Sar*: "I'm loud, rude, vulgar, violent, I just don't give a fuck!"Langit mendung menggantung di Jakarta, disertai hawa panas dan lembab. Hmm, sungguh tidak nyaman sekali. Alih-alih keluar rumah, mungkin kebanyakan orang lebih memilih untuk berleha-leha di rumah. Tapi tidak demikian dengan saya. Ada janji penting dengan seorang perempuan belia yang tidak bisa dilewatkan.
Selasa (31/10), sekira pukul dua siang, kami bertemu di ak'sara bookstore and cafe, Kemang. Perempuan kurus berkulit putih pucat itu datang bersama teman-temannya, rambutnya yang coklat panjang dan ber-highlight pink dihiasi jepit Hello Kitty mengintip dari sela-sela capuchon birunya.
Hello Kitty? Ya, kamu tidak salah baca. Perempuan yang dikenal sebagai vokalis band hardcore Jakarta ini, memang penggemar berat segala pernik bernuansa Hello Kitty. Hei, selalu ada sisi lembut di dalam jiwa yang gahar bukan! Hahaha.
Kepalanya menunduk terus menerus dan dengan ringan dia menjatuhkan badannya di sofa. Dia memilih untuk duduk di ujung yang berjauhan dengan saya. Sesaat saya bingung dengan perilakunya ini, "Apakah dia sedang bad mood?" pikir saya. Lalu saya pun bertanya apakah dia ingin memesan makanan atau minuman. Kepalanya menengok sedikit ke arah saya, lalu dia menjawab malu-malu, "Enggak." Dan dia pun kembali menunduk, aneh sekali..
Notes dan tape recorder pun saya keluarkan dari tas, ternyata dia mengerti isyarat saya, (bahwa wawancara akan segera dimulai) dan dia langsung duduk tegak. Saya meminta dia mengisi biodata di notes saya, hmm.. ternyata dia kidal.
Sar* Ashley Benett. Demikian dia menulis namanya di notes saya, ya lengkap dengan tanda bintang di atasnya. "It is actually a tribute for my friend, his real name is Star and he died two years ago because of drugs overdose," ujar perempuan indo Australia ini. Okay..
Mungkin ini juga yang membuat Sar* memilih untuk hidup straight edge. Yang jelas, Sar* tidak suka memanggil dirinya sebagai seorang straight edge (sekalipun dia memang benar-benar tidak merokok, minum alkohol, apalagi drugs).
"I don't like calling myself that anymore, coz that a lot of kids in Jakarta who says that they are straight edge, tapi sekali-kali minum juga. Itu sih bukan straight edge!" tegas pengagum Jonathan Davis ini.
Anyway, jawaban di atas bukan hasil terjemahan asal-asalan saya. Sar* memang lebih nyaman mengobrol dengan bahasa Inggris. Gara-gara ini, Sar* sempat dicap sombong oleh sebagian orang. Apakah benar seorang Sar* tidak mau berbicara dalam bahasa Indonesia?
"No. That's not true!" tegas Sar* agak terkejut dengan nada tinggi.
Alasannya, menurut alumni Jakarta International School, bahasa ibunya memang bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya benar-benar parah. Padahal menurut pengakuannya, hidup Sar* lebih banyak dihabiskan di Indonesia.
"When I first started with DEADMAYA, sometimes we don't understand each other. But I talk to everyone, even if they don't talk English."
Sar* mengaku sangat pemalu, bahkan pada saat dia masih bersekolah, dia sering merasa dirinya adalah orang aneh. "I'm really quite and shy, there wasn't many people like me. I was one of the very few people who listen to some certain of music, suka ngeband, and I dress differently. And because of that, people don't talk to me. They thought I was weird."
Hmm. Let me see, ..some certain of music.. mungkin yang dimaksud Sar* adalah musik metal yang sering ia dengarkan. Tenang aja, Sar*.. kamu enggak sendirian koq, banyak juga orang lain yang mendengarkan musik metal seperti kamu.
Perceraian orang tuanya sekira satu setengah tahun juga sedikit banyak membuat Sar* terpukul dan semakin pendiam. "Kejadian itu adalah salah satu hal yang paling suck dalam hidup saya," katanya. Untungnya, Sar* bertemu dengan Angga, Andika, dan Rino untuk kemudian membuat sebuah band bernama DEADMAYA yang diakui Sar* sangat mempengaruhi hidupnya.
"I go through all of that (perceraian, Red) with writing music a lot. Kalau tidak ada band saya, mungkin saya tidak akan bisa mengontrol situasi di sekitar saya. I wouldn't be happy."
Adalah kakaknya, Didit, yang bertanggung jawab atas kecintaan Sar* terhadap musik metal. "Waktu kecil, kakak saya yang mencekoki saya dengan Nirvana, Beastie Boys dll. Dia juga ngeband, he was a drummer. Saya pernah lihat dia manggung di Dufan dan saya benar-benar terpesona, I was just like 'Wow! I wanna be like him someday!' hehehe.."
Meskipun mengaku cinta dengan musik metal, saat ini Sar* sedang suka-sukanya dengan bunyi-bunyian synthesizer alias elektronic, Goodnight Electric adalah salah satu band elektronik kesukaannya. Mendengar ini, saya pun menanyakan sebuah pilihan, apakah dia lebih memilih electronic-pop boy or hardcore metal boy as a boyfriend. Muka Sar* mendadak memerah dan sambil tertawa lepas ia menjawab lugas, "I don't know! It depends on the guy, not the type of music that he plays. Hahaha.."
Lalu saya menawarkan pilihan yang lebih jelas, antara Bob Marley dan Mick Jagger. Sar* terdiam beberapa saat, lalu dia pun menjawab, "Bob Marley because.. No, I pick Mick Jagger because he is sexy. But then if Mick Jagger can have Bob Marley's attitude, hmm.. I think that's a perfect man."
Dalam wawancara, Sar* berkali-kali menyebut dirinya sebagai geek. Tapi sekarang, Sar* mengaku dirinya banyak berubah. Apalagi ketika berada di atas panggung bersama DEADMAYA, she's tottally change.
"I'm a different person at stage. I'm loud, rude, vulgar, violent, I just like.. don't give a fuck."
Tapi Sar* tetap seorang pemalu. Buktinya, Sar* lebih nyaman menyanyi dengan poni terurai menutupi mata. "First time I perform I was just like so nervous, so you know I just like.. close your eyes so you don't see everyone. I don't know, but it helps and it is the way I'm on stage!"
Nah, buat kamu, laki-laki di luar sana yang belum sempat melihat aksi Sar* di panggung, maka segeralah datangi gigs DEADMAYA di manapun berada. Karena, sebentar lagi, Sar* akan pergi ke Australia untuk kuliah. Wah, lalu gimana dengan DEADMAYA?
"I don't know.." ucapnya pasrah dengan mimik muka yang lucu.
"..well, I'm not really sure, I'm leaving to Australia because my dad wants me to go to university there. But if I don't like there, I could still come back here. DEADMAYA akan selalu ada. Hanya vakum sebentar saja," urai penggemar Bakmi Ayam Gajah Mada ini. Pffuuiih, thank's God.
Sesaat setelah wawancara berakhir, Sar* sempat memekik kegirangan ketika mendengar dari Rino (drummer DEADMAYA) mengenai gigs mereka selanjutnya di Bandung, di mana rencananya mereka akan satu panggung dengan Tika. "Oh my God, saya suka Tika!" ucapnya. Saya hanya bisa tertawa melihat Sar* yang pemalu mendadak seperti ABG yang kegirangan bertemu idola. Ternyata, di balik musik kerasnya, Sar* masih tetap seorang remaja..
*special thanks to Sazki and Saleh.
(Astrid)