Where you can get Encore Magz with free!
Jakarta :
Kansas UI, crooz, error, nanonine, cafe Au Lait, RuangRupa, Cilandak Town Square, Ak'sara, gummo, bloop
Bandung :
347, airplane, soho, ouval, riotic, rocknrollhaircut, rumahbuku, cafeohlala, monik, illustre, arena, dloops, evil, wdzg, entrance, invictus, cosmic, ommonium, disctarra, circlek, tobucil, flashy, zoebookstore, unpad, unpar, anonim, disconnect, evil, let's shop, frontyard, cafehalaman
encore magz juga bisa didapatkan di: Bali, Jogjakarta, Semarang, dan Makasar!
your comments, band demo or you want to place ur ad, contact us :
Jl. Gama no.8 Cigadung Bandung 40191
Phone : (022) 91294696
Email : encore.magz@gmail.com
http://friendster.com/encoremagz
http://myspace.com/encore_magz
THE CELEBRATION (FESTEN) Thomas Vintenberg, Denmark/Sweden, 1998, VHS, 105 min.
Pernah mengalami ini: harus datang ke reuni keluarga besar yang sebenarnya kita tidak pengen ada di sana? Acara di mana kita harus bersikap sempurna, mengangguk sopan ketika orang-orang tua memberi wejangan yang tak perlu, dan terpaksa senyum meski joke yang dilontarkan sama sekali tidak lucu? Lebih parah lagi, seseorang membuka aib si empunya acara di depan para tamu. Rasanya pengen cepat-cepat pulang, tapi bahkan kunci mobil kita pun hilang entah ke mana.
Menonton film The Celebration terasa seperti itu. Kalimat di salah satu adegan, "...every family has a secret..." bisa jadi benar, tapi rahasia sialan macam apa yang pantas dibeberkan di depan seluruh anggota keluarga, justru di tengah jamuan makan malam yang seru dan denting gelas anggur yang beradu?
Thomas Vinterberg berhasil mengembangkan basis cerita keluarga yang berpotensi klise, menjadi narasi gelap, liar, dan meletup-letup. Akting natural dan spontanitas para pemain membuat kejujuran itu terasa dahsyat. Ini karya pertama gerakan DOGME 95 (dan bisa jadi yang terbaik), yakni ideologi membuat film dengan beberapa aturan ketat yang sekilas tampak "merepotkan": kamera harus hand-held, tidak boleh ada cahaya buatan, lokasi syuting harus natural, dsb.
Namun batasan-batasan itu justru mengoptimalkan kekuatan film ini. Resolusi video yang kasar, gerakan kamera bergoyang-goyang, sukses menggambarkan suasana pesta sesungguhnya. Jauh dari cara syuting artifisial yang berusaha tampil sempurna. Musik pengiring pesta yang direkam langsung di lokasi, juga tampang putus asa pembawa acara yang berusaha tetap tersenyum di tengah kekacauan, benar-benar menambah absurditas suasana.
Ini film aneh yang asyik, atau film asyik yang aneh. Dia tak sekadar merayakan pesta, tapi lebih ke sebuah perlawanan, pemaknaan baru arti sinema. Film tidak lagi dianggap "high art": dengan video berkualitas rendah pun, kualitas cerita tetap bisa digeber. Meski kelak gerakan ini bisa jadi punah juga, setidaknya para pencetus DOGME 95 itu pernah mencoba. Angkat gelas kamu, mari bersulang untuk usaha mereka.
(Budi Warsita)