Where you can get Encore Magz with free!
Jakarta :
Kansas UI, crooz, error, nanonine, cafe Au Lait, RuangRupa, Cilandak Town Square, Ak'sara, gummo, bloop
Bandung :
347, airplane, soho, ouval, riotic, rocknrollhaircut, rumahbuku, cafeohlala, monik, illustre, arena, dloops, evil, wdzg, entrance, invictus, cosmic, ommonium, disctarra, circlek, tobucil, flashy, zoebookstore, unpad, unpar, anonim, disconnect, evil, let's shop, frontyard, cafehalaman
encore magz juga bisa didapatkan di: Bali, Jogjakarta, Semarang, dan Makasar!
your comments, band demo or you want to place ur ad, contact us :
Jl. Gama no.8 Cigadung Bandung 40191
Phone : (022) 91294696
Email : encore.magz@gmail.com
http://friendster.com/encoremagz
http://myspace.com/encore_magz
Artist : The Adams
Album : v2.05
Released : 2006
Label : Aksara Records
Styles : Rock, Pop Alternative, Progressive, RetroAlbum kedua dari The Adams yang menjadi follow up dari debut mereka yang sukses mengukuhkan keberadaan band ini di kancah musik Indie Indonesia. Throughout the year, band asal Jakarta ini telah mengalami perombakan personel yang cukup radikal, yang mana saat ini hanya tinggal Ario dan Ale yang tersisa dari formasi awal. The impact would be most predictable. Ya, perubahan yang signifikan dalam sound dan ritme dengan pergantian bassist, drummer, serta direkrutnya seorang pemain keyboard.
Harmonisasi vokal menjadi fitur andalan di album kedua yang diproduseri sendiri oleh Ario Hendrawan dan The Adams ini. Vocal choir may not be a very common selling point for an indie band, tapi harmoni yang mereka hasilkan cukup baik dan akan mambawa kita bernostalgia dengan The Beach Boys (they even hired a vocal corrector to get the job done).
v2.05 diawali dengan sebuah track instrumental yang tidak bisa dibilang sebagai sebuah intro mengingat track yang bertajuk "Pahlawan Lokal" ini terkesan berdiri sendiri dan tidak membangun momentum tertentu bagi track selanjutnya. Terdengar warna lain dari The Adams yang sekilas mengingatkan kita pada pendekatan-pendekatan progressive macam Genesis, Yes, dan bahkan Iron Maiden.
Di "Selamat Pagi Juwita" kita mulai disuguhi dengan harmoni dan melodi keyboard yang kuat, menjadikan tembang ini layak menjadi salah satu stand-out track di album ini. "Halo Beni" yang sekaligus menjadi comeback single The Adams, menyuguhkan riff gitar yang ear-catching dengan bassline yang minimalis namun cukup enak didengar, their most catchy tunes (but what's with that "Oh crazy" part?).
Track berikutnya "Lega" menggunakan time signature 5/8 yang cukup menarik perhatian karena diimplementasikan pada lagu yang cenderung mellow, nice backing vocals on chorus. Another instrumental piece "15/8" (it's probably the time signature) adalah track yang paling unik dan beda di album ini. Time signature ganjil lagi-lagi digunakan untuk menambahkan sentuhan progressive rock yang mengiringi duet permainan gitar harmonic Ario dan Ale.
Track "Gelisah" yang bernuansa retro terasa lebih menghanyutkan dengan gaya vokal Ario yang 'seadanya' mengingatkan kita pada lagu-lagu lawas Indonesia era 70an.
"Berwisata" menjadi showcase kemampuan harmonisasi vokal The Adams dengan pembagian suara yang sangat rapi dalam bentuk a cappella yang sedikit bernuansa mambo, membuat kita berharap tembang ini beralun lebih lama lagi.
Di "Hanya Kau", bayang-bayang Weezer mulai terdengar dan kali ini bukan saja pada sound tapi juga dari struktur dan progresi lagunya sendiri, bahkan Ale yang di track ini mengambil tugas lead pun menyelipkan sedikit "oo-hoo" khas Weezer. Terlepas dari sebuah kesengajaan atau tidak, entah kenapa track-track selanjutnya bahkan semakin mengingatkan kita pada Blue Album yang legendaris itu, kita seakan dibawa bernostalgia pada track-track seperti "Holiday", "No One Else", dan "Surf Wax America".
Secara keseluruhan, track-track awal v2.05 telah berhasil menyajikan identitas baru The Adams yang cukup menarik. Harmonisasi vokal yang sangat baik, penggunaan time signature ganjil, dan suasana retro yang khas menjadikan album ini terasa kaya. Namun entah kenapa di track-track akhir, this album sounded more like a rip-off job to me. Mungkin bisa dibilang album ini adalah masa transisi bagi The Adams menuju karakter yang lebih original dan unik dari sebelumnya. Even though it's not a classic, but this album showcases some innovative ideas that never been tried before in our indie music scene, and it is well produced. Hope the next one would be much better.
(eko)