VINCENT VEGADari wawancara dengan beberapa band, nama Vincent Vega berulang kali naik ke permukaan ketika kami menanyakan band baru mana yang akan naik daun. Berbekal rasa penasaran, saya pun mewawancarai band yang selalu tampil rapi di panggung itu.
Di suatu sore, di warung dekat SMA 5 diselipi ngaret sampai setengah jam, saya pun mewawancarai Ariel, Rangga, Agung, Fikri dan M.S.N . Sampai beberapa menit wawancara saya masih meraba-raba karakter para pengisi band ini. Untung akhirnya dengan bantuan kanan-kiri saya bisa menyesuaikan ritme. Obrolan kami jadi memanjang dan melebar. Sebagian isinya, saya tuliskan di sini.
NCR : Gimana sejarah terbentuknya Vincent Vega?
VV : Kita temen SMA, satu tempat nangkring lah ya. Jadi kita bikin band aja.
NCR : Apa yang kalian harapkan muncul di pikiran orang saat mereka mendengar nama Vincent Vega?
VV : Energi positif. Ini berhubungan dengan purpose of existence band itu sendiri. Jadi kita bertujuan untuk memberikan positive impact bagi masyarakat sekitar
NCR : Nama Vincent Vega kan dari Pulp Fiction. Kenapa memilih nama ini?
VV : Karena dia John Travolta, karena dia gagah, karena dia keren. Pokoknya karakternya bagus, kalau udah nonton Pulp Fiction pasti ngerti lah.
NCR : Ikut kompilasi indie fest kan? Gimana kelanjutannya?
VV : Udah direkam, tinggal produksi CD.
NCR : Album pribadi kalian sendiri gimana?
VV : Sebelum Indie Fest sebenarnya kita udah mau bikin EP. Tapi karena ikut indie fest jadi bakal nunggu samapai promonya selesai, sekitar awal tahun depan.
NCR : Dengan label apa?
VV : Siapapun. Demo kita sendiri cuma ada di Fast Forward dan katanya harus ngantri.
NCR : Di beberapa majalah kalian dibandingkan dengan The Changcuters, pendapat kalian gimana?
VV : Terima kasih atas perbandingannya. Cukup sekian.
NCR : Sewaktu saya bertanya ke beberapa orang tentang kalian, banyak jawaban yang menyatakan kalau kalian sombong, nyebelin. Kenapa bisa muncul pendapat seperti itu?
VV : Tak kenal maka tak sayang. Dibalikin deh pertanyaannya, emang band kayak apa yang disebut sombong? Yang menyambut dengan baik pewawancara? Atau apa?
NCR : Mungkin dari jawaban kali, ya? Karena kalian katanya suka memberikan jawaban pendek dan seenaknya.
VV : Balik lagi ke konteks pertanyaannya sih. Kalo pertanyaannya bisa dijawab dengan pendek dan nggak bertele-tele, kenapa harus panjang? Jadi kalau muncul pertanyaan kenapa namanya Vincent Vega? Itu kan nggak perlu dijawab panjang. Kalau jurnalis yang baik, sebelum wawancara udah nyari tau backgroundnya dulu.
NCR : Kenapa sih kalian memakai kostum di panggung?
VV : Biar enak dilihat. Enak dipake dan nyaman aja.
NCR : gaya bernyanyi vokalisnya kenapa mumbles gitu?
VV : Yah, tidak ada sesuatu yang disengaja atau diset seperti itu. Keluar apa adanya.
NCR : Kenapa liriknya semua dalam bahasa Inggris?
VV : Lebih mudah berwacana yah dalam bahasa Inggris. Membuat lirik bahasa Indonesia lebih susah.
NCR : Ada rencana berkolaborasi?
VV : Di EP nanti ada, dengan band elektronik dan female vocal
NCR :Pengaruh musik kalian dari siapa aja?
VV : At The-Drive in, Interpol, Bjork, Bloc Party, masih banyak lagi lah. Masing-masing pribadi beda sih.
NCR : Kalau musik kalian sendiri bisa digambarkan seperti apa?
VV : Bitter noises that bring sweet memories. Hmm..Apa lagi ya? Berdistorsi, romantis, nggak belah pinggir dan teriak-teriak.
NCR : Duh, mau nanya apa lagi ya? (sumpah saya bingung)
VV : Kamu nonton Almost Famous dulu deh, terus nonton Nacho Libre. Pasti kamu langsung jadi jurnalis hebat lah. Eh, tapi kenapa ya selalu ada pertanyaan tentang Changcuters ya? Emang dari semua variabel sebuah band, apa yang bikin kita mirip Changcuters sih?
NCR : Lirik Vincent Vega kebanyakan bercerita tentang apa?
VV : Semua lirik, judulnya sampai sekarang masih nama seseorang. Jadi saya selalu bercerita tentang karakter spesifik seseorang.
NCR : Katanya sempat kehilangan alat, itu gimana ceritanya?
VV : Itu udah lama sih, sekitar bulan Juli yang lalu. Alatnya kan kita letakin di mobil, di depan rumah temen kita. Trus mobilnya dibongkar, alat kita ilang deh. Ditambah lagi abis itu ada kesialan beruntun. Ada yang otot tangannya robek, kehilangan motor, kehilangan mobil, trus semua gadget saya (Ariel) rusak. Makanya nih, bulan depan kita mau tumpengan. Untuk mengakhiri kesialan, semoga!
NCR : Panggung paling nyebelin di mana?
VV : Di acara SMA 16. Itu juga gak terlalu sih, Cuma gara-gara ada penonton yang nge-request PAS Band, waktu saya lagi intro gitar. Terus yang menyebalkan itu ya, sewaktu manggung di acaranya The Sigit, yang sesudah itu alat kita pada ilang itu.
Rekti The S.I.G.I.T yang kebetulan ada di lokasi wawancara, ikut mengobrol dengan kami.
Rekti : Jadi kamu nyalahin saya?
Ariel : Secara nggak langsung mah iya. Kalo nggak main di situ, nggak bakalan hilang.
VV : Yang paling standart bikin sebel sih masalah sound, servis orang sound nya sendiri kadang bikin bete. Sama kalau nge-cut lagu.
Rekti : Nambahin ya kalau masalah sound. Saya pernah pas mereka manggung, saya lagi ada di mixing desk. Di situ kan udah ada orang sound system yang megang, nah orang sound itu kebanyakan kalau ngeliat band indie yang main, mereka nggak terlalu peduli. Sampai soundman saya nanya kenapa nggak diulik sound-nya. Si Bapaknya ngejawab "Ngapainlah? Kalau mereka kayak band Ari Lasso, baru deh.."
Ariel : Iya, sebelnya itu.Ada diskriminasi gitu. Misalnya yah pernah kampus gue bikin acara, trus mereka punya budget kan buat band indie, nah masa’ budgetnya itu dikit banget.
VV : Iya, pernah juga pas di acara Om Farhan. Kita disepelekan gitu. Mulai dari pertanyaan sampai yang paling parah itu sound nya The Sigit. Kita dibilang band gombrang gombreng, dibandingin sama Krisdayanti.
NCR : Panggung paling menyenangkan?
VV : Acara Traxkustik kemaren di Jakarta.
VV : Oh, iya, mengomentari tulisan di Encore edisi 2 kemaren, Vincent Vega dibilang mirip The White Stripes, mirip di sebelah mananya?
NCR : Wah, itu mah pendapat penonton, bukan pendapat Encore. Kita mah nulisin aja…
VV : Jauh banget kayaknya. The White Stripes? Itu kan band baru banget (??). Nggak ada mirip-miripnya. Kaya' tadi sama Changcuters. Mirip di mananya sih?
(Kekeuh masih ngebahas Changcuters)
NCR : Eh, Vincent Vega mau nggak kalau ditawarin masuk Major?
VV : Kita mah nggak yakin bisa konsisten kalau di major. Tuntutannya gede ya. Tapi kalau kesepakatannya bisa pas ya mungkin aja
Rekti : Pas dalam artian?
VV : Tidak merugikan yang lainnya. Tapi nggak mungkin juga ya? Negara ini teh selera pasarnya masih gitu. Selama 10 sampe 20 tahun ke depan masih gini-gini aja. Garis antara major sama indie itu masih terlalu jomplang. Persepsi yang timbul sekarang bahwa di major lu nggak bakal bisa sebebas di indie. Padahal kalau di luar mah, itu biasa aja.
Rekti : Sekarang liatnya gini, dulu sebelum pergerakan indie naik kayak sekarang, yang namanya band indie diambil major, pasti didikte. Jadi major nggak bakal berani ngambil band yang aneh karena duitnya nggak ada.
NCR :Berarti indie aneh?
VV : Sampai sekarang masih dianggap begitu.
NCR : Yah, tapi apa kalian tidak mencoba berpikir positif bahwa musik kalian juga bisa menghasilkan uang?
Rekti : Ya, itu harus dibuktiin dulu.
NCR : Yah udah, buktiin dong!
VV + Rekti : Ya ini lagi berjuang!!
Ariel : Sebenarnya mind set nya orang-orang major itu bisa berubah koq. Dari zaman 10 tahun ke belakang sampai sekarang, udah banyak perubahan menurut gua. Tergantung pasar. Dan untuk membentuk selera pasar, support media perlu banget. Gimana pasar bisa suka kalau nggak di blow-up terus? Nggak dibahas secara massive?
Masih panjang sisa obrolan kami. Membahas Mods, Pancasila, dan muncul slogan "Biar Miskin Asal Rapi" sampai akhirnya saya ditanya "Gimana? Masih ngerasa kami sombong gak?"
Tapi jatah halaman terbatas. Sudahi saja di sini. Wawancara yang satu ini, cukup punya warna, walaupun tak selalu cerah. Setidaknya menyenangkan karena cukup banyak tawa di sini.
Oh, satu hal ketinggalan, Ariel bersikeras agar saya menuliskan kalimat "Pancasila itu waduk!" Yah, apapun lah..
*Terima kasih banyak buat Rekti dan Chacha yang melontarkan pertanyaan saat otak saya buntu.
(Adinda Silitonga)