Les Voila RockKalau ditanya apa gelaran musik yang paling happening sekaligus ditunggu-tunggu di kota Bandung, mungkin jawaban yang akan keluar dari mulut sebagian orang adalah Les Voila. Dan kini dia kembali lewat Les Voila Rock Edition.
Antusiasme orang Bandung untuk menikmati Les Voila memang tak ada habisnya. Harga tiket sebesar sepuluh ribu rupiah yang dipasang panitia, tidak menyurutkan niat mereka menonton Les Voila. Beberapa hari sebelum acara digelar, saya bahkan sempat menguping percakapan seru antar tiga cowok di sebuah angkot mengenai Les Voila. Isinya apalagi kalau bukan rencana mereka menonton The Brandals yang menjadi salah satu pengisi acara.
CCF yang ada di kawasan Purnawarman kembali dipenuhi orang-orang Sabtu (26/8) kemarin. Padahal gate baru dibuka sekira pukul delapan malam, tapi penonton sudah mengantre sampai tempat penjualan tiket dari pukul tujuh malam. Beberapa orang malah terlihat memasang muka kecewa karena kehabisan tiket. Yaa... too bad, guys!
Pukul delapan teng, band garage rock asal Jakarta yaitu The Brandals membuka Les Voila. Biasanya penonton menikmati pertunjukkan sambil duduk-duduk kalem, tapi sekarang hampir semua penonton (apalagi cowok) memilih berdiri sambil berjingkrak mengikuti raungan musik dari Eka, Rully, Toni, Dodi, dan Bayu.
Jaket kulit dan celana ketat khas rock and roll tidak ada dalam kamus The Brandals malam itu. Malahan Eka berdandan cantik, memakai wig pirang dan memakai baju kembang-kembang yang feminim. Personel yang lain pun tak ingin kalah gaya memakai syal bulu dan bermake-up menor. Tapi tentunya, The Brandals enggak lantas jadi cemen. Mereka tetep gagah membakar semangat penonton Les Voila. Eka malah sempat moshing dan diarak penonton kembali ke panggung. Pffuiiiih, The Brandals malam itu benar-benar tampil kencang persis seperti lagunya yang berjudul "100 km/jam".
Selanjutnya masih dari kota yang sama, tampil United by Haircut. Lima anak muda ini tampil preppy dengan balutan kemeja putih dan kaus hitam. Saat MC mengumumkan nama mereka sebagai penampil selanjutnya, banyak penonton yang langsung menyeruak maju ke depan panggung. Tak salah juga sih, permainan musik Antya dan kawan-kawan memang menawan. Kesalahan teknis seperti sound keyboard dan gitar yang tiba-tiba mati, tidak membuat mereka mati gaya. Karena Kas (vox) lumayan komunikatif. Lagu terakhir "Benefit (being a rabbit)" bahkan dibawakan medley dalam dua versi berbeda. Cool!
"The Experience teh band mana?" tanya seorang musisi indie pada temannya yang dijawab dengan gelengan kepala. Eits, jangan salah! Meskipun masih asing di telinga, tapi lagi-lagi penonton Les Voila menggoyangkan kepala dan kaki mengikuti irama musik The Experience. Di akhir lagunya, salah seorang personel sempat memainkan gitar dengan giginya. Aksi ini pun tak pelak mendapatkan teriakan penonton, hehehe...I'm sure this band's gonna be something someday...
Di luar, saya sempat bertemu dengan dua sejoli Nasta dan Batman Goodnight Electric. Mereka mengaku datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung demi menonton sebuah band. Well, siapa lagi kalau bukan Teenage Death Star! Belum apa-apa, band yang dikawal oleh para "nenek moyang" indie kota Bandung ini sudah mengundang lebih banyak teriakan histeris. Tidak ada Iyo malam itu, tapi tetap saja Teenage Death Star sukses membuat Les Voila semakin bergairah. Keringat membasahi sekujur tubuh Alvin yang tampil total memainkan gitarnya. Stand mic yang rusak langsung diganti dengan tangan panitia yang menyodorkan mic untuk Alvin. Di lagu terakhir yaitu "Teenage Death Star", mic sempat mati, tapi tenang saja... puluhan penonton Les Voila tanpa dikomandani sudah bernyanyi mengikuti Acong!
Gemuruh musik Teenage Death Star membuat suhu udara di Auditorium CCF semakin panas dan keringat pun membasahi tubuh. Tapi itu semua tidak membuat penonton beranjak pergi dari sana, malahan dengan setia mereka menunggu bintang tamu terakhir yaitu Sendal Jepit yang menutup rangkaian Les Voila Rock Edition malam itu.
So, does Les Voila Rock Edition rock this time? I sure think so..
(Meira Suryana)