Where you can get Encore Magz with free!
Jakarta :
Kansas UI, crooz, error, nanonine, cafe Au Lait, RuangRupa, Cilandak Town Square, Ak'sara, gummo, bloop
Bandung :
347, airplane, soho, ouval, riotic, rocknrollhaircut, rumahbuku, cafeohlala, monik, illustre, arena, dloops, evil, wdzg, entrance, invictus, cosmic, ommonium, disctarra, circlek, tobucil, flashy, zoebookstore, unpad, unpar, anonim, disconnect, evil, let's shop, frontyard, cafehalaman
encore magz juga bisa didapatkan di: Bali, Jogjakarta, Semarang, dan Makasar!
your comments, band demo or you want to place ur ad, contact us :
Jl. Gama no.8 Cigadung Bandung 40191
Phone : (022) 91294696
Email : encore.magz@gmail.com
http://friendster.com/encoremagz
http://myspace.com/encore_magz
LUMIERE ET COMPAGNIE Various Directors. 1996. DVD, 88 min.
Tentang sinema, Lauren Bacall, aktris film-noir tahun 1940-an, pernah berkata, "The industry is shit, it's the medium that's great." Terdengar sedikit heroik memang, tapi apa boleh buat: dalam wacana sinema, persoalan medium selalu jadi perbincangan menarik. Setelah Louis dan Auguste Lumiere menemukan kamera film pertama di dunia pada tahun 1895, sejarah sinema pun dimulai.
Film Lumiere et compagnie ini adalah proyek sinting tentang penghormatan pada keajaiban gambar-hidup. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran sinema, 40 sutradara ternama dari berbagai belahan dunia ditantang membuat film pendek dengan kamera Cinematograph, yakni kamera sama yang juga dipakai Lumiere Bersaudara pada tahun 1895. Ada 3 aturan ketat: durasi film tak boleh lebih dari 52 detik, synchronized sound tidak diperbolehkan, dan maksimal hanya 3 kali take.
Hasilnya, tema-tema unik dengan pendekatan beragam. Zhang Yimou menyoroti pergeseran budaya yang tak terelakkan: di Tembok Raksasa Cina, sepasang pemain opera tradisional Peking menjelma musisi punk rock yang garang dan brutal. Wim Wenders kembali berfilsafat tentang kesunyian, menghadirkan malaikat dari film Wings of Desire yang merenungkan lanskap perkotaan dan masa silam. Spike Lee tampil humanis dengan merekam bayi perempuannya sedang belajar bicara, eksekusi yang nyaris gagal jika keberuntungan tak menghampiri di detik-detik terakhir. David Lynch lagi-lagi tampil "sakit" dengan gambar-gambar distorsi, yang tetap saja mengusik mata dan jiwa meski dalam shot hitam-putih sekalipun. Dan masih banyak lagi.
Dikemas dalam nuansa dokumenter, film ini juga menyajikan komentar para sutradara itu tentang pertanyaan esensial, "Why do you film?" dan "Is cinema mortal?" Kalau kamu penggemar rasa pedas, ini jenis rujak yang sangat tepat dan menantang. Jangan pernah mengaku moviefreak kalau belum menonton film ini. Highly recommended.
(Budi Warsito)