Where you can get Encore Magz with free!
Jakarta :
Kansas UI, crooz, error, nanonine, cafe Au Lait, RuangRupa, Cilandak Town Square, Ak'sara, gummo, bloop
Bandung :
347, airplane, soho, ouval, riotic, rocknrollhaircut, rumahbuku, cafeohlala, monik, illustre, arena, dloops, evil, wdzg, entrance, invictus, cosmic, ommonium, disctarra, circlek, tobucil, flashy, zoebookstore, unpad, unpar, anonim, disconnect, evil, let's shop, frontyard, cafehalaman
encore magz juga bisa didapatkan di: Bali, Jogjakarta, Semarang, dan Makasar!
your comments, band demo or you want to place ur ad, contact us :
Jl. Gama no.8 Cigadung Bandung 40191
Phone : (022) 91294696
Email : encore.magz@gmail.com
http://friendster.com/encoremagz
http://myspace.com/encore_magz
LA LIGHTS INDIE FEST: Panggung Indie Yang RaguTersebutlah sebuah ajang adu bakat band yang pada akhirnya malah berubah menjadi komedi. Bagaimana tidak mengundang tawa? Pertama, pilihan nama bandnya saja ngasal. Kayaknya anak TK masih bisa lebih bagus memilih nama, deh. Kedua, dandanan sok punk yang sama sekali tidak pantas karena malah menjadikan mereka mirip dengan badut. Hhhhhffff!
Dan ternyata semua "kegagalan" tadi tidak menyurutkan LA LIGHTS untuk menggelar ajang yang serupa tapi tak sama. Kali ini yang berlaga adalah mereka yang bergerak di jalur bawah tanah alias indie. Hari ini indie memang telah berubah menjadi sebuah industri yang menggiurkan. Tiga kota pun menjadi awal perlombaan ini, Bandung, Jogja, dan Surabaya.
Di Bandung, kabarnya ada dua ribu band yang mengirimkan demo tape pada masing-masing radio. Antusiasme yang tidak mengherankan, mengingat dari kota inilah, indie bermula.
Dan Sabtu (29/7) kemarin, setelah melewati proses seleksi dan voting sms, digelar final regional untuk kawasan Bandung. Stadion Siliwangi tempat Persib bertanding jadi saksi bisu festival indie malam itu. The big question is, apakah festival ini akan berakhir seperti ajang adu band tadi atau malah akan menjadi fenomena yang menyegarkan telinga dan mata kita?
Lebih dari lima panggung dan belasan stand didirikan di festival ini. Panggung utama sendiri berjumlah tiga buah yang dibuat dalam satu baris. Sementara radio, distro, penjual makanan dan minuman mengisi stand-stand yang disediakan. Hmm, tatanan seperti ini sedikit mengingatkan saya pada sebuah festival musik lain. Penonton pun tersebar di berbagai area. Ada yang hanya duduk-duduk saja di pinggir lapangan, tak sedikit pula yang memilih berkeliling mengitari stand-stand.
Panggung sebelah kiri pertama kali diisi oleh band C-Cord. Wah ternyata musik yang dibawakan ternyata tidak terlalu indie, malahan agak berbau mainstream. Untungnya setelah itu, Hollywood Nobody hadir menjadi penyelamat. Mereka tampil di panggung sebelah kanan dan musik yang dibawakan sedap sekali. Dian yang tampil classy malam itu, benar-benar membuai dengan suaranya. Semangat personel lainnya di panggung pun semakin melengkapi aliran Bosanova yang mereka mainkan.
Perfect Angel, The Rinos, The Thirteen pun didaulat tampil selanjutnya. Yah, musik yang dibawakan tampak biasa saja. Saya pikir, di festival ini saya akan banyak menemukan band indie dengan sound baru yang refreshing. Apalagi di tengah festival tiba-tiba hadir sebuah band pengisi soundtrack so-called-girl-power-movie. Haaa! Saya pun tak tahan memaki! Maksudnya apa, sih? Aarrgh.
Giliran band Revival yang mengisi panggung. Ditilik dari namanya, "revival" berarti pembaharuan, tapi aliran musik yang dibawakan sama sekali tidak baru. Hip metal yang trend beberapa tahun silam jadi pilihan mereka. Teriakan dan nada yang dibawakan pun terdengar seperi Linkin Park disatukan dengan Limp Bizkit. Setelah itu Crave pun muncul. Hmm, lagu yang dibawakan kok seperti lagu "Have Fun Go Mad" ya? Hhhfff.. semakin lama aura ajang band mimpi itu semakin terasa.
Syukurlah, ada tamu dari jauh yang ikut meramaikan festival ini. Yeah, it's Edson. Penonton pun langsung menyeruak ke depan panggung. Tidak usah ditanyakan lagi, penampilan Pelle dan Hendrik benar-benar spektakuler. Kendala bahasa tak jadi soal bagi Pelle. Dia tetap tersenyum dan bernyanyi merdu. Begitu pula ketika beberapa penonton norak berteriak mengeluarkan kata-kata kasar, hell they don't care. Hahaha.. karena mereka pun tidak mengerti, jadi tidak ada masalah.
Suara Pelle yang jernih membuat banyak penonton berteriak histeris sambil sesekali bernyanyi. Hendrik pun tak kalah memesona. Apalagi ketika ia memamerkan keahliannya memainkan drum and bass at one time. Definitely not dumb and bass! Riuh tepuk tangan penonton semakin ramai ketika lagu "Sunday Lovely Sunday" dan "I Wanna be Alone" dibawakan.
What a lovely surprise, it's Arina dan Rico from Mocca comin to the stage and sings together. Damn! Sungguh sebuah malam yang menyenangkan. Ah rasanya 45 menit penampilan Edson di panggung kemarin belumlah cukup. We want more..
Giliran trio elektrik dari ibu kota yang menyengat panggung. It's the fabulous Goodnight Electric. Wah kalau yang satu ini tidak usah ditanya lagi. Dentuman bunyi synthe yang ciamik, membuat ratusan penonton tak segan berdansa. Hei this is not the ussual dance. Mereka berdansa mengikuti gerakan robot Oomleo, tepukan tangan Batman, dan acungan tangan Bondi. Lagu anyar "Solid Gold" dan "Versus" yang masih asing di telinga tak lantas mengenyahkan semangat penonton. Dan penonton pun berteriak "With you I'll be forever drunk!"
Panggung kembali diisi oleh para finalis festival. Kali ini, band rock and roll Vincent Vega yang tampil. Lumayan dikenal oleh scene musik indie di Bandung, membuat banyak orang menjagokan band ini. Lagu kojo "Shane" pun tampak tidak asing di telinga penonton yang hadir.
Hei! Siapa itu, sekumpulan pria berbaju KORPRI naik panggung. Ternyata itu adalah Pegawai Negeri, finalis lainnya. Hahaha quite catchy, dude! The Wax hadir sebagai penampil berikutnya. Sempet terdengar kesalahan teknis tapi toh tidak terlalu berpengaruh pada performa mereka.
Last but not least. Ini dia band terakhir yang menjadi finalis LA LIGHTS Indie Fest, 70's Orgasm. Kalimat bijak yang bilang "Makin tua, makin menjadi" seems to be a perfect line for them. Permainan musik 70's Orgasm benar-benar rapih dan enak didengar. Rio dan kawan-kawan tampil tenang tanpa banyak bicara. Musik merekalah yang berbicara lantang. Wow! Semua personel bertopi dan saya pun mengangkat topi untuk penampilan mereka.
Puncak acara semakin dekat. Karena The S.I.G.I.T yang jadi penutup festival indie ini sudah bersiap tampil di panggung sebelah kiri. Rekti yang memakai sorban merah putih, langsung disoraki oleh penonton yang sedari tadi memang menunggu penampilan mereka. "Damned Woman", "Black Amplifier", dan lagu-lagu lainnya dimainkan total oleh empat personel The S.I.G.I.T. Angin dingin yang menusuk tulang tidak membuat penonton terdiam kaku. Banyak di antara mereka malah asyik berjoget mengikuti hentakan musik. Raungan vokal, distorsi gitar, cabikan bass, dan hentakan drum semakin melengkapi malam Minggu di Stadion Siliwangi. Untung saja ada deretan bintang tamu yang dihadirkan sanggup mengobati kecewa. Kalau tidak..
(Meira Suryana)