil berikutnya membuat semua penonton lelaki merapat ke bibir panggung. Kembar Srikandi tampil hot menggoyang penonton saat hari menjelang malam. Beberapa lelaki di belakang saya berseru, "Mbak, udah mbak, lemes Mbak." Hehe. Panggung utama ditutup oleh The S.I.G.I.T yang tampil maksimal, as usual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Tradisi ini lokasinya cukup jauh dari ujung panggung utama. Seperti namanya, di sini ditampilkan pertunjukan-pertunjukan berbau budaya. Bahkan ada pertunjukan akrobat. Menarik sebenarnya, sayang sepi penonton. Kemungkinan besar diakibatkan line-up di panggung utama dan panggung teknofutura lebih terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, Pasar Seni ITB juga menghadirkan banyak sekali stand. Ratusan mungkin. Dan ribuan orang yang datang kebanyakan memilih menghabiskan waktu berkunjung dari satu stand ke stand lainnya. Dari pagi sampai sore tak pernah jalanan di depan stand-stand itu terasa lengang. Padahal lokasi stand sendiri terbagi ke beberapa blok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tak mengherankan sebenarnya, mengingat acara ini bernama Pasar Seni. Jelas, tujuan utamanya adalah mengadakan sebuah pasar yang menjadi tempat transaksi jual beli. Stand-stand ini menjual berbagai hasil seni dan ada juga yang menjual makanan. Selain itu, dijual juga barang-barang biasa seperti sendal, pakaian, lampu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah acara keliling stand, seorang teman meng-sms saya, memberitahu ada keramaian di Kampung Tradisi. Berbekal rasa penasaran, saya pun pergi ke sana. Ternyata di Kampung Tradisi, tamu dari Ibukota sedang beraksi. Yeah, anak-anak baru Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berkumpul dan bernyanyi bersama. Kabarnya lagu yang dimainkan tadi akan dimasukkan ke kompilasi Kampus 24 Jam. Tak lama berselang, Bikinies yang sudah bersiap dari tadi, langsung memainkan lagu-lagu andalannya. Sorenya, dengan mic mati, Karon n Roll tampil heboh di Kampung Tradisi. Melihat situasi seperti ini, seorang vokalis band indie asal Jakarta yang juga mahasiswa IKJ berkata "Ini sih, kita kayak pindah tempat tongkrongan aja. Hahaha..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di Panggung Utama, semua pengunjung harus rela berpanas-panasan dan berpeluh keringat, lain lagi dengan situasi di Siangnite: TeknofuturaMengada-ada. Pertunjukkan yang diadakan di Gedung Campus Centre ini benar-benar aman dari sengatan matahari. Begitu melewati antrean, pengunjung disambut oleh sejuknya udara buatan. Dekorasi di dalam ruangan yang serba hitam dan gelap membuat suasana semakin adem saja. Dinding buatan dari karton hitam yang ditempeli hiasan kertas warna hijau lemon berbentuk mahluk-mahluk futuristik semakin melengkapi "kecanggihan" Siangnite: TeknofuturaMengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnite: TeknofuturaMengada-ada ini terbagi menjadi dua bagian. Keseluruhan lantai atas menjadi arena memamerkan karya segar dari seniman-seniman muda. Benar-benar segar karena banyak karya seni yang memancing mata pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya karya dari Maya Annisa yang berjudul "Ga Ada Judul" dimana barbie-barbie cantik itu dipreteli hingga tak berbaju dan terkurung dalam sangkar. Lampu-lampu kecil aneka warna meliliti badan mungil sang barbie. Ada juga karya dari Arief Mulya yang memajang sebuah bidang dengan tonjolan di mana-mana. Ternyata tonjolan-tonjolan tadi adalah huruf braille, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun di lantai bawah, lebih banyak lagi karya seni yang menarik. Salah satunya adalah Robot Penjual Es Jeruk. Tampilannya futuristik seperti layaknya robot dan seperti namanya dia bisa menjual Es Jeruk seharga Rp. 3000. Lucunya, yang melayani ternyata bukan robot tapi beberapa manusia di belakangnya. Kecewa? Tidak juga. Beberapa pengunjung malahan dibuat tertawa oleh ulah si robot ini, tentunya setelah mereka membeli es jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau kecanggihan teknologi yang menjadi tema utama di Siangnite: TeknofuturaMengada-ada ini semakin tajam, ketika Svarghi tampil di panggung. Bermain solo dan masih sedikitnya penonton yang datang, musik yang dimainkan Svarghi tetap memesona. Begitu pula ketika Pal 17 menggantikannya di panggung. Dentuman musik synthe yang dipadu suara manusia berbalut efek semakin mendinginkan Siangnite: TeknofuturaMengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soul Delay pun tampil selanjutnya. Launching album kedua Homogenic adalah kali pertama saya bertemu dengan dua tekno pemalu ini. Tak banyak perubahan dari penampilan mereka dan musik yang dimainkan pun semakin solid. Hmm, saya semakin menggilai musik artifisial bikinan Soul Delay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar antrean Siangnite: TeknofuturaMengada-ada bertambah panjang, untung saja saya bertemu teman lama yang mengajak saya melewati jalan pintas. Pffuiih. Di dalam, suasana tak kalah seru dengan di luar. Ada Bonverbot yang beraksi di panggung. Iringan musik tekno yang dimainkan Bonverbot bertempo cepat dan mereka sukses menggiring penonton untuk berdisko. Disusul dengan penampilan enerjik Nadia dan kawan-kawan dari Inspirational Joni. Kostum putih-putih dan tata lampu yang aduhai, membuat penampilan band yang satu ini semakin ciamik. Biarpun mungil, Nadia tampil spektakuler. Penuh energi dan tak pernah capek berjingkrak mengikuti hentakan musik. She's really rock!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rock n Roll Mafia tampil selanjutnya dan penonton semakin memenuhi Siangnite: TeknofuturaMengada-ada. Total ada empat track yang mereka mainkan, yaitu Hopes, Outbox, Television, dan Translove. Last but not least Siangnite: TeknofuturaMengada-ada punya Goodnight Electric. Tak usah ditanya lagi bagaimana penampilan trio Henry, Bondi dan Oomleo ini. Karena seperti biasa mereka sukses menghipnotis penonton untuk menggila bersama. Penonton bernyanyi bersama dan meneriakkan nama tiga personel Goodnight Electric tanpa henti. Fotografer saya pun sengaja berdiri di barisan depan dan hingga kini dia sering tersenyum sendiri sambil humming lagu "Supermarket I Am In".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siyangnite: TeknofuturaMengada-ada? Damn! Kamu benar-benar membuat saya tersengat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lika, Astrid, Yoga)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253207068139746?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253207068139746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253207068139746' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253207068139746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253207068139746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/pasar-seni-itb.html' title='PASAR SENI ITB'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253109541791844</id><published>2006-11-02T21:15:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T21:53:27.000-08:00</updated><title type='text'>VOLCOM DAMN O!!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VOLCOM DAMN O!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya acara yang berbau skateboard kembali hadir di kota kembang yang harum semerbak ini, Sabtu (19/8). Volcom Damn O!!! acara skateboard yang diselenggarakan oleh Volcom dengan bekerjasama dengan radio OZ fm Bandung ini bertempat di halaman depan (Plaza) Bandung Super Mall. Acara ini bertujuan memperkenalkan dunia skateboarding kepada masyarakat umum dan lebih mengakrabkan para skaters yang diendorse oleh Volcom dengan para penggemarnya. Skaters tersebut adalah : Indra "Kubon" Leonardo (22 tahun, Bali), Mario Palendeng (16 tahun, Jakarta), Rino Herman (19 tahun, Padang), Ryan Novianus (21 tahun, Jakarta), Arya Prasetya (15 tahun, Jakarta) dan Indra "Dom-Dom" Gandhi (21 tahun, Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Skater-skater ini terpilih menjadi skate Volcom Indonesia karena karakter mereka yang unik dan prestasi mereka yang menonjol. Walaupun mereka masih tergolong muda, pengalaman mereka dalam kompetisi nasional sudah cukup banyak. Bahkan Indra, Mario, Rino dan Ryan sudah sempat mengikuti kontes skateboard tingkat internasional di Malaysia, Thailand dan Korea" ujar Mbak Fajar selaku Marketing Manager dari Volcom Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam skater Volcom tersebut melakukan demo trick-trick skateboarding yang mereka kuasai mulai dari ollie, hardflip, kickflip, noseblunt dll. Indra Kubon, salah satu skaters dari Volcom team menunjukkan kebolehannya dengan melakukan trik highest ollie dengan meloncati tong sampah yang ditambah oleh dua papan skateboard, meskipun dia beberapa kali sempat gagal, tapi akhirnya dia berhasil juga, Good job dude! Acara ini semakin menggila dengan dimeriahkan oleh Alone At Last dan juga band yang telah empat tahun diendorse oleh Volcom yaitu Rocket Rockers. Mereka membawakan enam buah single mereka dengan format akustik yang terdiri dari empat single dari album kedua mereka "self titled" dan dua dari album baru mereka. Yeah.. meskipun mereka memainkan dengan format akustik, nuansa punk mereka tak akan pernah hilang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adhi Pratama)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253109541791844?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253109541791844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253109541791844' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253109541791844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253109541791844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/volcom-damn-o.html' title='VOLCOM DAMN O!!!'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116253067671898736</id><published>2006-11-02T21:09:00.000-08:00</published><updated>2006-11-02T21:29:25.680-08:00</updated><title type='text'>LAUNCHING ALBUM THE CHANGCUTERS: "MENCOBA SUKSES"</title><content type='html'>Kota Kembang Bandung telah melahirkan kembali band garage rock n roll yang patut diacungi jempol, yeah..mereka adalah The Changcuters, band yang beranggotakan Qibil (gitaris), Dipa (Bassis), Alda (Gitar), Erick (Drum) dan Tria (Vokal) telah mengeluarkan album pertamanya yang berjudul "Mencoba Sukses" dan dibawah bendera Masterplan Records, Jumat (11/8). Album yang diproduseri oleh gitaris Peterpan, Uki, ini berisikan 12 lagu yang dikemas secara apik dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Acara launching album The Changcuters yang bertempat di Bandung Super Mall (BSM )ini berlangsung sangat meriah dan dibilang cukup sukses. The Changcuters tampil menggila dengan balutan jas warna ungu yang semakin cathcy dengan lagunya bernuansa garage rock n roll membuat para penonton tenggelam di nuansa full rock n roll party. Mereka membawakan single-single seperti Hey3x, Awas Angkot, Hey Nona, Stokelan, Gila-gilaan. Menurut saya, yang paling menarik pada acara ini duet The Changcuters dengan beberapa musisi seperti Manik La Luna dalam lagu Dang Ding Dong dan Uki Peterpan dalam lagu Pria Idaman Wanita yang sekarang sedang menggema di beberapa radio Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan attitude ala Mick Jagger dari Rolling Stones dan guyonan-guyonan Sunda khas Tria, sang vokalis membuat acara ini tidak membosankan. "Gua ga rugi nih datang jauh-jauh dari Cimahi buat ngeliat The Changcuters," ujar firman salah satu penonton acara ini. Di akhir acara para penonton sempat dikagetkan dengan Ariel Peterpan. Oops! ternyata itu hanya Ariel wannabe yang sebenarnya dia adalah Rully, vokalis dari band kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila..mereka Benar-benar entertaint sejati, hehehe.. Congratulations guys!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adhi Pratama)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116253067671898736?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116253067671898736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116253067671898736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253067671898736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116253067671898736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/launching-album-changcuters-mencoba.html' title='LAUNCHING ALBUM THE CHANGCUTERS: &quot;MENCOBA SUKSES&quot;'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116246622549287017</id><published>2006-11-02T03:10:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T21:50:31.160-08:00</updated><title type='text'>Fashion Flair : Sari White Shoes and The Couples Company</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fashion Flair : Sari White Shoes and The Couples Company&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Familiar dengan nama Aprilia Apsari? Doesn't quite ring a bell? Well, mungkin nama Sari White Shoes and the Couples Company lebih akrab di telinga. Yep, that classy girl with a jazzy voice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak terpesona dengan gayanya yang anggun di panggung. Sixties style makes Sari perfectly beautiful. Dan sekarang mahasiswi Desain Grafis IKJ ini mengundang kamu untuk mengenal lebih jauh mengenai gaya yang ia pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fashion For Me..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan berbusana yang mengutamakan tampilan secara visual. Karena itu dia harus mengandung komposisi yang harmonis. Di panggung, fashion itu penting sekali. Kita ditonton oleh banyak orang, karena itu kita tidak bisa seenaknya. Ibaratnya fashion adalah visualisasi musik kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Inspiration..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya suka gaya Yati Octavia di film Ali Topan Anak Jalanan. Sementara kalau dari luar, saya mengagumi Francoise Hardy, seorang penyanyi asal Prancis di tahun 1960 sampai 1970-an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Started When..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari SMA, saya sudah mulai memakai baju-baju vintage seperti ini. Biasanya sih buat kondangan atau kalau ke kampus dan saya lagi pengen tampil rapih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Get It From..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertamanya sih sering dapat lungsuran atau bikin sendiri. Sekarang saya sering hunting ke pasar loak kayak Pasar Senen, atau ke Gede Bage. Di Bandung malah pernah nemu toko namanya "Dangdut Ria", tapi saya lupa di mana jalannya. Di sana banyak baju vintage. Saya juga pernah hunting di Pasar Owal Awul, Jogja, yang buka pas Sekatenan aja. Biasanya dapat dari harga seribu sampai tiga puluh ribu rupiah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Flair..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pilihan saya adalah sack dress bermotif vintage. Biasanya disesuaikan dengan tempat manggung. Misalnya kalau luar ruangan, warna yang dipilih pastinya terang. Saya tidak menganaktirikan sepatu hak tinggi. Yang penting nyaman, ya saya pakai. Begitu juga dengan sepatu flat, peep toe. Yang tidak pernah ketinggalan adalah sabuk dan giwang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Make Up..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena saya sipit, eye liner wajib saya pakai. Patokannya adalah Widyawati. Dulu sih, pakai pensil sekarang saya lebih memilih eye liner cair. Lebih pas warnanya, tidak mungkin terlalu hitam sebelah karena ulasannya sama. Untuk lipstik, saya memilih warna bibir dan glossy. Kalau gaya rambut, memang selalu gaya layer dari dulu. Sempat dikonde juga kemarin, cuma pengen ganti suasana aja. Dan saya melakukan semua sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Flair in Three Words..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bebas tapi sopan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(meira)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116246622549287017?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116246622549287017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116246622549287017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116246622549287017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116246622549287017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/11/fashion-flair-sari-white-shoes-and.html' title='Fashion Flair : Sari White Shoes and The Couples Company'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16572065.post-116143209369174871</id><published>2006-10-21T04:51:00.000-07:00</published><updated>2006-12-07T21:43:22.136-08:00</updated><title type='text'>LA LIGHTS INDIE FEST: Panggung Indie Yang Ragu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LA LIGHTS INDIE FEST: Panggung Indie Yang Ragu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah sebuah ajang adu bakat band yang pada akhirnya malah berubah menjadi komedi. Bagaimana tidak mengundang tawa? Pertama, pilihan nama bandnya saja ngasal. Kayaknya anak TK masih bisa lebih bagus memilih nama, deh. Kedua, dandanan sok punk yang sama sekali tidak pantas karena malah menjadikan mereka mirip dengan badut. Hhhhhffff!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata semua "kegagalan" tadi tidak menyurutkan LA LIGHTS untuk menggelar ajang yang serupa tapi tak sama. Kali ini yang berlaga adalah mereka yang bergerak di jalur bawah tanah alias indie. Hari ini indie memang telah berubah menjadi sebuah industri yang menggiurkan. Tiga kota pun menjadi awal perlombaan ini, Bandung, Jogja, dan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Bandung, kabarnya ada dua ribu band yang mengirimkan demo tape pada masing-masing radio. Antusiasme yang tidak mengherankan, mengingat dari kota inilah, indie bermula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sabtu (29/7) kemarin, setelah melewati proses seleksi dan voting sms, digelar final regional untuk kawasan Bandung. Stadion Siliwangi tempat Persib bertanding jadi saksi bisu festival indie malam itu. The big question is, apakah festival ini akan berakhir seperti ajang adu band tadi atau malah akan menjadi fenomena yang menyegarkan telinga dan mata kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari lima panggung dan belasan stand didirikan di festival ini. Panggung utama sendiri berjumlah tiga buah yang dibuat dalam satu baris. Sementara radio, distro, penjual makanan dan minuman mengisi stand-stand yang disediakan. Hmm, tatanan seperti ini sedikit mengingatkan saya pada sebuah festival musik lain. Penonton pun tersebar di berbagai area. Ada yang hanya duduk-duduk saja di pinggir lapangan, tak sedikit pula yang memilih berkeliling mengitari stand-stand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung sebelah kiri pertama kali diisi oleh band C-Cord. Wah ternyata musik yang dibawakan ternyata tidak terlalu indie, malahan agak berbau mainstream. Untungnya setelah itu, Hollywood Nobody hadir menjadi penyelamat. Mereka tampil di panggung sebelah kanan dan musik yang dibawakan sedap sekali. Dian yang tampil classy malam itu, benar-benar membuai dengan suaranya. Semangat personel lainnya di panggung pun semakin melengkapi aliran Bosanova yang mereka mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perfect Angel, The Rinos, The Thirteen pun didaulat tampil selanjutnya. Yah, musik yang dibawakan tampak biasa saja. Saya pikir, di festival ini saya akan banyak menemukan band indie dengan sound baru yang refreshing. Apalagi di tengah festival tiba-tiba hadir sebuah band pengisi soundtrack so-called-girl-power-movie. Haaa! Saya pun tak tahan memaki! Maksudnya apa, sih? Aarrgh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran band Revival yang mengisi panggung. Ditilik dari namanya, "revival" berarti pembaharuan, tapi aliran musik yang dibawakan sama sekali tidak baru. Hip metal yang trend beberapa tahun silam jadi pilihan mereka. Teriakan dan nada yang dibawakan pun terdengar seperi Linkin Park disatukan dengan Limp Bizkit. Setelah itu Crave pun muncul. Hmm, lagu yang dibawakan kok seperti lagu "Have Fun Go Mad" ya? Hhhfff.. semakin lama aura ajang band mimpi itu semakin terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, ada tamu dari jauh yang ikut meramaikan festival ini. Yeah, it's Edson. Penonton pun langsung menyeruak ke depan panggung. Tidak usah ditanyakan lagi, penampilan Pelle dan Hendrik benar-benar spektakuler. Kendala bahasa tak jadi soal bagi Pelle. Dia tetap tersenyum dan bernyanyi merdu. Begitu pula ketika beberapa penonton norak berteriak mengeluarkan kata-kata kasar, hell they don't care. Hahaha.. karena mereka pun tidak mengerti, jadi tidak ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Pelle yang jernih membuat banyak penonton berteriak histeris sambil sesekali bernyanyi. Hendrik pun tak kalah memesona. Apalagi ketika ia memamerkan keahliannya memainkan drum and bass at one time. Definitely not dumb and bass! Riuh tepuk tangan penonton semakin ramai ketika lagu "Sunday Lovely Sunday" dan "I Wanna be Alone" dibawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a lovely surprise, it's Arina dan Rico from Mocca comin to the stage and sings together. Damn! Sungguh sebuah malam yang menyenangkan. Ah rasanya 45 menit penampilan Edson di panggung kemarin belumlah cukup. We want more..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran trio elektrik dari ibu kota yang menyengat panggung. It's the fabulous Goodnight Electric. Wah kalau yang satu ini tidak usah ditanya lagi. Dentuman bunyi synthe yang ciamik, membuat ratusan penonton tak segan berdansa. Hei this is not the ussual dance. Mereka berdansa mengikuti gerakan robot Oomleo, tepukan tangan Batman, dan acungan tangan Bondi. Lagu anyar "Solid Gold" dan "Versus" yang masih asing di telinga tak lantas mengenyahkan semangat penonton. Dan penonton pun berteriak "With you I'll be forever drunk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung kembali diisi oleh para finalis festival. Kali ini, band rock and roll Vincent Vega yang tampil. Lumayan dikenal oleh scene musik indie di Bandung, membuat banyak orang menjagokan band ini. Lagu kojo "Shane" pun tampak tidak asing di telinga penonton yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei! Siapa itu, sekumpulan pria berbaju KORPRI naik panggung. Ternyata itu adalah Pegawai Negeri, finalis lainnya. Hahaha quite catchy, dude! The Wax hadir sebagai penampil berikutnya. Sempet terdengar kesalahan teknis tapi toh tidak terlalu berpengaruh pada performa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least. Ini dia band terakhir yang menjadi finalis LA LIGHTS Indie Fest, 70's Orgasm. Kalimat bijak yang bilang "Makin tua, makin menjadi" seems to be a perfect line for them. Permainan musik 70's Orgasm benar-benar rapih dan enak didengar. Rio dan kawan-kawan tampil tenang tanpa banyak bicara. Musik merekalah yang berbicara lantang. Wow! Semua personel bertopi dan saya pun mengangkat topi untuk penampilan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak acara semakin dekat. Karena The S.I.G.I.T yang jadi penutup festival indie ini sudah bersiap tampil di panggung sebelah kiri. Rekti yang memakai sorban merah putih, langsung disoraki oleh penonton yang sedari tadi memang menunggu penampilan mereka. "Damned Woman", "Black Amplifier", dan lagu-lagu lainnya dimainkan total oleh empat personel The S.I.G.I.T. Angin dingin yang menusuk tulang tidak membuat penonton terdiam kaku. Banyak di antara mereka malah asyik berjoget mengikuti hentakan musik. Raungan vokal, distorsi gitar, cabikan bass, dan hentakan drum semakin melengkapi malam Minggu di Stadion Siliwangi. Untung saja ada deretan bintang tamu yang dihadirkan sanggup mengobati kecewa. Kalau tidak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Meira Suryana)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16572065-116143209369174871?l=encoremagz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://encoremagz.blogspot.com/feeds/116143209369174871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16572065&amp;postID=116143209369174871' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116143209369174871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16572065/posts/default/116143209369174871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://encoremagz.blogspot.com/2006/10/la-lights-indie-fest-panggung-indie.html' title='LA LIGHTS INDIE FEST: Panggung Indie Yang Ragu'/><author><name>devishanty</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
