Where you can get Encore Magz with free!
Jakarta :
Kansas UI, crooz, error, nanonine, cafe Au Lait, RuangRupa, Cilandak Town Square, Ak'sara, gummo, bloop
Bandung :
347, airplane, soho, ouval, riotic, rocknrollhaircut, rumahbuku, cafeohlala, monik, illustre, arena, dloops, evil, wdzg, entrance, invictus, cosmic, ommonium, disctarra, circlek, tobucil, flashy, zoebookstore, unpad, unpar, anonim, disconnect, evil, let's shop, frontyard, cafehalaman
encore magz juga bisa didapatkan di: Bali, Jogjakarta, Semarang, dan Makasar!
your comments, band demo or you want to place ur ad, contact us :
Jl. Gama no.8 Cigadung Bandung 40191
Phone : (022) 91294696
Email : encore.magz@gmail.com
http://friendster.com/encoremagz
http://myspace.com/encore_magz
Artist : JellyBelly
Demo : Intro EP
Styles : Shoegaze, Dream PopPertama kali saya melihat band ini adalah di sebuah audisi festival band kampus di Bandung, dimana saya kebetulan menjadi salah satu jurinya. Back then they were doing covers from bands like Sleepers and Drugstore; they're quite good actually. Kali ini mereka muncul dengan sebuah demo yang berisikan materi-materi yang mereka tulis sendiri, which are pretty much surprising coz they've changed a lot.
JellyBelly meninggalkan roots brit-pop dan indie-pop yang dulu menjadi ciri khas mereka. They're now moving on with more delicate direction of sonic guitar sound, dream pop-esque vocals, and whirling keyboard synth.
Sebuah track instrumental yang diberi tajuk "Intro", menjadi pembuka demo ini dengan sampling environment dan petikan gitar yang lembut tipikal shoegaze, hingga kemudian temponya berubah secara absurd dan spontan mengingatkan kita pada pendekatan yang seringkali digunakan oleh Explosions In The Sky.
"Cahaya Hilang" terdengar seperti sebuah reprise dari track pembuka, hanya saja jeda yang terlalu lama membuatnya menjadi kehilangan momentum. This one sounds like The Milo meets Cherry Bombshell. Track-track berikutnya menawarkan konsep yang relatif sama tanpa keunikan tertentu, making listeners a little bit lost between songs. Di track "Perih" akhirnya mereka menawarkan komposisi yang lebih menarik, beat yang sedikit naik dan riff gitar yang mengingatkan kita pada Echo And The Bunnymen, cukup membangkitkan minat pendengar.
Demo diakhiri dengan "Loneliness Dreamer" yang nampaknya sangat terpengaruh oleh sound-sound My Bloody Valentine. Demo ini sebenarnya bisa lebih baik lagi jika saja produksinya ditangani lebih serius, kualitas mixing-nya terdengar pincang disana-sini belum lagi permainan drum yang sesekali keluar dari temponya.
Banyak elemen yang menarik di demo ini, seperti sound gitar dan atmosfir yang diciptakannya, hanya saja lagu-lagunya terdengar seperti tematik dan berasal dari satu ide yang sama untuk kemudian dibuat beberapa versi. Nada-nada vokal yang monoton dan range yang kurang variatif menjadikan demo ini terkesan 'dingin' dan tidak begitu meninggalkan kesan.
(eko)